Presiden Amerika Serikat mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, menyusul operasi militer gabungan yang dilakukan di ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu, 3 Januari 2026. Presiden AS menyatakan, “Semalam dan pagi ini, atas arahan saya, angkatan bersenjata Amerika Serikat melakukan operasi militer luar biasa di ibu kota Venezuela. Itu adalah operasi melawan benteng militer yang sangat kokoh di jantung Caracas untuk membawa diktator buronan Nicolás Maduro ke pengadilan.”
Maduro dan istrinya, Cilia Flores de Maduro, juga ditangkap. Keduanya kini akan menghadapi proses pengadilan pidana terkait dengan dakwaan tahun 2020 dari Departemen Kehakiman AS atas berbagai tuduhan federal, termasuk terorisme narkoba dan perdagangan narkoba.
Profil Nicolás Maduro: Dari Sopir Bus Menjadi Presiden Venezuela
Nicolás Maduro Moros lahir dari keluarga kelas pekerja pada 22 November 1962. Ayahnya adalah seorang pemimpin serikat pekerja. Perjalanan hidup Maduro sangat dipengaruhi oleh sosok Hugo Chávez. Ia pernah bekerja sebagai sopir bus dan aktif berkampanye untuk pembebasan Chávez dari penjara setelah upaya kudeta yang gagal pada tahun 1992. Maduro menjadi pendukung setia agenda sayap kiri Chávez.
Karier politik Maduro mulai menanjak setelah Chávez memenangi pemilihan pada tahun 1998. Ia kemudian memenangi kursi di parlemen dan kariernya semakin melejit ketika dipercaya menjadi Presiden Majelis Nasional. Peran penting lainnya adalah sebagai Menteri Luar Negeri, di mana ia berkeliling dunia untuk membangun aliansi internasional melalui program bantuan yang didanai minyak.
Hugo Chávez secara pribadi menunjuk Maduro sebagai penerusnya. Setelah kematian Chávez, Maduro terpilih sebagai presiden pada tahun 2013.
Masa Kepemimpinan yang Penuh Kontroversi
Masa kepemimpinan Maduro di Venezuela diwarnai oleh keruntuhan ekonomi yang spektakuler, ditandai oleh hiperinflasi dan kekurangan yang kronis. Pemerintahannya kerap dituduh melakukan kecurangan pemilu, menyebabkan kekurangan pangan, dan melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Penindakan keras terhadap para demonstran pada tahun 2014 dan 2017 menjadi sorotan internasional. Akibat krisis yang melanda, jutaan warga Venezuela terpaksa bermigrasi ke luar negeri.
Pemerintahan Maduro menjadi sasaran sanksi agresif dari Amerika Serikat dan negara-negara lainnya. Pada tahun 2020, Washington mendakwanya atas tuduhan korupsi dan berbagai tuduhan lainnya, yang selalu dibantah oleh Maduro.
Terpilih Kembali di Tengah Kontroversi Pemilu 2024
Maduro kembali terpilih sebagai presiden untuk periode ketiga dalam pemilihan umum tahun 2024. Namun, kemenangannya menuai kecaman dari pengamat internasional dan pihak oposisi yang menilai pemilu tersebut tidak jujur. Ribuan orang yang memprotes deklarasi kemenangan pemerintah dilaporkan dipenjara.
Sebuah misi pencarian fakta PBB menemukan bahwa Garda Nasional Bolivarian (GNB) Venezuela telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang serius selama lebih dari satu dekade, dengan menargetkan lawan politik. Tindakan represif pemerintahannya semakin disoroti ketika pemimpin oposisi, María Corina Machado, dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 2025.
Sederet Dakwaan Kriminal Terhadap Nicolás Maduro
Penangkapan Maduro oleh Amerika Serikat terjadi setelah operasi militer yang menargetkan Caracas. Pengadilan federal di New York membuka dakwaan baru yang menuduh Maduro terlibat dalam konspirasi terorisme narkoba, konspirasi impor kokain, dan pelanggaran senjata. Dakwaan ini tidak hanya ditujukan kepada Maduro, tetapi juga kepada pejabat senior Venezuela lainnya.
Jaksa Agung AS menyatakan bahwa Maduro dan istrinya akan segera menghadapi persidangan di pengadilan Amerika. Dalam dakwaan tersebut, disebutkan bahwa selama lebih dari 25 tahun, para pemimpin Venezuela telah menyalahgunakan posisi kepercayaan publik mereka dan merusak institusi yang sah demi mengimpor berton-ton kokain ke Amerika Serikat.
Dakwaan tersebut merinci bahwa sejak awal tahun 1999, Maduro dan terdakwa lainnya diduga telah bermitra dengan organisasi perdagangan narkoba internasional, termasuk Kartel Sinaloa Meksiko dan Zetas, kelompok teroris narkoba Kolombia, serta geng Tren de Aragua Venezuela, untuk mengirimkan narkoba ilegal ke AS. Laporan tersebut juga menyatakan bahwa elit politik dan militer Venezuela memperkaya diri mereka sendiri sambil memberikan perlindungan dan dukungan logistik kepada para traffickers narkoba.
Laporan tersebut juga merinci tindakan spesifik yang diduga dilakukan Maduro. Misalnya, disebutkan bahwa sekitar tahun 2006-2008, saat menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, Maduro diduga menjual paspor diplomatik Venezuela kepada para pengedar narkoba. Tujuannya adalah untuk membantu para pengedar yang berupaya memindahkan hasil penjualan narkoba dari Meksiko ke Venezuela dengan kedok diplomatik. Ia juga diduga memfasilitasi penerbangan pesawat pribadi dengan kedok diplomatik untuk membawa hasil penjualan narkoba dari Meksiko ke Venezuela.
Jaksa penuntut umum menduga bahwa Maduro telah bekerja sama dengan istrinya, Flores, selama bertahun-tahun untuk menyelundupkan kokain yang sebelumnya telah disita oleh penegak hukum Venezuela. Keluarga Maduro diduga memiliki geng-geng yang didukung negara untuk melindungi operasi mereka. Keluarga tersebut juga diduga memerintahkan penculikan, pemukulan, dan pembunuhan terhadap individu yang berutang uang narkoba atau merusak operasi perdagangan narkoba.
Dakwaan baru ini menambah daftar tuduhan terhadap Maduro dan pejabat Venezuela lainnya yang pertama kali diumumkan pada Maret 2020, saat pemerintahan pertama Trump. Pada saat itu, Maduro membantah tuduhan awal tersebut dan menyerukan dialog dengan AS, sebelum akhirnya ia ditangkap.

















