Lonjakan Pengunjung Keraton Surakarta saat Lebaran, Namun Penjualan Pedagang Kecil Belum Merata
Solo – Libur Lebaran 2026 di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta dipadati oleh lonjakan pengunjung. Namun, di balik keramaian tersebut, tidak semua pedagang kecil merasakan dampak positif yang signifikan pada peningkatan penjualan mereka. Sejumlah pedagang mengaku masih menghadapi tantangan dalam menjual produk-produk mereka, meskipun antusiasme wisatawan terlihat tinggi.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan ketidakseimbangan ini adalah Slamet, seorang pedagang yang menjual berbagai pernak-pernik dan mainan tradisional berbahan dasar bambu. Meskipun pengunjung memadati area keraton, Slamet mengeluhkan bahwa penjualan mainan tradisional yang ia tawarkan masih tergolong sepi.
Perbandingan Keramaian: Lebaran Kali Ini vs. Tahun Lalu
Slamet, yang merupakan pedagang asal Gunungkidul dan telah lama berdagang di sekitar museum Keraton Surakarta, mengungkapkan pandangannya mengenai situasi saat ini. Ia merasa bahwa meskipun jumlah wisatawan tampak meningkat, peningkatan tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pendapatan yang ia peroleh.
“Kalau dibilang ramai, dibanding tahun sebelumnya justru lebih ramai tahun lalu. Sekarang ini masih sepi,” ujarnya saat ditemui pada Selasa, 24 Maret 2026.
Meski demikian, Slamet mengakui bahwa kondisi saat ini sedikit lebih baik dibandingkan dengan hari-hari biasa sebelum periode libur Lebaran tiba. “Kalau dibanding hari biasa, ya sudah agak mendingan,” tambahnya, menunjukkan adanya sedikit perbaikan meskipun belum mencapai harapan.
Ragam Mainan Tradisional dan Oleh-Oleh Bambu
Usaha yang dijalani Slamet berfokus pada pembuatan dan penjualan berbagai mainan tradisional yang seluruhnya terbuat dari bambu. Koleksi produknya meliputi beragam jenis mainan yang sarat akan nilai budaya, seperti:
- Peluit dan Seruling: Alat musik sederhana yang seringkali menjadi favorit anak-anak.
- Tek-tek: Mainan yang menghasilkan suara khas saat digerakkan.
- Gasingan: Mainan tradisional yang membutuhkan keterampilan untuk dimainkan.
- Utug-utug: Mainan yang biasanya berbentuk gerobak atau kendaraan kecil.
- Gantungan Kunci: Souvenir kecil yang praktis dan mudah dibawa.
Produk-produk ini tidak hanya diminati oleh anak-anak yang mencari hiburan, tetapi juga oleh para wisatawan yang ingin membawa pulang oleh-oleh khas bernuansa tradisional dari Surakarta.
Dari segi harga, Slamet menawarkan produk dengan rentang harga yang cukup terjangkau untuk menarik daya beli pengunjung. Rincian harganya adalah sebagai berikut:
- Peluit dan gantungan kunci: Rp10.000 – Rp25.000
- Gasing besar: Rp25.000
- Gasing kecil: Rp20.000
Selain itu, ia juga menyediakan hiasan bambu gantung yang seringkali menjadi pilihan menarik bagi keluarga yang mencari cinderamata unik untuk dikenang.
Meskipun harapannya adalah peningkatan penjualan seiring dengan ramainya pengunjung di kawasan keraton, Slamet menunjukkan komitmennya untuk terus bertahan dan menjual mainan tradisional. Baginya, kegiatan berdagang ini bukan sekadar mencari nafkah, melainkan juga merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya lokal Surakarta agar tetap dikenal dan dicintai oleh generasi mendatang.
Penjualan yang belum merata ini menjadi catatan penting bagi pengelola wisata dan pemangku kepentingan terkait. Perlu ada strategi yang lebih komprehensif untuk memastikan bahwa manfaat ekonomi dari lonjakan wisatawan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan pelaku usaha kecil di sekitar destinasi wisata budaya.




