Mengapa Wajah Bayi Baru Lahir Tampak Kurang Menarik?
Mendekati masa kelahiran, seorang ibu biasanya sudah membayangkan bagaimana wajah bayinya nanti. Namun, ketika momen itu benar-benar tiba dan melihat bayi untuk pertama kalinya, bisa saja muncul perasaan yang tidak terduga, seperti rasa bingung atau bahkan sedikit kecewa karena wajah si kecil tidak terlihat seperti yang dibayangkan.
Para peneliti dari Universitas Brock di Kanada mencoba memahami mengapa hal ini bisa terjadi. Studi mereka meneliti bagaimana orang dewasa menilai kelucuan bayi, serta mengapa sebagian orang tua merasa wajah bayi baru lahir tampak kurang menarik. Berikut adalah beberapa alasan yang ditemukan dalam studi tersebut:
Kenapa Bayi Baru Lahir Wajahnya Terlihat Kurang Menarik?
Menurut hasil penelitian, bayi baru lahir yang terlihat “kurang menarik” bukan berarti mereka tidak lucu. Perbedaan ini lebih berkaitan dengan cara otak manusia membangun keterikatan emosional. Persepsi terhadap wajah bayi bisa berbeda-beda, tergantung pada faktor psikologis dan biologis.
Penelitian yang Dilakukan
Penelitian ini melibatkan 142 orang dewasa sebagai peserta. Mereka diperlihatkan foto 18 bayi yang dibagi ke dalam tiga kelompok usia: bayi yang baru lahir, bayi usia 3 bulan, dan bayi usia 6 bulan. Setelah itu, peserta diminta menilai setiap bayi berdasarkan beberapa aspek, seperti tingkat kelucuan, kebahagiaan, kesehatan, kemiripan, serta seberapa besar keinginan mereka untuk “mengadopsi” bayi tersebut secara hipotetis.
Dari hasil penilaian tersebut, peneliti menemukan bahwa bayi baru lahir cenderung mendapat skor paling rendah dalam hal kelucuan dan daya tarik wajah.
Kenapa Bayi Baru Lahir Tidak Dianggap Paling Lucu?
Para peneliti menjelaskan bahwa ketika bayi baru lahir, otak manusia secara tidak sadar menahan keterikatan emosional yang terlalu kuat di awal. Hal ini terjadi karena otak mempertimbangkan risiko psikologis, sebab bayi yang baru lahir sangat rentan, termasuk kemungkinan kehilangan bayi yang dapat menimbulkan beban emosional yang sangat berat.
Akibatnya, rasa sayang dan persepsi “lucu” tidak langsung muncul secara maksimal di awal kelahiran, tetapi berkembang seiring waktu. Ketika bayi mulai tumbuh, mereka menjadi lebih kuat, lebih mampu bertahan, dan ekspresi wajahnya juga semakin jelas, sehingga rasa kelucuan itu tumbuh.
Puncak Kelucuan Bayi Saat Usia 6 Bulan
Penelitian ini menemukan bahwa bayi berusia 6 bulan justru mendapatkan penilaian paling tinggi dalam hal kelucuan dan daya tarik wajah. Menurut penulis utama, Prarthana Franklin, hal ini cukup masuk akal jika dilihat dari perkembangan fisik bayi.
Pada usia ini, wajah bayi sudah lebih berkembang, ekspresi emosinya lebih jelas, dan mereka juga sudah bisa tersenyum, sehingga lebih mudah memicu respons positif dari orang dewasa. Selain itu, Profesor Madya Studi Anak dan Remaja di Universitas Brock, Tony Volk, menjelaskan bahwa bayi usia sekitar 6 bulan juga memiliki peluang bertahan hidup yang lebih tinggi dibandingkan bayi yang lebih kecil.
Kondisi ini membuat respons orang dewasa terhadap bayi menjadi lebih kuat, karena secara tidak sadar otak lebih mudah membangun keterikatan pada bayi yang terlihat lebih stabil dan berkembang.
Ikatan akan Tumbuh Secara Bertahap
Ikatan antara orangtua dan bayi tidak selalu langsung terbentuk kuat saat bayi baru lahir. Rasa dekat dan sayang biasanya berkembang sedikit demi sedikit, seiring waktu melalui proses merawat, berinteraksi, dan melihat perkembangan bayi setiap hari.
Seiring bayi tumbuh, orangtua akan semakin mengenali ekspresi, respons, dan perubahan kecil yang terjadi. Hal inilah yang membuat hubungan emosional menjadi semakin kuat dari waktu ke waktu, bukan muncul secara instan di awal kelahiran.
“Kami ingin memberi tahu orangtua bahwa jika mereka tidak langsung merasa dekat dengan bayi ini seperti yang mereka bayangkan, itu normal. Ikatan itu akan terbangun dan tumbuh seiring waktu,” kata Volk.























