Kementerian ATR/BPN Perkuat Silaturahmi Melalui Kurban Iduladha di Pondok Pesantren Attaqwa
Bekasi, Jawa Barat – Semangat Iduladha yang penuh berkah turut dirasakan oleh Pondok Pesantren Attaqwa di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pada Jumat (29/06/2026), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) melalui Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menyerahkan sejumlah hewan kurban sebagai wujud kepedulian sosial dan upaya mempererat tali silaturahmi dengan masyarakat pesantren.
Penyerahan hewan kurban ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah manifestasi nilai-nilai luhur yang dipegang teguh oleh Kementerian ATR/BPN. “Bagi kami, kurban bukan sekadar ibadah, melainkan bentuk kepedulian untuk memperkuat persaudaraan dan memberi manfaat bagi sesama. Semoga semangat berbagi ini terus menumbuhkan kebersamaan di tengah masyarakat,” ujar Menteri Nusron Wahid dalam sambutannya. Pernyataan ini menekankan bahwa esensi kurban melampaui ritual keagamaan, merangkul dimensi sosial dan kemanusiaan yang lebih luas.
Prosesi penyerahan dilakukan secara simbolis. Menteri Nusron Wahid secara langsung menyerahkan hewan kurban kepada Ketua Yayasan Attaqwa, Dr. KH. Irfan Mas’ud, M.A. Acara ini disaksikan langsung oleh para santri yang antusias, jajaran pengurus pondok pesantren, serta para pejabat dan pegawai dari Kementerian ATR/BPN yang turut hadir. Kehadiran berbagai elemen ini menunjukkan sinergi dan komitmen bersama dalam membangun hubungan yang harmonis.
Menteri Nusron menjelaskan lebih lanjut bahwa hewan-hewan kurban yang disalurkan merupakan hasil dari partisipasi seluruh keluarga besar Kementerian ATR/BPN. Mulai dari jajaran pimpinan tertinggi, para menteri, hingga seluruh pegawai di setiap tingkatan, semuanya berkontribusi dalam pengumpulan hewan kurban ini. Hal ini mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan yang kuat di dalam internal kementerian.
Distribusi hewan kurban tidak hanya terfokus pada satu lokasi. Hewan-hewan tersebut disebarkan ke berbagai pondok pesantren dan masyarakat yang membutuhkan di seluruh penjuru Indonesia. Upaya ini bertujuan untuk membangun solidaritas sosial yang merata dan memastikan bahwa semangat Iduladha dapat dirasakan oleh sebanyak mungkin elemen masyarakat. Dengan demikian, Kementerian ATR/BPN turut berperan dalam menyebarkan kebaikan dan kebahagiaan di momen yang sakral ini.
Momentum penyerahan hewan kurban ini memiliki makna ganda, karena bertepatan dengan perayaan milad ke-70 Pondok Pesantren Attaqwa. Usia 70 tahun merupakan sebuah tonggak sejarah penting bagi lembaga pendidikan ini. Menteri ATR/Kepala BPN menyampaikan harapan besar agar Pondok Pesantren Attaqwa terus konsisten dalam melahirkan generasi-generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan mampu memberikan kontribusi positif yang signifikan bagi kemajuan Indonesia.
“Semoga Pondok Pesantren Attaqwa konsisten memberikan manfaat bagi umat, menanamkan nilai budi pekerti, dan membangun peradaban Indonesia yang lebih baik berdasarkan ketakwaan,” tambah Menteri Nusron, menggarisbawahi pentingnya pondok pesantren sebagai pilar moral dan spiritual dalam pembentukan karakter bangsa.
Usai rangkaian acara penyerahan hewan kurban, Menteri Nusron Wahid tidak melewatkan kesempatan untuk berziarah. Beliau melakukan kunjungan ke makam Pahlawan Nasional sekaligus pendiri Pondok Pesantren Attaqwa, Almarhum KH. Noer Alie. Ziarah ini merupakan bentuk penghormatan atas jasa-jasa besar para pendahulu yang telah meletakkan dasar-dasar penting bagi kemajuan pendidikan dan agama di Indonesia.
Kegiatan penting ini turut didukung oleh berbagai pihak. Ketua Panitia Kurban ATR/BPN, Farid Hidayat, tampak mendampingi Menteri Nusron dalam setiap tahapan kegiatan, bersama dengan sejumlah pejabat kementerian terkait lainnya yang menunjukkan soliditas dan koordinasi yang baik dalam pelaksanaan program kementerian.
Makna Kurban dan Peran Pesantren dalam Pembangunan Bangsa
Kurban Iduladha memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam. Secara spiritual, ibadah kurban mengingatkan umat Muslim akan ketaatan Nabi Ibrahim AS yang bersedia mengorbankan putranya, Ismail AS, atas perintah Allah SWT. Perintah ini kemudian digantikan dengan seekor domba. Peristiwa ini mengajarkan tentang pengorbanan, keikhlasan, dan kepasrahan diri kepada Sang Pencipta.
Secara sosial, daging kurban dibagikan kepada fakir miskin, kerabat, dan tetangga. Hal ini bertujuan untuk:
- Mengurangi Kesenjangan Sosial: Dengan berbagi rezeki, diharapkan dapat membantu meringankan beban ekonomi bagi mereka yang kurang mampu.
- Mempererat Ukhuwah Islamiyah: Kegiatan berbagi memperkuat tali persaudaraan antar sesama Muslim, menciptakan rasa kebersamaan dan kepedulian.
- Menumbuhkan Empati dan Kepedulian: Proses berkurban melatih individu untuk merasakan dan memahami kondisi orang lain, serta mendorong tindakan nyata untuk membantu.
Pondok pesantren, seperti Pondok Pesantren Attaqwa, memegang peranan vital dalam pembangunan bangsa, tidak hanya sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter dan moral generasi muda. Peran pesantren mencakup:
- Pendidikan Karakter: Menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan budi pekerti luhur yang menjadi pondasi penting bagi setiap individu.
- Pengembangan Intelektual: Selain ilmu agama, banyak pesantren kini juga mengintegrasikan kurikulum umum, sehingga santri memiliki bekal pengetahuan yang luas.
- Pusat Dakwah dan Pelayanan Masyarakat: Pesantren seringkali menjadi garda terdepan dalam kegiatan sosial keagamaan dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar.
- Pelestarian Budaya dan Tradisi: Menjaga warisan budaya dan tradisi luhur bangsa, sembari beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Melalui penyerahan hewan kurban ini, Kementerian ATR/BPN menunjukkan komitmennya untuk mendukung peran penting pesantren dan memperkuat sinergi antara pemerintah dan lembaga pendidikan keagamaan demi terwujudnya masyarakat yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.




