Dampak Kenaikan Harga Plastik pada Pedagang Kecil di Samarinda dan Balikpapan
Kenaikan harga plastik yang terjadi di Samarinda hingga Balikpapan telah memberikan dampak langsung pada para pedagang kecil. Meski omzet penjualan tetap atau bahkan meningkat, margin keuntungan mereka justru semakin menipis. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku plastik yang dipicu oleh dinamika global, terutama lonjakan harga minyak dunia.
Fenomena Kenaikan Harga Plastik
Di Samarinda, para pedagang mengaku harus memutar otak untuk bertahan dalam situasi ini. Mawarni, salah satu pedagang plastik yang telah berjualan sejak 2018, menyatakan bahwa hampir semua jenis plastik yang dijualnya mengalami kenaikan harga. Contohnya, plastik merah besar yang sebelumnya dijual dengan harga Rp10 ribu kini naik menjadi Rp12 ribu. Kenaikan tersebut tidak terjadi secara perlahan, melainkan cukup tajam dalam waktu singkat.
Fenomena serupa juga dirasakan oleh Fendi, seorang pembeli plastik. Ia mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan sebelumnya. “Ada yang naik sampai Rp5 ribu. Lumayan terasa,” ujarnya. Kenaikan harga plastik ini tidak hanya terjadi pada tingkat pedagang, tetapi juga merambat ke konsumen akhir.
Perubahan dalam Pasokan dan Penggunaan Plastik
Pedagang lain, Sih, menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik berlangsung sedikit demi sedikit, namun konsisten. “Naiknya tidak langsung besar, tapi bertahap. Hari ini naik, besok naik lagi,” katanya. Selain itu, keterbatasan pasokan juga menjadi masalah. Agen mulai membatasi jumlah pembelian, sehingga pedagang tidak lagi leluasa menyetok barang.
Tidak hanya itu, perubahan juga terjadi pada isi kemasan. Jumlah plastik dalam satu ikat cenderung berkurang, meski harga tetap atau bahkan naik. Artinya, tanpa disadari, konsumen membayar lebih mahal untuk jumlah yang lebih sedikit.
Strategi Sederhana untuk Bertahan
Di Tenggarong, Susanti, pedagang sayur, juga merasakan dampak kenaikan harga plastik. Ia memilih untuk tidak menaikkan harga jual dagangannya agar pelanggan tidak beralih ke pedagang lain. Sebagai gantinya, ia menerapkan strategi sederhana, yaitu mengurangi penggunaan plastik dengan menawarkan kepada pembeli untuk mencampur beberapa jenis barang dalam satu kantong.
Situasi yang tidak jauh berbeda terjadi di Balikpapan. Jailani, pedagang plastik yang telah berjualan sejak 1990, menghadapi kondisi yang semakin sulit diprediksi. “Harga sekarang naik hampir tiap hari. Kita beli hari ini, besok sudah naik lagi,” ujarnya. Kenaikan yang terus-menerus membuat pedagang kesulitan menentukan harga jual.
Kenaikan Harga Plastik dari Perspektif Global
Di balik kenaikan harga yang dirasakan pedagang kecil, terdapat tekanan besar dari tingkat global. Plastik, sebagai produk turunan minyak, sangat bergantung pada harga energi dunia. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyebutkan bahwa lonjakan harga plastik sudah dikeluhkan para pedagang dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan ini disebut berkaitan dengan bahan baku plastik yang berasal dari energi fosil.
Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah, khususnya di jalur Selat Hormuz, menjadi salah satu pemicu utama. Jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi global. Sejak akhir Februari 2026, harga minyak dunia tercatat melonjak lebih dari 40 persen. Kenaikan ini berdampak langsung pada harga bahan baku petrokimia seperti nafta, yang menjadi komponen utama produksi plastik.
Momentum untuk Mengurangi Sampah Plastik
Lonjakan harga plastik dunia akibat konflik Timur Tengah mulai memberi tekanan pada berbagai sektor, termasuk pengelolaan sampah di daerah. Di Samarinda, kondisi ini justru dilihat sebagai momentum untuk memperkuat kebijakan pengurangan plastik yang telah berjalan sejak beberapa tahun terakhir.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, menjelaskan bahwa implementasi larangan penggunaan plastik telah memiliki dasar regulasi yang jelas. Selain melalui regulasi, DLH juga memperkuat upaya pengurangan sampah plastik melalui pendekatan berbasis masyarakat dan pengelolaan langsung di lapangan.
Terkait perubahan perilaku masyarakat, ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut telah berjalan cukup lama dan memberikan dampak nyata, khususnya di sektor ritel modern. Di tengah kabar melonjaknya harga bahan baku plastik secara global, kondisi ini dinilai dapat menjadi momentum untuk mempercepat pengurangan ketergantungan terhadap plastik.
Namun, ia menekankan bahwa persoalan sampah harus dilihat secara lebih luas. “Sebetulnya tidak hanya sampah plastik termasuk sampah lainnya harus dilakukan upaya pengurangan sampah ke TPA. Karena sistem kumpul angkut (dari TPS ke TPA) yang selama ini diterapkan terbukti belum menyelsaikan masalah namun hanya memindahkan posisi sampah,” jelasnya.
Terakhir, Taufiq menyebut bahwa usaha mengurai sampah plastik sejatinya telah termasuk dalam strategi Pemerintah Kota Samarinda melalui proyek insinerator. “Dan insinerator yang di siapkan pemkot saat ini juga termasuk salah satu rencana penguatan program pengurangan plastik sekali pakai di tengah situasi global saat ini,” pungkas Taufiq.



















