Mantan Pengasuh Dipenjara 18 Tahun Akibat Pelecehan Seksual dan Kepemilikan Ribuan Foto Anak
Seorang mantan pekerja penitipan anak di Inggris, Vincent Chan yang berusia 45 tahun, telah dijatuhi hukuman penjara selama 18 tahun setelah mengaku bersalah atas 56 tindak kejahatan seksual. Kejahatan ini mencakup lebih dari 30 kasus yang melibatkan anak-anak, termasuk empat anak perempuan berusia antara 3 dan 4 tahun yang menjadi korban pelecehan saat jam tidur siang di sebuah fasilitas penitipan anak di London utara.
Pada Kamis (12/2/2026), Hakim John Dodd KC menyampaikan vonisnya, menggambarkan tindakan Chan sebagai “sangat jahat, menyimpang, dan bejat.” Hakim Dodd menekankan bahwa koleksi ribuan foto anak yang tidak senonoh yang dimiliki oleh Chan menunjukkan adanya “obsesi seksual yang mendalam terhadap anak-anak.”
“Setiap orang yang waras yang mendengar tentang kejahatan Anda akan merasakan jijik dan tidak percaya. Anda telah menjadi predator seksual dan seseorang yang jelas kehilangan seluruh kompas moralnya,” ujar Hakim Dodd.
Kronologi Kejahatan dan Penemuan Barang Bukti
Aksi kejahatan Vincent Chan terungkap dimulai sejak tahun 2011. Pada periode tersebut, saat bekerja di sebuah sekolah dasar di Finchley, ia mengaku pernah merekam bagian bawah rok siswi di dalam ruang kelas. Ia tercatat bekerja di sana dari tahun 2017 hingga 2017.
Selanjutnya, Chan melanjutkan karirnya di tempat penitipan anak Bright Horizons di West Hampstead. Ia bekerja di sana selama tujuh tahun sebelum akhirnya diskors pada tahun 2024, saat perbuatannya mulai terbongkar. Terungkap bahwa Chan menggunakan iPad yang disediakan oleh fasilitas penitipan anak tersebut untuk merekam aksinya saat melakukan pelecehan terhadap anak-anak. Tindakannya seringkali dilakukan saat anak-anak sedang tidur siang. Korban termudanya diketahui baru berusia 6 bulan.
Penyelidikan lebih lanjut menemukan sedikitnya 26 ribu foto anak yang tidak senonoh tersimpan di perangkatnya. Foto-foto tersebut diorganisir ke dalam folder berdasarkan nama-nama korban. Hakim menyatakan bahwa 280 video dan 1.204 foto termasuk dalam “kategori A”, yang merupakan klasifikasi paling serius karena menggambarkan tindakan seksual dengan penetrasi.
Meskipun telah mengaku bersalah atas semua tuduhan, Vincent Chan hingga kini belum mengungkap motif di balik perbuatannya. Pihak kepolisian meyakini bahwa Chan bertindak seorang diri dan tidak membagikan foto-foto tersebut kepada pihak lain.
Dampak Kejahatan Chan: Hilangnya Kepercayaan dan Trauma Mendalam
Perbuatan Vincent Chan tidak hanya merugikan para korban secara langsung, tetapi juga menciptakan pukulan telak terhadap kepercayaan publik terhadap institusi penitipan anak. Jaksa Philip Stott menyampaikan kepada pengadilan bahwa tindakan Chan telah merusak kepercayaan yang telah dibangun oleh lembaga-lembaga pengasuhan anak.
“Ini adalah mimpi buruk setiap orang tua. Keluarga tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata penderitaan yang ditimbulkan ketika menerima surat seperti itu secara tiba-tiba,” kata Stott, merujuk pada pemberitahuan yang diterima keluarga bahwa anak-anak mereka mungkin telah menjadi korban pelecehan.
Dalam sebuah pernyataan yang mengharukan, keluarga anak-anak yang pernah belajar di Bright Horizons nursery di West Hampstead – yang kini telah ditutup akibat kasus ini – mengungkapkan bahwa kejahatan Chan telah meninggalkan luka permanen di hati mereka.
“Ketakutan yang kami rasakan atas pelanggaran kejam terhadap anak-anak kami tidak akan pernah hilang. Kenangan biasa dari masa kanak-kanak awal kini ternodai oleh keraguan, kecemasan, dan rasa bersalah,” ujar mereka.

Tuntutan Hukum Terhadap Jaringan Penitipan Anak
Akibat kelalaian yang diduga terjadi, puluhan keluarga telah mengajukan gugatan hukum terhadap jaringan penitipan anak Bright Horizons. Menurut firma hukum Leigh Day, sebanyak 50 keluarga telah bergabung dalam gugatan tersebut, menuduh Bright Horizons telah mengabaikan kekhawatiran mereka terkait perlindungan anak.
Alison Millar, perwakilan dari Leigh Day, mengungkapkan keluhan para orang tua. “Para orang tua mengatakan saya pernah mendengar pria ini berteriak dan mencaci-maki anak-anak. Mereka hanya diberitahu, ‘oh, itu Vincent, suaranya memang keras’,” katanya, menunjukkan bahwa peringatan dini dari orang tua tidak ditanggapi dengan serius.
Menanggapi situasi ini, Bright Horizons mengeluarkan pernyataan yang menegaskan bahwa tindakan Chan adalah “keji dan licik” serta sangat bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan dan kepedulian yang selalu dijunjung oleh para profesional mereka.
“Kami berkomitmen untuk memahami apa yang telah terjadi agar dapat mengambil pelajaran dari peristiwa mengerikan ini,” kata Bright Horizons. Mereka menambahkan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan seorang pakar untuk meninjau kembali seluruh praktik mereka guna memastikan standar perlindungan anak yang paling tinggi dapat diterapkan di masa mendatang.

Situasi ini juga memicu diskusi di kalangan pemerintah. Perdana Menteri Keir Starmer pada Rabu (11/2/2026) menyatakan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan untuk mewajibkan pemasangan kamera keamanan di semua tempat penitipan anak. Keputusan ini diambil mengingat maraknya kasus pelecehan yang terkuak di berbagai pusat penitipan anak di Inggris dalam beberapa tahun terakhir.
Kasus ini menjadi pengingat kelam akan pentingnya pengawasan ketat dan sistem perlindungan anak yang kokoh di setiap institusi yang menangani anak-anak.
Pelecehan Anak, Pria Irlandia Utara Dipenjara Seumur Hidup
Pria Australia Dibui karena Unduh Konten Pelecehan Anak Buatan AI
Gagal Tindak Konten Pelecehan Anak, Twitter Didenda Rp6 Miliar
















