Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara Fokus pada Keberlanjutan
Di tengah perhatian publik terhadap penggunaan air tanah, Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara) menegaskan bahwa keberlanjutan menjadi prioritas utama. Industri air minum dalam kemasan (AMDK) berkomitmen untuk menjalankan praktik yang didasarkan pada kajian ilmiah yang ketat.
Ketua Umum Amdatara, Karyanto Wibowo, menjelaskan bahwa sumber air yang digunakan tidak diambil secara sembarangan. Setiap proses pemilihan sumber air melalui studi lintas disiplin yang panjang. “Seluruh sumber air dipilih melalui proses ilmiah yang ketat, meliputi studi minimal satu tahun, kajian hidrogeologi, evaluasi multidisiplin geologi, geofisika, mikrobiologi, serta verifikasi independen,” ujarnya.
Sumber air yang digunakan berasal dari mata air pegunungan, akuifer dalam, hingga air tanah dalam. Pemilihan sumber dilakukan dengan mempertimbangkan keberlanjutan dan kualitas. Amdatara menerapkan prinsip water stewardship melalui perlindungan daerah tangkapan air dan keseimbangan pemanfaatan. Investasi juga diarahkan pada konservasi seperti penanaman pohon, pembangunan sumur resapan, dan restorasi lahan.
Selain itu, industri mendorong efisiensi penggunaan air dan energi serta inovasi kemasan ramah lingkungan. Transparansi kepada publik juga menjadi bagian dari strategi menjaga kepercayaan. “Kami meyakini bahwa konservasi sumber air dan pertumbuhan industri bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan harus berjalan beriringan,” tegas Karyanto.
Tantangan dan Upaya Konservasi
Sebelumnya, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika, menyampaikan bahwa persepsi publik terhadap industri AMDK masih menjadi tantangan tersendiri. Menurutnya, pemanfaatan air oleh industri AMDK relatif kecil dibandingkan potensi yang tersedia untuk masyarakat, yakni sekitar 0,22%.
Namun demikian, industri AMDK disebutnya tetap mengedepankan upaya konservasi sumber di tengah beberapa tantangan utama seperti bahan baku yang masih bergantung terhadap impor, biaya produksi tinggi, hingga tata kelola bahan baku daur ulang yang belum optimal.
Putu kemudian menyampaikan bahwa Kemenperin telah mencatat berbagai upaya konservasi air tanah, termasuk penanaman lebih dari 2 juta pohon serta pembangunan 2.500 sumur resapan dan embung. “Ini juga menyediakan sumber air bersih bagi masyarakat, diiringi pendampingan petani dalam budidaya yang ramah air dan pencemaran kimia, serta efisiensi dan sirkularitas air kapasitas produksi,” katanya dalam rapat dengar pendapat di Komisi VII DPR RI.
Langkah-Langkah yang Dilakukan
Beberapa langkah yang dilakukan oleh Amdatara dan Kemenperin antara lain:
- Penanaman pohon sebagai bagian dari konservasi lingkungan
- Pembangunan sumur resapan dan embung untuk meningkatkan ketersediaan air
- Pendampingan petani dalam budidaya yang ramah lingkungan
- Efisiensi dan sirkularitas penggunaan air dalam produksi
Dengan komitmen tersebut, industri AMDK berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan perlindungan sumber daya alam. Hal ini menjadi penting dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks, baik dari segi lingkungan maupun ekonomi.
Kesimpulan
Keberlanjutan menjadi prioritas utama dalam industri AMDK. Melalui kajian ilmiah yang ketat dan implementasi prinsip water stewardship, Amdatara menunjukkan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan sumber air. Selain itu, kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat juga menjadi kunci dalam menjalankan program konservasi yang efektif. Dengan langkah-langkah yang telah diambil, industri AMDK berharap dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat.


















