Pertamina Patra Niaga Pangkas Harga Avtur Hingga 10 Persen, Dampak Positif untuk Penerbangan Nasional
PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan langkah signifikan dengan menurunkan harga bahan bakar pesawat udara, atau Avtur, hingga 10 persen efektif mulai 1 Juni. Keputusan strategis ini diambil sebagai respons terhadap dinamika harga energi global yang terus berfluktuasi dalam beberapa waktu terakhir. Penyesuaian harga ini berlaku serentak di seluruh bandar udara di Indonesia, menandakan komitmen perusahaan dalam menjaga daya saing industri penerbangan nasional.
Sepanjang bulan Mei, pasar energi global memang memperlihatkan tren penurunan yang kemudian secara langsung terefleksikan pada penetapan harga Avtur untuk periode Juni. Sebagai gambaran konkret mengenai besaran penurunan ini, harga Avtur di Aviation Fuel Terminal (AFT) Soekarno-Hatta (CGK), Jakarta, misalnya, mengalami koreksi dari Rp 24.580 per liter menjadi Rp 22.190 per liter. Perubahan serupa juga terjadi di destinasi wisata utama, AFT Ngurah Rai (DPS), Denpasar, di mana harga Avtur turun dari Rp 26.190 per liter menjadi Rp 23.480 per liter. Sementara itu, di AFT Kualanamu (KNO), Medan, harga Avtur disesuaikan dari Rp 25.720 per liter menjadi Rp 23.090 per liter.
Perlu dicatat bahwa besaran penurunan harga di setiap bandar udara dapat bervariasi. Variasi ini disebabkan oleh penerapan formula penetapan harga yang berlaku, serta mempertimbangkan faktor-faktor spesifik seperti biaya distribusi dan logistik yang berbeda di setiap lokasi.
Mekanisme Penetapan Harga Avtur yang Transparan
Penyesuaian harga Avtur merupakan sebuah proses yang dilakukan secara berkala, tepatnya setiap bulan, berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan. Mekanisme perhitungannya mengacu pada rata-rata harga publikasi internasional selama periode tertentu. Referensi utama yang digunakan dalam perhitungan ini adalah Mean of Platts Singapore (MOPS) Kerosene/Jet, yang berfungsi sebagai patokan atau benchmark untuk kawasan regional.
Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga ini adalah bagian integral dari sebuah mekanisme yang dirancang untuk bersifat transparan dan senantiasa mengikuti pergerakan pasar energi global.
“Penyesuaian harga Avtur ini dilakukan dengan mengacu pada formula yang ditetapkan oleh regulator, dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta mempertimbangkan perkembangan harga energi global. Ketika harga energi global bergerak turun, maka penyesuaian tersebut akan terefleksikan pada harga Avtur sesuai dengan mekanisme yang berlaku,” ujar Roberth dalam siaran pers yang dirilis pada Selasa, 2 Juni.
Dukungan Terhadap Pertumbuhan Industri Penerbangan dan Pariwisata
Roberth menekankan bahwa kebijakan penyesuaian harga ini merupakan wujud nyata dari upaya Pertamina Patra Niaga dalam menjaga keseimbangan yang harmonis antara aspek komersial perusahaan, keberlanjutan pasokan Avtur, dan keandalan layanan yang diberikan kepada seluruh pengguna jasa aviasi.
Lebih lanjut, ia menyampaikan harapan bahwa penyesuaian harga yang lebih kompetitif ini akan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap aktivitas penerbangan domestik. Hal ini diharapkan dapat turut mendukung pengembangan sektor pariwisata nasional yang vital bagi perekonomian, meningkatkan konektivitas antar berbagai wilayah di Indonesia, serta secara keseluruhan mendorong pertumbuhan ekonomi di setiap daerah.
“Dengan harga yang lebih kompetitif, kami berharap industri penerbangan dapat terus bertumbuh dan memberikan manfaat yang lebih luas lagi bagi masyarakat Indonesia,” imbuh Roberth.
Untuk segmen penerbangan internasional, mekanisme penetapan harga Avtur memiliki pendekatan yang sedikit berbeda. Harga Avtur untuk penerbangan internasional mengikuti perkembangan pasar dan tingkat kompetisi yang terjadi di kawasan regional. Tujuannya adalah untuk menjaga daya saing nasional di kancah internasional. Namun, prioritas utama tetap pada pemenuhan kebutuhan penerbangan domestik yang menjadi fokus utama dalam pengelolaan pasokan energi penerbangan.
Jaringan Distribusi dan Komitmen Pasokan Avtur
Saat ini, Pertamina Patra Niaga memiliki jangkauan operasional yang luas dalam melayani kebutuhan Avtur di seluruh Indonesia. Perusahaan mengelola sebanyak 72 Aviation Fuel Terminal (AFT) yang tersebar di berbagai wilayah strategis. Jaringan ini mencakup bandara-bandara utama yang menjadi pusat aktivitas penerbangan, serta bandara-bandara perintis yang melayani daerah terpencil dan terluar.
“Pertamina Patra Niaga senantiasa memastikan pasokan Avtur tetap dalam kondisi aman dan andal di seluruh jaringan Aviation Fuel Terminal kami. Hal ini krusial untuk mendukung kelancaran operasional penerbangan, baik untuk penerbangan domestik maupun internasional,” tegas Roberth.
Ke depan, Pertamina Patra Niaga berkomitmen untuk terus memantau secara cermat setiap perkembangan yang terjadi di pasar energi global. Selain itu, perusahaan akan terus berkoordinasi erat dengan pemerintah, khususnya Kementerian ESDM, guna memastikan bahwa layanan energi penerbangan yang diberikan tetap andal, kompetitif, dan berkelanjutan. Komitmen ini penting demi mendukung konektivitas udara nasional yang semakin baik, yang pada gilirannya akan berkontribusi pada kemajuan ekonomi dan sosial bangsa.




