Ledakan Petasan Memecah Keheningan Pagi di Talang Ubi, PALI
Pendopo, PALI – Suasana pagi yang seharusnya diisi dengan ketenangan menyambut fajar di bundaran Simpang 5 Tugu Serandang, Pendopo, Talang Ubi, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan, pada Minggu, 1 Maret 2026, mendadak pecah oleh dentuman petasan. Fenomena yang dikenal sebagai “asmara subuh” ini berubah menjadi ajang ‘perang’ petasan yang melibatkan sekumpulan remaja.
Awalnya, para remaja tersebut berkumpul di area simpang lima, berseberangan jalan. Tawa canda dan gurauan riang mewarnai momen kebersamaan mereka dalam menyambut datangnya pagi. Namun, keakraban itu seketika terusik ketika suara letusan petasan mulai berbalasan, mengarah ke berbagai kelompok remaja yang hadir.
Suara petasan yang saling bersahutan, lemparan yang membumbung tinggi, dan teriakan riuh para remaja menciptakan suasana yang cukup meriah, namun juga menegangkan. Percikan api yang beterbangan, langkah kaki yang berlarian, serta gelak tawa dan teriakan para pemuda dan pemudi menandai dimulainya ‘perang’ petasan tersebut.
Salah seorang remaja, Ardiansyah, mengungkapkan kegembiraannya dalam momen tersebut. “Senang saja, karena hanya saling mengarahkan petasan tembak ke atas,” ujarnya sambil bersiap meledakkan petasan di tangannya, menunggu momen yang tepat. Ia berharap agar tradisi asmara subuh yang diisi dengan ‘perang’ petasan ini tidak berkembang menjadi tindakan yang lebih negatif, seperti tawuran antar kelompok.
Ketegangan semakin terasa ketika sebuah kelompok remaja yang berada di arah Jalan Pelita mulai ‘menyerang’ kelompok lain yang berada di Jalan Kebun Sayur. Suara petasan pun semakin membahana, menciptakan simfoni ledakan yang memekakkan telinga. Meskipun demikian, para remaja meyakinkan bahwa petasan yang digunakan berukuran kecil dan tidak membahayakan.
“Petasan kecil dan tidak membahayakan,” ungkap remaja lainnya, mencoba meredakan kekhawatiran yang mungkin timbul dari suara ledakan yang terus-menerus.
Menariknya, di tengah ramainya aksi ‘perang’ petasan yang terjadi di Simpang 5 Tugu Serandang, tidak terlihat kehadiran petugas dari Satpol PP Kabupaten PALI maupun personel Polsek Talang Ubi Polres PALI. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai pengawasan aktivitas remaja di area publik pada jam-jam tersebut.
Namun, Lurah Talang Ubi Timur, Aan Supriadi, membenarkan adanya suara petasan yang cukup ramai di Tugu Serandang. Ia menjelaskan bahwa pihak kelurahan telah turun tangan setelah mendengar kebisingan tersebut.
“Benar ada perang petasan antar kelompok remaja dan berhasil kita bubarkan,” kata Aan Supriadi. Ia menambahkan bahwa setelah didekati oleh pihak kelurahan, para remaja tersebut secara tertib meninggalkan lokasi dan pulang ke rumah masing-masing.
Aan Supriadi kemudian menyampaikan harapannya kepada para orang tua. “Berharap kepada orang tua agar memperhatikan anak-anaknya,” pesannya, menekankan pentingnya pengawasan dan bimbingan dari keluarga untuk mencegah anak-anak terlibat dalam kegiatan yang berpotensi menimbulkan masalah.
Fenomena asmara subuh yang berujung pada ‘perang’ petasan ini menjadi refleksi tersendiri mengenai bagaimana remaja mencari bentuk hiburan dan ekspresi di akhir pekan. Meskipun dalam kasus ini tidak menimbulkan korban atau kerusakan, namun kejadian ini menggarisbawahi perlunya perhatian lebih dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah, aparat penegak hukum, maupun orang tua, untuk memastikan bahwa aktivitas semacam ini tidak berujung pada konsekuensi yang lebih serius dan dapat dikelola dengan bijak. Pengawasan yang lebih proaktif dan edukasi yang berkelanjutan mengenai bahaya dan dampak negatif dari penggunaan petasan secara berlebihan kiranya perlu terus digalakkan.












