Membangun Literasi dan Numerasi Siswa Melalui Pembelajaran Kontekstual di Semarang
Pemerintah Kota Semarang, bekerja sama dengan Tanoto Foundation, secara konsisten mendorong penguatan kemampuan literasi dan numerasi di kalangan siswa melalui penerapan pembelajaran kontekstual. Pendekatan inovatif ini dirancang untuk membantu para siswa memahami konsep-konsep matematika secara lebih mendalam dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Salah satu manifestasi nyata dari upaya ini adalah pemanfaatan media pembelajaran berbasis peta kota, yang dikenal sebagai “Math City Map”, di SMP Negeri 7 Semarang. Melalui media ini, siswa diajak untuk belajar matematika secara langsung di luar ruangan kelas, mengaitkan teori yang dipelajari dengan objek-objek nyata yang ada di lingkungan sekitar sekolah.
Inisiatif pembelajaran ini merupakan bagian dari proyek inovasi yang digagas oleh kelompok fasilitator Tanoto Foundation yang menamakan diri mereka “Visionary PINTAR”. Kelompok ini terdiri dari para pendidik berpengalaman dari berbagai Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Semarang. Anggota kelompok tersebut meliputi:
- Drs. Bavo Manon Nugroho dari SMP Negeri 7 Semarang
- Kurniawan Sutrisnadi, S.Pd., dari SMP Negeri 17 Semarang
- Anny Handayani, S.Pd., M.Pd., dari SMP Negeri 12 Semarang
- Nularsih, S.Pd.SD, dari SMP Negeri 6 Semarang
- Suhartono, S.Pd., dari SMP Negeri 15 Semarang
Dalam praktik pembelajaran ini, siswa tidak hanya terpaku di dalam kelas. Mereka aktif melakukan pengukuran, perhitungan, dan penyelesaian masalah matematika berdasarkan kondisi riil di lapangan. Siswa mengamati berbagai elemen di lingkungan sekolah, seperti bangunan, lapangan, dan fasilitas lainnya, sebagai sumber belajar utama. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi pemahaman konsep luas, jarak, dan berbagai bentuk bangun datar.
Drs. Bavo Manon Nugroho, seorang guru dari SMP Negeri 7 Semarang, menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran ini memiliki kaitan erat dengan peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa.
“Anak-anak yang sebelumnya lemah dalam memahami pembelajaran kontekstual, sekarang mulai paham konsepnya. Mereka tahu konsep apa yang harus digunakan untuk menyelesaikan masalah karena mereka mengalaminya langsung,” ujarnya.
Menurut Bavo, pendekatan ini mengubah cara belajar siswa dari sekadar menghafal rumus menjadi pemahaman mendalam tentang bagaimana rumus tersebut diaplikasikan dalam situasi nyata. Sebagai contoh konkret, ketika siswa diminta menghitung luas suatu objek di lingkungan sekolah, mereka terlebih dahulu diajak untuk mengidentifikasi bentuk bangunan, melakukan pengukuran panjang dan lebar secara mandiri, sebelum akhirnya menghitung hasilnya.
“Ketika mereka bertemu soal kontekstual, mereka sudah terbiasa karena sebelumnya sudah melakukan langsung di lapangan,” tambahnya, menekankan bahwa pengalaman langsung membuat mereka lebih siap menghadapi tantangan soal serupa.
Selain berkontribusi pada peningkatan literasi dan numerasi, metode pembelajaran ini juga dinilai selaras dengan prinsip-prinsip pembelajaran mendalam (deep learning). Dalam pelaksanaannya, siswa bekerja dalam kelompok, dengan pembagian peran yang jelas. Ada yang bertugas mengukur, mencatat data, menghitung, hingga merumuskan kesimpulan dari hasil kerja kelompok.
“Mereka sadar sedang belajar dan harus menyelesaikan tugas bersama. Proses ini membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyenangkan,” ungkap Bavo.
Antusiasme siswa sangat terlihat dalam setiap sesi pembelajaran. Mulai dari mencari lokasi pada peta, mengukur objek di lingkungan sekolah, hingga memasukkan jawaban dan melihat skor yang diperoleh, aktivitas belajar terasa seperti permainan edukatif yang efektif mendorong keterlibatan aktif mereka.
Dukungan Tanoto Foundation tidak berhenti pada implementasi di kelas. Mereka juga aktif mendorong penguatan kapasitas para guru melalui program pelatihan yang komprehensif. Pada tahun 2025, Bavo bersama tim fasilitatornya mendampingi sebanyak 32 guru dari 30 sekolah yang berbeda, terdiri dari 24 guru SMP dan delapan guru Sekolah Dasar (SD).
“Awalnya target hanya 24 guru yang mampu membuat satu rute pembelajaran, tetapi seluruh 32 peserta berhasil. Bahkan, beberapa guru kemudian menularkan praktik ini kepada rekan-rekan di sekolahnya,” ungkapnya, menunjukkan keberhasilan program dalam menciptakan agen perubahan di lingkungan pendidikan.
Semangat serupa juga dirasakan langsung oleh para siswa. Muhammad Danish, seorang siswa dari SMP Negeri 7 Semarang, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti pembelajaran matematika dengan pendekatan ini.
“Seru banget karena belajarnya di luar kelas. Rasanya seperti main game, tapi tetap belajar matematika dan mengukur benda yang nyata,” ujarnya, menggambarkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna.
Sigit Pramono, guru lain dari SMP Negeri 7 Semarang, menambahkan bahwa pendekatan pembelajaran ini secara signifikan meningkatkan semangat belajar siswa. Hal ini dikarenakan siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga langsung mempraktikkannya.
“Anak-anak mencari lokasi sendiri, mengukur sendiri, lalu menyelesaikan soal berdasarkan hasil pengukuran itu. Inilah yang membuat pembelajaran menjadi kontekstual dan lebih mudah dipahami,” jelasnya.
Melalui inisiatif “Visionary PINTAR” ini, diharapkan literasi dan numerasi siswa tidak hanya mengalami peningkatan secara akademis. Lebih dari itu, program ini bertujuan untuk membentuk kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, serta menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa dalam memecahkan berbagai persoalan nyata yang mereka hadapi di lingkungan sekitar mereka.


















