Pengamanan Pawai Ogoh-Ogoh di Bali: Sinergi Keamanan dan Keharmonisan Sosial
Denpasar, Bali – Semarak perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948 di Bali tak lepas dari tradisi unik pawai ogoh-ogoh yang diselenggarakan pada malam Pengerupukan. Untuk memastikan kelancaran dan ketertiban acara yang dihadiri ribuan masyarakat ini, Kepolisian Daerah (Polda) Bali mengerahkan sebanyak 965 personel. Langkah ini diambil demi menjamin seluruh aktivitas masyarakat berlangsung aman dan kondusif.
Kepala Biro Operasi Polda Bali, Komisaris Besar Polisi Soelistijono, menjelaskan bahwa pelaksanaan Operasi Ketupat di Bali memiliki karakteristik tersendiri. Pasalnya, momen perayaan Nyepi kali ini bertepatan dengan momentum keagamaan besar lainnya, yaitu Hari Raya Idul Fitri. “Hari ini kita akan mengamankan pawai ogoh-ogoh dari sore hingga malam, bahkan dimungkinkan hingga pagi hari,” ujar Soelistijono saat memimpin apel kesiapan pasukan di Markas Polda Bali.
Titik-titik Strategis Pengamanan
Untuk mengantisipasi potensi keramaian dan memastikan kelancaran lalu lintas, personel pengamanan disebar di enam titik strategis di Denpasar. Titik-titik tersebut meliputi:
- Simpang Catur Muka
- Simpang Tohpati
- Simpang Cokroaminoto-Maruti
- Simpang Teuku Umar
- Simpang Kamboja-WR Supratman
- Simpang Pasar Sanglah
Soelistijono memberikan instruksi tegas kepada seluruh personel untuk melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab. Ia juga menekankan pentingnya pelaporan perkembangan situasi secara berjenjang untuk memastikan respons yang cepat dan tepat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Pendekatan Humanis dan Persuasif
Lebih dari sekadar penegakan hukum, pendekatan humanis menjadi prioritas utama dalam pengamanan pawai ogoh-ogoh ini. Personel kepolisian diinstruksikan untuk menjaga sikap dan tutur kata yang baik. Tujuannya adalah untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri, sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi setiap warga yang berpartisipasi dalam perayaan.
“Kehadiran Polri harus memberikan rasa aman dan nyaman. Jika ada permasalahan, lakukan pendekatan secara persuasif,” tegas Soelistijono. Pendekatan yang mengedepankan dialog dan pemahaman ini diharapkan dapat menyelesaikan setiap potensi gesekan atau kendala yang muncul di lapangan dengan cara yang damai.
Menjaga Keharmonisan Sosial di Tengah Kemajemukan
Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol. Ariasandy, turut menekankan arti penting menjaga keharmonisan sosial di tengah masyarakat Bali yang dikenal majemuk. Ia menggarisbawahi bahwa sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat adalah kunci utama keberhasilan pengamanan perayaan keagamaan seperti ini.
“Polda Bali mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga ketertiban serta saling menghormati dalam pelaksanaan perayaan keagamaan ini,” ujar Ariasandy. Ajakan ini mencerminkan semangat kolaborasi yang kuat, di mana keamanan dan ketertiban bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan juga tanggung jawab bersama seluruh warga.
Pawai ogoh-ogoh sendiri merupakan bagian integral dari rangkaian upacara Hari Raya Nyepi. Patung-patung raksasa yang melambangkan sifat buruk manusia ini diarak keliling desa sebelum akhirnya dibakar, sebagai simbol pembersihan diri dan pengusiran energi negatif. Kemeriahan pawai ini sering kali menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara, menambah pentingnya pengamanan yang baik agar citra pariwisata Bali tetap terjaga.
Dengan pengerahan personel yang memadai dan penekanan pada pendekatan humanis serta sinergi antara berbagai pihak, Polda Bali berupaya keras untuk menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan penuh rasa hormat bagi semua pihak yang terlibat dalam perayaan malam Pengerupukan. Keberhasilan pengamanan ini diharapkan dapat menjadi modal penting dalam menjaga kedamaian dan keharmonisan di Pulau Dewata, terutama saat bertepatan dengan dua hari raya besar keagamaan.

















