Kasus penemuan mayat tanpa kepala di aliran Kali Konteng, Sleman, kini menjadi perhatian serius dari aparat kepolisian setempat. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (10/4/2026) pagi saat warga sedang melakukan kerja bakti membersihkan sisa-sisa banjir yang tersangkut di sekitar jembatan. Penemuan tersebut memicu penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang untuk mengetahui penyebab kematian dan luka-luka yang ditemukan di tubuh korban.
Penemuan Mayat di Tumpukan Bambu
Sesosok jasad tanpa kepala ditemukan dalam kondisi mengenaskan di antara tumpukan bambu yang tersangkut di jembatan Kali Konteng, tepatnya di wilayah Padukuhan Pereng Kembang, Kalurahan Balecatur, Gamping, Sleman. Kejadian ini berawal ketika warga sedang melakukan kerja bakti bersama perangkat desa untuk membersihkan material sisa banjir yang menyumbat aliran sungai.
Menurut Kapolsek Gamping AKP Bowo Susilo, S.H., penemuan jasad tersebut terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu, warga yang sedang membersihkan puing-puing bambu mendapati sesosok mayat tergeletak di tengah tumpukan tersebut. Segera setelah menerima laporan, petugas kepolisian langsung tiba di lokasi dan bekerja sama dengan Tim Inafis Polresta Sleman untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Identifikasi Korban dan Keluarga Mengenali Jasad
Hingga saat ini, identitas korban masih dalam proses pengidentifikasian. Namun, akhirnya keluarga korban datang ke lokasi dan mengenali jasad tersebut berdasarkan ciri-ciri fisik yang dikenali. Di antaranya adalah bentuk kaki, adanya bekas penyakit kulit menahun (eksim) di atas mata kaki, serta pakaian berupa kaos berwarna hijau bertuliskan “Kalifornia”.
Korban diketahui bernama MR (70), warga Dusun Sebaran, Kalurahan Sidoarum, Godean. Dari keterangan keluarga, korban memiliki riwayat pikun dan sering meninggalkan rumah tanpa tujuan yang jelas. Bahkan, pada Jumat (9/4/2026) pagi, korban dilaporkan kembali pergi dari rumah dan belum sempat ditemukan hingga penemuan jasad tersebut.
Penyebab Kematian Masih Dalam Pendalaman
Meski identitas korban telah diketahui, penyebab kematian masih dalam pendalaman. Dugaan sementara adalah korban terbawa arus banjir yang terjadi sehari sebelumnya. Namun, hal ini belum dapat dipastikan. Petugas masih meneliti luka-luka yang ditemukan di tubuh korban, termasuk kemungkinan korban mengalami benturan keras saat terbawa arus atau terkena alat berat selama proses pembersihan puing.
“Karena luka, ada darah di leher almarhum ini masih segar, masih baru. Ini masih didalami, apakah ini disebabkan oleh benturan saat terbawa arus, terkena alat berat (eksavator) saat proses pembersihan puing, atau ada penyebab lain,” ujar AKP Bowo Susilo.
Proses Pemeriksaan Medis dan Pencarian Bagian Kepala
Jenazah korban telah dievakuasi ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping untuk dilakukan pemeriksaan medis lebih lanjut. Langkah ini penting guna memastikan penyebab pasti kematian serta memperkirakan waktu korban meninggal.
Selain itu, aparat kepolisian bersama relawan dan BPBD masih melakukan penyisiran di sepanjang aliran Kali Konteng untuk mencari bagian kepala korban yang belum ditemukan. Proses pencarian ini juga bertujuan untuk mengumpulkan petunjuk tambahan yang bisa membantu penyelidikan lebih lanjut.
Reaksi Masyarakat dan Dampak Cuaca Ekstrem
Peristiwa ini menambah daftar panjang dampak cuaca ekstrem yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menyisakan tragedi kemanusiaan yang menyisakan duka dan tanda tanya. Masyarakat sekitar mengungkapkan kekecewaan dan kekhawatiran terhadap keamanan serta kesadaran masyarakat akan bahaya banjir.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, membenarkan bahwa pada hari yang sama dilakukan penanganan lanjutan dampak cuaca ekstrem di wilayah tersebut. Pembersihan difokuskan pada aliran Kali Konteng yang tersumbat rumpun bambu menggunakan alat berat.
Polisi masih terus mendalami kasus penemuan mayat di Sungai Konteng Sleman. Meskipun identitas korban telah diketahui, penyebab kematian masih dalam proses investigasi. Penemuan ini menjadi peringatan bagi masyarakat tentang risiko banjir dan pentingnya kesadaran akan keamanan diri serta lingkungan sekitar.
Penulis : wafaul




















