Penguatan Literasi Kebencanaan dalam Pendidikan
Jakarta – Anggota Komisi VIII DPR, Muhamad Abdul Azis Sefudin, menekankan pentingnya penguatan literasi kebencanaan agar menjadi bagian dari kurikulum sekolah maupun kegiatan ekstrakurikuler. Ia menilai hal ini sangat relevan sebagai bagian dari pendidikan karakter, terutama bagi generasi muda yang tinggal di wilayah rawan bencana seperti Indonesia.
Menurut Azis, edukasi kebencanaan tidak cukup hanya dilakukan secara insidental saat terjadi bencana. Ia menilai perlu adanya pendekatan yang berkelanjutan dan sistematis dalam lingkungan pendidikan.
“Kita tidak bisa hanya reaktif. Literasi kebencanaan harus ditanamkan sejak dini agar anak-anak memiliki kesadaran, kesiapsiagaan, dan kemampuan mitigasi yang baik,” ujarnya.
Integrasi Materi Kebencanaan dalam Kurikulum
Melalui integrasi materi kebencanaan dalam kurikulum maupun aktivitas ekstrakurikuler seperti simulasi evakuasi, pelatihan dasar tanggap darurat, hingga pengenalan risiko bencana lokal, siswa dapat dibekali pemahaman yang aplikatif.
Azis menjelaskan bahwa materi kebencanaan ini bisa dikemas secara kontekstual dan menarik, bukan hanya dalam bentuk teori di kelas.
“Bisa melalui praktik langsung, simulasi, bahkan kolaborasi dengan pihak terkait agar siswa benar-benar paham apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi,” tambahnya.
Membangun Karakter Tangguh
Azis menilai pendekatan pendidikan karakter berbasis kebencanaan akan membangun sikap disiplin, gotong royong, serta kepedulian sosial di kalangan pelajar.
“Ini membentuk karakter yang tangguh bencana sekaligus membangun solidaritas dan kepedulian terhadap sesama saat menghadapi situasi darurat,” katanya.
Peran Pemerintah dalam Pengembangan Kebijakan
Legislator asal Daerah Pemilihan Jawa Barat III (Kabupaten Cianjur-Kota Bogor) ini mendorong pemerintah, khususnya kementerian terkait, untuk menyusun kebijakan yang mendorong integrasi literasi kebencanaan secara sistematis di dunia pendidikan.
Selain itu, sinergi dengan lembaga kebencanaan dan pemerintah daerah dinilai penting agar materi yang diajarkan sesuai dengan kondisi dan potensi risiko di masing-masing wilayah.
“Pemerintah perlu hadir dengan kebijakan yang konkret, mulai dari penyusunan modul, pelatihan guru, hingga standarisasi program kebencanaan di sekolah. Ini harus menjadi gerakan nasional yang terstruktur, bukan sekadar inisiatif sporadis,” tegasnya.
Harapan untuk Generasi Muda
Azis berharap generasi muda Indonesia tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara akademi dan juga memiliki ketangguhan dalam menghadapi bencana, sehingga mampu meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan di masa depan.
“Kalau kita ingin mengurangi risiko bencana ke depan, kuncinya ada pada generasi muda yang paham, siap, dan tidak panik saat menghadapi situasi darurat. Di situlah pentingnya pendidikan kebencanaan sebagai investasi jangka panjang bangsa,” serunya.




















