Peluang Mitra Investasi Baru RI: Prabowo di Prancis

Diposting pada

Kunjungan Kenegaraan ke Prancis Hasilkan Investasi Rp61,25 Triliun, Buka Peluang Mitra Investasi Baru ke Eropa

Presiden RI Prabowo Subianto baru-baru ini menyelesaikan kunjungan kenegaraan ke Prancis yang membuahkan hasil signifikan, yakni kesepakatan investasi baru senilai US$3,5 miliar atau setara dengan Rp61,25 triliun. Kunjungan ini tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga membuka pintu bagi Indonesia untuk memperluas jaringan mitra investasinya ke Benua Eropa.

Kunjungan kenegaraan yang berlangsung dari tanggal 26 hingga 30 Mei 2026 ini merupakan bagian dari agenda diplomasi bilateral yang intensif. Sebelumnya, Presiden Prabowo telah dua kali mengunjungi Prancis di tahun yang sama. Kunjungan pertama pada 23 Januari 2026 berfokus pada penguatan kerja sama strategis dan dihadiri jamuan pribadi bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Elysee. Kemudian, pada April 2026, pertemuan bilateral kembali digelar untuk membahas penguatan kerja sama di berbagai sektor prioritas, termasuk energi, pendidikan, komunikasi digital, serta investasi ekonomi jangka panjang yang saling menguntungkan.

Capaian Investasi dan Peluncuran Forum Bisnis Tingkat Tinggi

Kunjungan terbaru ini menghasilkan empat kesepakatan komersial baru yang berfokus pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan. Kesepakatan ini dicapai bersamaan dengan peluncuran France–Indonesia High Level Business Council (FI-HLBC) pada 28 Mei 2026, yang disaksikan langsung oleh kedua kepala negara.

FI-HLBC merupakan forum bisnis tingkat tinggi yang mempertemukan 30 pemimpin perusahaan dan pelaku industri utama dari kedua negara, dengan total kapitalisasi pasar mencapai US$1,3 triliun. Forum ini diharapkan dapat mendorong partisipasi perusahaan-perusahaan Prancis yang lebih besar di perekonomian Indonesia dan memperkuat peran Prancis sebagai pemimpin di Eropa serta di kawasan Asia Tenggara.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa capaian ini merupakan tonggak penting dalam mempererat kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Prancis. Forum ini tidak hanya memperluas peluang investasi dan perdagangan yang saling menguntungkan, tetapi juga menunjukkan peningkatan kepercayaan dunia usaha Prancis terhadap Indonesia. Pemerintah menargetkan peningkatan nilai perdagangan bilateral kedua negara hingga tiga kali lipat pada tahun 2035.

“Kepercayaan dunia usaha Prancis terhadap Indonesia terus meningkat. Kesepakatan yang tercapai menunjukkan bahwa Indonesia dipandang sebagai mitra strategis yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang dan iklim investasi yang semakin kompetitif,” ujar Rosan.

Diversifikasi Mitra Investasi Menuju Eropa

Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Prancis ini dinilai membawa peluang diversifikasi mitra investasi bagi Indonesia. Selama ini, negara-negara seperti Singapura, Hong Kong, dan China masih mendominasi kontribusi investasi di Indonesia. Data realisasi investasi per kuartal I/2026 menunjukkan peningkatan sebesar 7,22% secara tahunan, dengan porsi penanaman modal asing mencapai 50,11%. Negara-negara penyumbang terbesar investasi asing pada periode tersebut adalah Singapura (sekitar US$4,6 miliar), Hong Kong (US$2,7 miliar), China (US$2,2 miliar), AS (US$1,7 miliar), dan Jepang (US$1 miliar).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta W. Kamdani, menekankan bahwa penguatan kerja sama bilateral dengan Prancis membuka peluang diversifikasi mitra investasi ke Eropa. Sektor-sektor yang menjadi bidikan investasi pun semakin beragam, tidak hanya memperdalam kerja sama rantai pasok yang sudah ada, tetapi juga menciptakan diversifikasi ke sektor-sektor baru. Sektor-sektor yang dinilai memiliki potensi besar meliputi energi bersih, infrastruktur dan logistik, serta hilirisasi produk mineral kritis, termasuk kontribusi terhadap pembangunan ekosistem kendaraan listrik (EV). BUMN juga diharapkan dapat menerima manfaat dalam bentuk penguatan kapasitas perakitan lokal atau potensi produksi bersama untuk produk industri pertahanan tertentu.

Upaya Konsisten Memperluas Jaringan Mitra Strategis

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menyoroti konsistensi upaya Presiden Prabowo dalam memperluas mitra investasi strategis. Pertemuan tiga kali dengan Presiden Macron dalam kurun waktu kurang dari setahun menunjukkan komitmen yang kuat. Selain Prancis, Presiden Prabowo juga telah melakukan kunjungan ke Inggris, Jepang, dan Korea Selatan di tahun yang sama, yang juga menghasilkan komitmen investasi signifikan.

  • Inggris: Kunjungan pada 18-21 Januari 2026 menghasilkan komitmen investasi sebesar £4 miliar (sekitar Rp90 triliun), difokuskan pada sektor maritim, pendidikan, dan pengembangan industri terkait.
  • Amerika Serikat: Lawatan pada 17-21 Februari 2026 mengamankan investasi senilai US$38,4 miliar (sekitar Rp650 triliun) melalui 11 nota kesepahaman (MoU), mencakup sektor mineral kritis, energi, pangan, teknologi semikonduktor, dan kawasan perdagangan bebas.
  • Jepang: Kunjungan pada 29-31 Maret 2026 menghasilkan investasi senilai US$23,63 miliar (sekitar Rp401,71 triliun) melalui 11 MoU, meliputi sektor energi, sumber daya alam, teknologi, digital, keuangan, dan gaya hidup.
  • Korea Selatan: Lawatan pada 31 Maret-2 April 2026 membukukan komitmen investasi sebesar US$10,2 miliar (sekitar Rp173 triliun) melalui 10 MoU, dengan fokus pada ekonomi, energi, digital, kesehatan, dan industri masa depan.

Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa pola ini menunjukkan upaya pemerintah untuk membuka lebih banyak jalur kerja sama dan tidak hanya bertumpu pada satu atau dua negara. Agenda ekonomi yang jelas terlihat di balik setiap kunjungan diplomatik, dengan komitmen investasi yang diarahkan ke sektor-sektor strategis seperti hilirisasi nikel, kendaraan listrik, dan energi terbarukan, yang merupakan fokus pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah industri nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Tantangan dan Peluang Diversifikasi ke Eropa

Upaya diversifikasi mitra investasi, terutama ke Eropa, dianggap penting dalam menghadapi persaingan global. Namun, langkah ini tidak terlepas dari tantangan.

  • Perbedaan Standar Lingkungan dan Keberlanjutan: Banyak kebijakan Uni Eropa, meskipun bertujuan melindungi lingkungan, sering dipersepsikan sebagai hambatan dagang baru oleh negara berkembang.
  • Proses Pengambilan Keputusan yang Lebih Panjang: Dibandingkan negara-negara Asia Timur atau China, investor Eropa cenderung memiliki proses evaluasi internal yang lebih ketat, mempertimbangkan aspek tata kelola, keberlanjutan, risiko politik, dan kepatuhan regulasi. Hal ini dapat menyebabkan jarak yang cukup panjang antara penandatanganan kesepakatan dan realisasi investasi.
  • Kepastian Hukum dan Konsistensi Kebijakan: Investor Eropa sangat memperhatikan stabilitas aturan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, perbaikan iklim usaha di dalam negeri, termasuk kepastian regulasi, harus berjalan seiring dengan promosi investasi di luar negeri.

Meskipun demikian, Prancis memiliki daya tarik tersendiri sebagai mitra strategis yang relatif independen dalam isu internasional, sejalan dengan pendekatan bebas aktif dalam politik luar negeri Indonesia. Upaya ini lebih merupakan perluasan opsi dan pengurangan risiko ketergantungan, bukan upaya memilih kubu tertentu. Dengan demikian, kunjungan kenegaraan ke Prancis menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi ekonomi Indonesia di panggung global.

Gambar Gravatar
Luna merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan