No Result
View All Result
Subscribe
  • Login
  • Register
batampena.com
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
batampena.com
No Result
View All Result
Home seni

Puisi Esai: Kampungku di Aceh Hilang

Hidayat by Hidayat
13 Desember 2025 - 10:11
in seni
0

Kehilangan Kampung dan Harapan yang Tertunda

Di tengah duka, Zainal memandang langit yang kelam. Ia baru saja kembali ke Aceh setelah dua hari pergi, namun ketika ia menoleh, kampungnya telah lenyap. Seperti halaman kitab yang dirampas langit, tanpa sempat meninggalkan serpihan tinta. Pesan singkat yang menyebutkan “banjir besar” menggoyahkan dunianya. Dua kata yang terdengar sederhana, namun bagi Zainal, itu menjadi awal dari kehancuran.

Bayang-bayang keluarga menyala seperti lampu yang menahan napas di ujung padam. Pertanyaan kecil Lala, yang dulu hanya terdengar seperti rasa ingin tahu, kini berubah menjadi nubuat yang menggigil: “Ayah, kalau hujan keras, Lala sembunyi di mana?” Jawaban itu kembali menghantam dadanya: “Di dada Ayah, sayang… selalu di dada Ayah.” Anggukan Lala menjadi doa kecil yang ia simpan seperti bunga di antara halaman langit. Namun Zainal tak sadar, janji itu tumbuh menjadi sesuatu yang tak sempat ia jaga.

Empat Kampung yang Disapu Banjir

Saat roda pesawat menyentuh bumi, bumi lain justru hilang dari hidupnya. Sawang, Jambo Aye, Peusangan, dan satu lagi kampung hilang. Empat kampung disapu arus, menjadi huruf-huruf basah yang dihapus sungai sebelum sempat dibaca sejarah. Zainal memaksa pulang, namun jalan ke Sawang sudah tiada. Yang tersisa hanyalah parut bumi yang terbelah seperti mulut raksasa, menelan masa lalu tanpa sisa.

Ia berdiri di tepi jurang, berteriak sekencang mungkin: “Lala! Ayah pulang!” Teriakannya menanduk langit, retak menjadi serpihan gema yang hanya didengar awan. Awan yang hari itu pun sedang belajar menangis. Zainal terjatuh ke dalam dirinya sendiri; nama Tuhan berputar di dadanya seperti layang-layang putus benang, menyentuh langit sebentar, lalu jatuh kembali ke lumpur.

Baca Juga  Luka yang Menyelimuti Mendua

Suara yang Hilang dan Kenangan yang Tak Bisa Ditutup

Angin datang membawa sisa suara kampung: pecahan azan, tawa anak, derit papan rumah, berputar di telinga Zainal seperti kawanan burung kehilangan arah yang jatuh satu per satu ke dadanya, menjelma kawah sunyi yang tak bisa lagi ia tutup dengan doa.

Di antara lumpur yang menelan nama manusia, sebuah sandal ungu mengapung. Sandal kecil itu tampak ringan, namun bagi Zainal rasanya seberat seisi Aceh. Lala punya sandal seperti itu. Dan ia bertanya dalam hati yang retaknya tak sanggup ia sembunyikan: apakah itu sandal Lala?

Masa Lalu yang Mengajarkan Kesadaran

Di tengah duka itu, ia teringat dirinya yang muda: aktivis yang pernah berteriak menolak hutan Sawang ditebang, hutan yang kini, seperti dirinya, kalah oleh dunia yang tumbuh tanpa jiwa. Di hulu, para penebang menumpuk batang pohon seperti kitab suci yang kehilangan ayat. Setiap gergaji yang bergerak menghapus satu doa hujan, mengirim banjir sebagai khotbah terakhir bumi yang letih.

Dulu pohon-pohon itu berdiri sebagai penjaga kampung, menulis doa dengan akar. Kini mereka mengapung sebagai mayat panjang, membawa pesan: “Kami tumbang dulu. Kini giliran kalian merasakan sunyi kami.”

Alam yang Menjawab Tanpa Amarah

Alam tak membalas dengan amarah, melainkan dengan kearifan yang tak pernah meleset: yang digergaji akan balas menggergaji, yang ditebang akan kembali dalam bentuk banjir yang tak mengenal belas kasih. Di dalam kepalanya, potongan sejarah berputar menjadi kaca patri yang pecah: letup senjata, serak sirene, janji penghijauan yang menggantung di lampu hotel, garis tinta yang merobek peta konsesi.

Semua pecahan itu memantulkan satu kata yang bahkan tak sanggup ia bisikkan kepada dirinya sendiri: pulang.

Baca Juga  Luka yang Menyelimuti Mendua

Malam yang Pecah dan Harapan yang Tetap Ada

Di kepalanya malam pecah seperti bendungan tua; nama Lala, deru gergaji, dan sirene kamp pengungsian bertabrakan menjadi satu arus gelap yang menyeret seluruh peta Aceh ke dalam dadanya. Malam itu, di antara puing dan doa yang patah, Zainal berlutut. Ia menggenggam sandal ungu itu seperti menggenggam sebuah planet kecil, dan ia merasakan retaknya di telapak tangannya.

Di genggamannya, hutan dan Lala menjelma satu bayangan: rindang rambut putrinya serupa rimbun daun yang pernah meneduhkan kampung. Ketika batang-batang tumbang tanpa doa, baru ia paham, setiap pohon yang roboh adalah helai napas Lala yang diam-diam dipatahkan.

Dan kampungnya di Aceh, yang malam itu entah di mana hilangnya, berubah menjadi air mata dan air bah, bersuara melalui angin: “Ingatlah aku. Rawatlah aku. Sebelum aku kembali hanya sebagai kenangan.”

  • Editor: Riko A Saputra
  • Redaktur Pelaksana: Erwin
Temukan Berita Lainnya

Baca Juga

Luka yang Menyelimuti Mendua
seni

Luka yang Menyelimuti Mendua

10 Desember 2025 - 20:46
Please login to join discussion
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Aussie Porn Blocks Fuel VPN App Surge

Aussie Porn Blocks Fuel VPN App Surge

10 Maret 2026 - 21:44
35 Soal Tes Excel: Dasar, Rumus, Fungsi & Jawaban

35 Soal Tes Excel: Dasar, Rumus, Fungsi & Jawaban

20 Desember 2025 - 16:45
Gaji ke-13 PNS, PPPK, dan Pensiunan Cair Juni 2026: Besaran dan Komponen

Gaji ke-13 PNS, PPPK, dan Pensiunan Cair Juni 2026: Besaran dan Komponen

26 April 2026 - 03:19
BLT Kesra 2026: Jadwal Cair Bansos Rp 900 Ribu

BLT Kesra 2026: Jadwal Cair Bansos Rp 900 Ribu

17 Februari 2026 - 04:19
Woolies Fissler Pan Promo: Worth the Points? My Honest Review

Woolies Fissler Pan Promo: Worth the Points? My Honest Review

20 Maret 2026 - 14:00
Bali Serius! Koster Kolaborasi dengan Menteri Imigrasi Perketat Pengawasan WNA

Bali Serius! Koster Kolaborasi dengan Menteri Imigrasi Perketat Pengawasan WNA

1 Mei 2026 - 01:30
Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, Perjalanan KA Parahyangan Dibatalkan

Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, Perjalanan KA Parahyangan Dibatalkan

1 Mei 2026 - 01:10
Lolos GSA 2026, Mahasiswa UBSI Karawang Masuk 2 Ribu Besar dari 81 Ribu Peserta

Lolos GSA 2026, Mahasiswa UBSI Karawang Masuk 2 Ribu Besar dari 81 Ribu Peserta

1 Mei 2026 - 01:01
Produksi Dibatasi, 102 Pekerja Tambang Bontang Di-PHK

Produksi Dibatasi, 102 Pekerja Tambang Bontang Di-PHK

1 Mei 2026 - 00:41
Changan Perkenalkan Deepal L06 Facelift dan Varian Baru di Auto China 2026

Changan Perkenalkan Deepal L06 Facelift dan Varian Baru di Auto China 2026

1 Mei 2026 - 00:33

Pilihan Redaksi

Bali Serius! Koster Kolaborasi dengan Menteri Imigrasi Perketat Pengawasan WNA

Bali Serius! Koster Kolaborasi dengan Menteri Imigrasi Perketat Pengawasan WNA

1 Mei 2026 - 01:30
Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, Perjalanan KA Parahyangan Dibatalkan

Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, Perjalanan KA Parahyangan Dibatalkan

1 Mei 2026 - 01:10
Lolos GSA 2026, Mahasiswa UBSI Karawang Masuk 2 Ribu Besar dari 81 Ribu Peserta

Lolos GSA 2026, Mahasiswa UBSI Karawang Masuk 2 Ribu Besar dari 81 Ribu Peserta

1 Mei 2026 - 01:01
Produksi Dibatasi, 102 Pekerja Tambang Bontang Di-PHK

Produksi Dibatasi, 102 Pekerja Tambang Bontang Di-PHK

1 Mei 2026 - 00:41
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 batampena.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature

Copyright © 2025 batampena.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

*By registering into our website, you agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.
All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.