Kilau Oleh-Oleh Unik dari Tanah Suci: Kisah Kakek Kulasse dan Sembilan Boneka Unta
Kedatangan rombongan jamaah haji di Asrama Haji Sudiang Makassar selalu menjadi momen yang penuh haru dan kebahagiaan. Namun, di antara ratusan jamaah yang kembali ke tanah air pada Senin (1/6/2026) malam, ada satu sosok yang mencuri perhatian khusus: Kakek Kulasse, seorang jamaah berusia 62 tahun asal Desa Baringeng, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng. Keunikan Kakek Kulasse bukan terletak pada kesalehan ibadahnya semata, melainkan pada oleh-oleh istimewa yang ia bawa pulang dari Tanah Suci.
Saat tiba di asrama sekitar pukul 23.35 Wita, Kakek Kulasse terlihat membawa sembilan buah boneka unta. Kesembilan boneka tersebut digantung dengan rapi di leher dan tas samping yang dikenakannya. Momen ini sontak menarik perhatian para petugas serta jamaah lainnya yang turut menyambut kedatangan rombongan. Ketika ditanya mengenai tujuan membawa begitu banyak boneka unta, Kakek Kulasse dengan senyum penuh kasih menjelaskan bahwa oleh-oleh tersebut dipersembahkan untuk sembilan orang cucunya. “Untuk cucu, ada sembilan cucu, jadi sembilan ini semua,” ujarnya dengan bangga.
Perjalanan Ibadah yang Lancar dan Menyenangkan
Di balik kehangatan cerita oleh-olehnya, Kakek Kulasse juga mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran seluruh rangkaian ibadah haji yang telah ia jalani. Ia mengaku bahwa kondisi kesehatannya senantiasa terjaga selama berada di Arab Saudi, memungkinkannya untuk menunaikan seluruh syariat ibadah dengan khusyuk dan tuntas. “Cukup memuaskan, lancar-lancar semua. Sehat-sehat,” tuturnya, menggambarkan kepuasan batinnya setelah menunaikan rukun Islam kelima.
Penyambutan rombongan jamaah haji asal Soppeng ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, termasuk Asisten I Pemprov Sulsel Ishak Iskandar, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenhaj Sulsel, Ikbal Ismail, dan Wakil Bupati Soppeng, Selle KS Dalle. Kehadiran para pejabat ini menunjukkan betapa pentingnya momen kepulangan para tamu Allah ini bagi pemerintah daerah dan wilayah.
Imbauan Kesehatan Pasca Kepulangan
Dalam rangka menjaga kesehatan para jamaah haji pasca kepulangan, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Hasanuddin Makassar memberikan imbauan penting. Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah agar para jamaah tidak membuang kartu kontrol kesehatan atau yang sering disebut kartu kuning. Kartu ini memiliki peran vital sebagai alat pemantauan kesehatan para jamaah selama 21 hari ke depan setelah kembali dari perjalanan luar negeri.
Petugas PPIH melalui pengeras suara mengingatkan, “Jadi kartu kontrol atau kartu kuningnya jangan sampai tercecer.” Mereka menjelaskan bahwa pemantauan kesehatan ini bertujuan untuk mendeteksi dini apabila ada gejala penyakit yang mungkin timbul pasca perjalanan jauh dan kontak dengan lingkungan baru.
Adapun instruksi yang diberikan adalah:
* Kesehatan para jamaah akan terus dipantau selama 21 hari ke depan.
* Apabila jamaah mengalami gejala seperti demam, sesak napas, batuk pilek, atau mata merah, mereka diwajibkan untuk segera melaporkan diri ke pusat kesehatan terdekat atau puskesmas.
Tindakan pencegahan ini penting demi memastikan kesehatan para jamaah dan mencegah penyebaran penyakit yang mungkin terbawa dari luar negeri.
Data Jamaah Kloter I: Keberagaman Usia dan Kondisi Kesehatan
Berdasarkan data resmi dari PPIH Debarkasi Hasanuddin Makassar, Kloter I yang tiba di Makassar berjumlah 391 orang. Jamaah ini terdiri dari 104 pria dan 287 wanita, menunjukkan dominasi jamaah perempuan dalam kloter pertama ini.
Dalam rombongan ini, terdapat satu nama yang belum dapat tiba bersama rombongannya karena alasan kesehatan. Beddu Hape, seorang jamaah haji asal Kabupaten Soppeng yang berusia 83 tahun, masih menjalani perawatan di RS Al Jedaani-Ghulail Jeddah karena mengalami sesak napas. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa perjalanan ibadah haji memang membutuhkan kondisi fisik yang prima, dan PPIH senantiasa memastikan penanganan terbaik bagi jamaah yang sakit.
Di sisi lain, Kloter I juga mencatat dua jamaah dengan rentang usia yang sangat berbeda. Jamaah haji termuda dalam kloter ini adalah seorang perempuan bernama Husnul Khulqy Akhwan, yang baru berusia 19 tahun. Sementara itu, jamaah tertua dalam kloter ini adalah seorang kakek bernama Halika Palecceng, yang telah menginjak usia 85 tahun. Keberagaman usia ini menunjukkan bahwa ibadah haji dapat dilaksanakan oleh umat dari berbagai rentang usia, asalkan didukung dengan niat yang tulus dan persiapan yang memadai.













