• Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
Subscribe
  • Login
  • Register
batampena.com
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
batampena.com
No Result
View All Result
Home politik

Rusia Ancam Serangan Besar, Ukraina: Permainan Psikologis

Hendra by Hendra
19 Juni 2026 - 23:34
in politik
0

Taktik Psikologis Rusia: Sinyal Serangan untuk Meningkatkan Tekanan pada Warga Ukraina

Rusia dilaporkan menggunakan strategi yang kompleks, menggabungkan tekanan militer dengan manipulasi psikologis, untuk mempengaruhi warga Ukraina. Wakil Kepala Markas Koordinasi untuk Penanganan Tawanan Perang Ukraina, Andrii Yusov, mengungkapkan bahwa Rusia sengaja memberikan sinyal kesiapan untuk melancarkan serangan, namun kemudian menunda atau menangguhkannya. Taktik ini bertujuan untuk meningkatkan ketegangan dan memicu kelelahan mental di kalangan masyarakat Ukraina yang telah hidup dalam kondisi perang selama lebih dari empat tahun.

“Mengenai serangan, ya, tentu saja, orang-orang sedang mempersiapkan diri untuk serangan, dan mereka benar melakukannya. Kami tidak pernah melakukan latihan siaga serangan udara sejak dimulainya invasi skala penuh. Dan tentu saja ini juga merupakan alat tekanan dan pengaruh psikologis: memberi sinyal kesiapan untuk menyerang, kemudian menunda atau menangguhkan serangan,” ujar Yusov. Ia menekankan bahwa meskipun taktik ini dirancang untuk melemahkan semangat, pasukan keamanan dan pertahanan Ukraina tetap siaga menghadapi segala kemungkinan. Masyarakat diimbau untuk selalu menanggapi peringatan serangan udara dengan serius dan mengikuti prosedur keselamatan yang berlaku.

Pernyataan ini muncul di tengah klaim Rusia yang menyatakan tidak melancarkan serangan ke Kyiv pada akhir pekan karena adanya “gencatan senjata Hari Trinitas”. Namun, klaim ini dibantah keras oleh pejabat Ukraina. Kepala Kantor Presiden Ukraina, Kyrylo Budanov, menegaskan bahwa tidak ada informasi mengenai gencatan senjata semacam itu dan justru menunjukkan banyaknya wilayah yang dihantam serta korban jiwa pada periode yang disebutkan.

Ukraina Bantah Klaim Gencatan Senjata Rusia

Klaim Rusia mengenai “gencatan senjata Hari Trinitas” yang menjadi alasan penundaan serangan ke Kyiv pada akhir pekan dibantah tegas oleh pihak Ukraina. Kepala Kantor Presiden Ukraina, Kyrylo Budanov, secara eksplisit menyatakan tidak menerima informasi apa pun mengenai rencana penghentian serangan sementara tersebut.

“Saya belum menerima informasi apa pun mengenai gencatan senjata untuk Minggu Trinitas. Selain itu, Anda dapat melihat seberapa banyak wilayah yang dihantam oleh Federasi Rusia kemarin dan berapa banyak korban jiwa yang ada,” ujar Budanov dalam Forum Arsitektur Keamanan di Kyiv.

Sebelumnya, beberapa media melaporkan bahwa ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin, Yuri Ushakov, mengklaim Moskow tidak mengeluarkan perintah serangan jarak jauh selama perayaan Hari Trinitas. Klaim ini bahkan disebut telah disampaikan kepada utusan khusus Amerika Serikat. Namun, baik Rusia maupun Ukraina tidak pernah secara resmi mengonfirmasi adanya gencatan senjata tersebut.

Baca Juga  Skandal Tiket Piala Dunia: Alasan Kejaksaan AS Selidiki Lonjakan Harga Tak Wajar

Penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Dmytro Lytvyn, juga menegaskan tidak ada bukti bahwa Rusia secara sukarela menunda serangan terhadap wilayah Ukraina. Pernyataan ini muncul setelah adanya peringatan dari saluran pemantau militer Ukraina mengenai potensi serangan besar Rusia pada 30–31 Mei, terutama setelah Moskow mengancam akan melancarkan “serangan beruntun dan sistematis” terhadap fasilitas industri pertahanan Ukraina di Kyiv. Meskipun serangan skala besar yang diperkirakan tidak terjadi, Ukraina menegaskan tidak ada bukti bahwa Rusia benar-benar memberlakukan gencatan senjata selama akhir pekan tersebut.

Zelenskyy Ulangi Peringatan Serangan Besar Rusia dan Ancaman ke Kyiv

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali mengeluarkan peringatan serius mengenai persiapan Rusia untuk melancarkan serangan besar-besaran. Zelenskyy menyatakan bahwa informasi intelijen mengenai ancaman tersebut masih relevan dan pasukan pertahanan udara Ukraina berada dalam kondisi siaga penuh untuk menghadapi kemungkinan serangan kapan saja.

“Peringatan intelijen tentang serangan Rusia tetap berlaku. Serangan besar-besaran bisa terjadi – mereka telah mempersiapkannya. Pasukan pertahanan udara kita siap 24/7 sebisa mungkin dengan persediaan yang tersedia,” kata Zelenskyy.

Peringatan ini muncul setelah Rusia mengancam akan memperluas serangan ke Kyiv dan berbagai fasilitas strategis Ukraina. Ancaman tersebut dikeluarkan menyusul tuduhan Moskow bahwa Ukraina menyerang gedung pendidikan dan asrama di Starobilsk, wilayah Luhansk yang diduduki Rusia. Namun, Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina membantah tuduhan tersebut, menegaskan bahwa serangan mereka menargetkan markas unit militer Rusia “Rubicon” yang diduga bertanggung jawab atas serangan terhadap warga sipil.

Pada 25 Mei, Kementerian Luar Negeri Rusia mengumumkan niatnya untuk melancarkan serangan sistematis terhadap perusahaan industri pertahanan Ukraina, khususnya di Kyiv. Moskow juga mengancam akan menyerang “pusat-pusat pengambilan keputusan” dan pos-pos komando militer Ukraina.

Dalam komunikasi diplomatik, Rusia menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas di Kyiv merupakan respons atas serangan Ukraina ke wilayah Rusia. Moskow bahkan menyarankan negara asing untuk mempertimbangkan evakuasi personel diplomatik mereka dari Kyiv. Namun, pihak Barat, termasuk Prancis dan Polandia, menegaskan komitmen mereka untuk tetap menjalankan tugas diplomatik, sementara Duta Besar Uni Eropa untuk Ukraina menyebut ancaman terhadap diplomat sebagai tanda keputusasaan Moskow. Kementerian Luar Negeri Ukraina mengecam langkah Rusia sebagai pemerasan dan eskalasi konflik, serta mendesak mitra internasional untuk tidak memberikan konsesi dan justru meningkatkan dukungan militer.

Baca Juga  Ketapang: Pancasila 2026, Api Persatuan Bangsa Berkobar

Target Mengakhiri Perang Sebelum Musim Dingin dan Upaya Diplomasi

Kyrylo Budanov, kepala staf Presiden Volodymyr Zelenskyy, menyatakan bahwa mengakhiri perang sebelum musim dingin tiba merupakan target yang realistis dan merupakan instruksi langsung dari Presiden Zelenskyy. Tujuannya adalah untuk segera mengakhiri konflik melalui jalur diplomasi maupun negosiasi.

“Ini adalah instruksi presiden – untuk mencoba mengakhiri perang ini sesegera mungkin. Sebaiknya sebelum musim dingin. Sebagai kepala Kantor Presiden, saya akan melakukan segala yang saya bisa untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh presiden Ukraina. Ini benar-benar tepat, tepat waktu, dan telah dipikirkan dengan matang,” kata Budanov. Ia juga mengindikasikan adanya tanda-tanda nyata penghentian permusuhan, meskipun detailnya tidak diungkapkan.

Pernyataan ini sejalan dengan dorongan Zelenskyy untuk memulai pembicaraan damai dengan Rusia sebelum musim dingin. Ia berpendapat bahwa posisi Ukraina saat ini lebih kuat, yang dapat menjadi modal penting dalam perundingan. Seorang komandan senior Ukraina bahkan memperkirakan negara tersebut memiliki waktu sekitar enam bulan untuk memperkuat posisi di medan perang sebelum memasuki tahap negosiasi yang lebih serius.

Budanov juga mengungkapkan bahwa delegasi Amerika Serikat diperkirakan akan mengunjungi Moskow dan Kyiv dalam waktu dekat untuk mendukung upaya diplomasi, meskipun agenda kunjungan tersebut belum dirinci.

Serangan ke Kyiv, Prancis Tahan Kapal Tanker Rusia, dan Dampak Perang

Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali menjadi sasaran serangan besar-besaran Rusia pada Selasa pagi, memicu peringatan bagi warga untuk mencari tempat perlindungan. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, melaporkan sejumlah kebakaran akibat puing-puing rudal yang jatuh, termasuk pada sebuah gedung apartemen sembilan lantai. Sistem pertahanan udara Ukraina dilaporkan aktif bekerja untuk menghadang serangan tersebut.

Di sisi lain, Prancis berhasil menahan sebuah kapal tanker minyak bernama Tagor di Samudra Atlantik, yang diduga merupakan bagian dari “armada bayangan” Rusia untuk menghindari sanksi internasional. Kapal tersebut diketahui berangkat dari Murmansk, Rusia, dan diduga menggunakan bendera Kamerun palsu. Prancis menegaskan tindakan ini dilakukan sesuai hukum laut internasional untuk mencegah upaya penghindaran sanksi yang dapat mendanai perang Rusia. Rusia mengecam tindakan ini sebagai bentuk pembajakan.

Presiden Zelenskyy juga menyatakan bahwa militer Ukraina kini mampu menyerang jalur logistik Rusia hampir di seluruh wilayah pendudukan, yang dinilai krusial untuk menghambat pengiriman pasukan dan amunisi. Kemampuan serangan jarak jauh Ukraina yang berkembang pesat diklaim membuat tidak ada lagi jalur aman bagi pasukan Rusia di wilayah selatan dan timur Ukraina.

Baca Juga  Indonesia Borong 42 Rafale: Prancis Bidik Kolaborasi Lebih Jauh

Sementara itu, Rusia dilaporkan menghadapi krisis pasokan bahan bakar dalam negeri. Pemerintah Moskow berencana meningkatkan impor dari Belarus dan memperketat pengawasan ekspor bensin dan solar, bahkan mempertimbangkan larangan total ekspor bensin selama dua bulan. Kelangkaan bahan bakar juga terjadi di Krimea yang diduduki Rusia, terkait dengan gangguan jalur distribusi dan fasilitas energi akibat serangan Ukraina.

Di forum internasional, sebanyak 56 negara anggota PBB mengecam Rusia setelah sebuah drone Rusia dilaporkan menghantam gedung apartemen di Rumania, menyebabkan dua orang terluka dan memicu kekhawatiran internasional karena Rumania adalah anggota NATO. Negara-negara tersebut mendesak Rusia menghentikan tindakan yang berpotensi memperluas konflik dan meningkatkan ketegangan keamanan di Eropa.

Latar Belakang Konflik Rusia-Ukraina

Perang Rusia dan Ukraina yang dimulai secara terbuka pada 24 Februari 2022 merupakan puncak dari ketegangan yang telah berkembang sejak Ukraina merdeka dari Uni Soviet pada tahun 1991. Setelah merdeka, Ukraina mulai menjalin hubungan dekat dengan negara-negara Barat dan menyatakan keinginan untuk bergabung dengan NATO, yang dianggap Rusia sebagai ancaman terhadap keamanannya.

Ketegangan meningkat pada tahun 2014 setelah Revolusi Maidan yang menggulingkan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych. Rusia kemudian mengambil alih Semenanjung Krimea dan mendukung kelompok separatis pro-Rusia di wilayah Donetsk dan Luhansk. Berbagai upaya perdamaian, termasuk Perjanjian Minsk, gagal mencapai solusi permanen karena tuduhan pelanggaran oleh kedua belah pihak.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan operasi militer pada Februari 2022 bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia dan mencegah perluasan NATO, namun Ukraina dan negara Barat menganggapnya sebagai invasi yang melanggar kedaulatan. Sejak itu, Ukraina menerima bantuan militer dan kemanusiaan dari AS, Uni Eropa, dan sekutu lainnya, sementara Rusia menghadapi sanksi internasional yang luas. Konflik ini berdampak global pada pasokan energi dan pangan, serta ketegangan politik internasional. Upaya diplomasi untuk mencapai gencatan senjata dan perdamaian berkelanjutan masih terus dilakukan, meskipun berbagai upaya pembicaraan sebelumnya terhambat oleh isu-isu regional lainnya.

Tags: permainanpsikologisserangan
  • Editor: Riko A Saputra
  • Redaktur Pelaksana: Erwin
Temukan Berita Lainnya

Baca Juga

Prediksi Calon Kuat Pilkada Jakarta 2026: Siapa Saja yang Berpotensi Memimpin?
Berita Utama

Prediksi Calon Kuat Pilkada Jakarta 2026: Siapa Saja yang Berpotensi Memimpin?

19 Juni 2026 - 23:59
Khofifah Majukan WFH Jatim ke Jumat
politik

Khofifah Majukan WFH Jatim ke Jumat

19 Juni 2026 - 23:59
UU PDP Baru: Implikasi dan Kewajiban Perlindungan Data Pribadi Anda
berita

UU PDP Baru: Implikasi dan Kewajiban Perlindungan Data Pribadi Anda

19 Juni 2026 - 23:17
Trump: Netanyahu Gila, Saya Selamatkan Dia dari Penjara
politik

Trump: Netanyahu Gila, Saya Selamatkan Dia dari Penjara

19 Juni 2026 - 22:16
Pertemuan PBB di Jenewa: Gema Ketegangan Geopolitik Global Memasuki Babak Baru
berita

Pertemuan PBB di Jenewa: Gema Ketegangan Geopolitik Global Memasuki Babak Baru

19 Juni 2026 - 21:10
Trump ke Netanyahu: “Kau Gila, Aku Selamatkanmu!”
politik

Trump ke Netanyahu: “Kau Gila, Aku Selamatkanmu!”

19 Juni 2026 - 19:14
Please login to join discussion

Berita Populer

  • Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

    Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cak Nur dan Hardi Selamat Hood Bersama Rombongan Datangi KPU Kota Batam 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aussie Porn Blocks Fuel VPN App Surge

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Italia Setujui Hibah Kapal Induk Garibaldi ke RI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jaksa Tuntut Kompol Satria Nanda Dengan Pidana Mati 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pilihan Redaksi

Jemaah Haji Bangkalan Tunda Makanan di Mina

Jemaah Haji Bangkalan Tunda Makanan di Mina

20 Juni 2026 - 00:43

Nota Keuangan Kuartal II 2026: Prediksi Ekonomi & Kebijakan Kemenkeu yang Perlu Anda Tahu

20 Juni 2026 - 00:42
Trump’s Slush Fund: DC Insider on GOP’s Unfinished Business

Trump’s Slush Fund: DC Insider on GOP’s Unfinished Business

20 Juni 2026 - 00:38
Modric Pimpin Kroasia di Piala Dunia 2026

Modric Pimpin Kroasia di Piala Dunia 2026

20 Juni 2026 - 00:25
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 batampena.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature

Copyright © 2025 batampena.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In