Saham GOTO Tertekan, Indeks Global Pertimbangkan Status keanggotaan
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menghadapi gelombang aksi jual yang signifikan, mendorong harganya anjlok ke level terendah. Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5), saham GOTO terkunci pada harga Rp 50, mencapai batas auto reject bawah (ARB) dengan antrean jual yang mencapai 126,72 juta lot. Kapitalisasi pasar perusahaan kini menyusut menjadi Rp 57,03 triliun.
Tekanan ini sebagian besar dipicu oleh keputusan lembaga pemeringkat indeks global, MSCI. MSCI mengumumkan pembekuan sementara terhadap proses rebalancing saham GOTO. Keputusan ini diambil karena saham emiten teknologi tersebut diperdagangkan pada level minimum Rp 50 per saham, atau yang dikenal sebagai “gocap”. MSCI menilai kondisi ini menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi masalah replikasi indeks akibat rendahnya likuiditas saham GOTO.
Dalam pernyataan resminya, MSCI menguraikan bahwa seluruh perubahan terkait saham GOTO akan dibekukan selama peninjauan indeks Mei 2026. Kebijakan ini mencakup penyesuaian pada jumlah saham (number of shares/NOS), foreign inclusion factor (FIF), domestic inclusion factor (DIF), faktor pembatas (constraint factors), serta perubahan status penambahan atau penghapusan saham GOTO dari indeks MSCI.
MSCI berencana untuk meninjau kembali likuiditas saham GOTO pada evaluasi indeks Agustus 2026. Jika pada saat itu GOTO tidak memenuhi persyaratan likuiditas yang ditetapkan, MSCI membuka kemungkinan untuk mengeluarkan saham GOTO dari indeksnya.
FTSE Russell Juga Ambil Langkah Serupa
Tekanan terhadap saham GOTO tidak hanya datang dari MSCI. Lembaga pemeringkat indeks global lainnya, FTSE Russell, juga mengumumkan langkah serupa. Dalam pengumuman terbarunya yang dirilis pada 1 Juni 2026, FTSE menyatakan bahwa GOTO akan dikeluarkan dari FTSE Global Equity Index Series Mid Cap Index. Perubahan ini akan berlaku efektif mulai pekan terakhir Juni 2026.
“Penghapusan tersebut efektif mulai 2Juni 2026,” demikian bunyi pengumuman FTSE, yang dikutip pada Selasa (2/6).
FTSE Russell memberikan penjelasan bahwa penghapusan GOTO dari indeksnya disebabkan oleh status keempat emiten yang kini tercatat di Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut pandangan FTSE, papan pengembangan merupakan segmen pasar yang tidak memenuhi kriteria kelayakan untuk dimasukkan ke dalam FTSE Global Equity Index Series (GEIS). Keputusan ini juga sejalan dengan kebijakan perlakuan indeks Indonesia yang diterapkan dalam peninjauan indeks periode Juni 2026.
Sentimen Negatif dari Pasar Domestik
Selain tekanan dari indeks global, saham GOTO juga dihantam oleh beberapa sentimen negatif dari pasar domestik sejak awal Mei 2026. Akibatnya, investor institusi asing tercatat melakukan aksi jual besar-besaran terhadap saham raksasa teknologi nasional ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak 1 Mei 2026, investor asing telah melepas saham GOTO sebanyak 19,3 juta lot, atau setara dengan 1,93 miliar lembar saham. Nilai outflow atau dana asing yang keluar dari saham ini mencapai sekitar Rp 96,6 miliar.
Tekanan terhadap saham GOTO ini juga dipicu oleh penerbitan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026. Peraturan ini mengatur pemangkasan komisi aplikator ojek online dari batas maksimal 20% menjadi hanya 8%. Kebijakan ini secara langsung berdampak pada prospek pendapatan perusahaan ride-hailing seperti Gojek dan Grab, yang merupakan bagian inti dari ekosistem GOTO.
Meskipun demikian, ada perkembangan menarik dari sisi kepemilikan saham. Pemerintah, melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia, telah masuk menjadi salah satu pemegang saham GOTO. Namun, porsi kepemilikan Danantara saat ini belum signifikan.
Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan GoTo Gojek Tokopedia, R.A. Koesoemohadiani, dalam keterbukaan informasi BEI pada Selasa (5/5), menyatakan bahwa perseroan memahami Danantara telah melakukan pembelian saham GOTO melalui bursa dengan porsi kurang dari 1% dari total saham beredar.
“Perseroan menyambut baik investasi tersebut, sebagaimana juga investasi dari seluruh pemangku kepentingan lainnya, sebagai cerminan kepercayaan yang berkelanjutan terhadap fundamental usaha, kinerja, serta prospek jangka panjang Perseroan,” ujar Koesoemohadiani.
Kepemilikan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) (KSEI/diolah)












