Membentuk Pribadi Unggul: Rahasia Kurikulum Internasional dalam Menyiapkan Anak untuk Masa Depan Global
Menyaksikan buah hati tumbuh menjadi individu yang cerdas dan berprestasi adalah dambaan setiap orang tua. Namun, di era modern yang dinamis ini, kecerdasan akademik semata tidaklah cukup. Kesiapan mental, kedalaman empati, keluasan wawasan, serta kemampuan adaptasi dalam lingkungan global menjadi fondasi krusial yang tak kalah penting. Artikel ini akan mengupas bagaimana kurikulum internasional, khususnya yang diterapkan di ACG School Jakarta, mampu membentuk karakter anak yang tangguh dan berdaya saing. Melalui kegiatan School Tour and Interview yang diselenggarakan pada Kamis, 21 Mei 2026, di Jati Padang, Jakarta Selatan, bersama Bapak Myles Piers Loryn D’Airelle (Kepala Sekolah) dan Bapak Lucky Andreadi Purboyo (Praktisi Pemasaran dan Branding Digital), terungkap poin-poin kunci mengenai pentingnya growth mindset dan pendidikan global bagi anak.
Transformasi Pembelajaran: Dari Hafalan ke Pemahaman Mendalam
Salah satu perbedaan mendasar pendidikan internasional adalah pergeseran fokus dari metode hafalan materi pelajaran menjadi pembelajaran berbasis studi kasus. Pendekatan ini melatih siswa untuk memahami konsep secara mendalam, sehingga mampu mengaplikasikannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
“So that comes from the education that we had, but through Cambridge and IB and the inspired network, we have different programmes who placed the discussion inquiry based learning and analyzed case studies from different subjects,” ujar Bapak Myles.
Oleh karena itu, proses pendaftaran hingga materi pembelajaran di sekolah selalu dikaitkan dengan kurikulum internasional terkemuka seperti PYP, Cambridge, atau IB. Penerapan ini seringkali melibatkan contoh dan situasi nyata dari lapangan. Model pembelajaran ini secara efektif melatih siswa untuk berpikir kritis. Bapak Myles menjelaskan bahwa dalam pelatihan guru untuk kurikulum internasional, para pendidik justru ditantang untuk menempatkan diri pada posisi murid. Guru diminta merancang bagaimana setiap bab pelajaran dapat diwujudkan secara konkret di dunia nyata, agar anak-anak lebih mudah menangkap esensi ilmu tersebut secara mendalam.
Membangun Kepercayaan Diri dan Empati Secara Bertahap
Di ACG School Jakarta, pengembangan rasa percaya diri dan kemampuan berbicara di depan umum (public speaking) dilakukan secara perlahan, disesuaikan dengan kenyamanan psikologis anak.
“To the students who might be shy, we have to work more. We just don’t ask the student like any other to go in front of hundred people and do a presentation. It might be you start with ‘Okay, let’s start in a small group and a short presentation. Just a small group of your friends, 2 or 3. And make a presentation 2 minutes long’,” jelas Bapak Myles D’Airelle.
Semakin sering anak diberikan kesempatan, aktivitas tersebut akan terasa semakin biasa dan wajar bagi mereka. Kebiasaan ini, jika dibangun sejak jenjang sekolah dasar awal, akan membuat anak merasa lebih rileks dan siap saat memasuki jenjang sekolah menengah. Bahkan, sebelum presentasi formal dilakukan, guru terkadang mengajak siswa membuat video pendek yang merekam suara mereka sendiri. Hal ini bertujuan agar anak-anak mulai terbiasa dan nyaman mendengarkan suara mereka sendiri.
Selain dorongan semangat verbal, penguatan emosional juga ditanamkan dengan mengasah rasa empati antar siswa sejak dini. Bapak Myles memaparkan bahwa sekadar mengucapkan kata-kata motivasi memang penting, namun poin utamanya adalah melatih anak untuk berefleksi. Anak diajak untuk membayangkan bagaimana rasanya ketika mereka mendengarkan orang lain, dan apakah mereka juga ingin didengarkan oleh teman-temannya.

Menumbuhkan Keterbukaan Pikiran di Tengah Keberagaman
Dengan latar belakang siswa yang berasal dari berbagai kewarganegaraan dan keyakinan, toleransi tinggi menjadi nilai utama yang wajib dimiliki oleh setiap anak. Nilai inilah yang membuat siswa di ACG School Jakarta lebih mudah menerima perbedaan, termasuk merangkul Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) untuk belajar bersama di kelas sebayanya tanpa pembedaan atau perundungan (bullying).
“We are a diverse community, we want to be able open-minded. We might not always agree, but we want people to be able to say ‘I understand what you’re saying, I appreciate what you saying, but for me, this is what I feel,'” ujar Bapak Myles D’Airelle.
Terkait isu perundungan, iklim sekolah yang menuntut siswa senior untuk menjaga adik kelasnya menciptakan lingkungan belajar yang sangat aman. Konflik yang terjadi umumnya merupakan gesekan personal biasa antar siswa, yang merupakan hal wajar di mana pun.
“Saya di sini sih belum terlalu lama, 2.5 tahunan. Nggak pernah ada kasus itu, gitu. Yes, ada 2 orang yang, apa, berantem. Itu personal conflict, happens every time. Maksudnya di mana pun, gitu,” jelas Bapak Lucky Andreadi.

Growth Mindset: Kunci Sukses yang Bisa Diterapkan di Rumah
Meskipun kurikulum berkualitas tinggi kerapkali membutuhkan biaya yang tidak sedikit, esensi pola pikir utama dari kurikulum IB maupun Cambridge dapat diduplikasi secara mandiri di rumah oleh orang tua yang belum memiliki kesempatan menyekolahkan anak di sekolah internasional.
“I think the biggest part is one, is the mindset as you say. So you really need to focus on the growth mindset. So it is very much about ‘can I go through?’, ‘can I learn’, ‘am I open to think about this differently?’, ‘can I see what other people see or I see others?’ So you had to have that growth mindset,” papar Bapak Myles D’Airelle.
Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk memberikan variasi pengalaman baru sebanyak mungkin kepada anak. Ragam aktivitas tersebut sangat efektif dalam membantu anak tetap fokus sekaligus membentuk sudut pandang yang luas dan menyeluruh (holistic view). Langkah nyata ini bisa menjadi solusi alternatif yang sangat baik bagi orang tua yang belum memiliki kesempatan menyekolahkan anak di sekolah internasional.
Bagi anak yang kurang tertarik atau merasa kesulitan pada mata pelajaran tertentu, tugas orang tua dan guru adalah membantu mereka menemukan titik keberhasilan kecil. Hal ini bertujuan agar mereka merasa nyaman untuk terus berproses. Ketika anak berhasil melewati tantangan kecil tersebut, mungkin mereka tidak langsung jatuh cinta pada mata pelajarannya, namun setidaknya mereka menjadi merasa lebih nyaman dan tidak takut lagi untuk belajar.

Keamanan Berlapis dan Keterlibatan Penuh Orang Tua
Rasa aman di area sekolah dibangun secara berimbang dari sisi eksternal maupun internal. Dari sisi fasilitas, ACG School Jakarta menerapkan aturan keamanan ketat, mulai dari pemasangan CCTV di berbagai sudut, kewajiban menyertakan KTP untuk akses masuk, proses registrasi pengunjung, hingga pembedaan warna name tag khusus bagi orang tua dan tamu.
Keterlibatan orang tua di sekolah ini juga tergolong sangat besar, tidak hanya terbatas pada momen pembagian rapor. Kedekatan hubungan antara warga sekolah dan orang tua membuat potensi konflik atau masalah anak di sekolah dapat dideteksi dan diselesaikan secara cepat dan kekeluargaan.
Bagi siswa baru yang masuk di pertengahan jenjang sekolah (misalnya usia 10 atau 12 tahun), perbedaan budaya (culture shock) tentu menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasinya, ACG menyediakan program konseling khusus di tingkat secondary yang dinamakan Buddy Program.
“Kita melakukan program itu hopefully dengan harapan merasa diterima dan guru-gurunya, gurunya pasti udah lebih paham. Tapi bagaimana anak-anak ini bisa menerima teman yang baru atau dia bisa merasa diterima oleh lingkungan yang baru,” jelas Bapak Lucky Andreadi.
Siswa baru akan ditemani melakukan tur sekolah dan adaptasi oleh teman selevel yang memiliki latar belakang negara yang sama (misalnya sesama anak Indonesia), sehingga proses pembauran berjalan alami melalui obrolan sebaya.

Jembatan Menuju Perguruan Tinggi dan Pengalaman Global
Bagi orang tua yang mengkhawatirkan masa depan perguruan tinggi anak, lulusan ACG School Jakarta memiliki fleksibilitas penuh. Sekolah ini menerbitkan ijazah resmi yang diakui secara legal, sehingga alumni ACG terbukti tetap dapat melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit di Indonesia, seperti UGM, UI, dan ITB.
Selain itu, terdapat program exchange bergengsi, yaitu Inspired Global Exchange Programme. Program ini memfasilitasi pertukaran pelajar selama 5 minggu hingga 1 tahun penuh tanpa perlu khawatir kehilangan kuota kursi (vacancy) di sekolah asal. Program ini membuka kesempatan bagi siswa untuk belajar langsung di 20 sekolah Inspired terkemuka yang tersebar di 10 negara dunia, antara lain:
- Eropa
- United Kingdom (London & Wokingham), di antaranya di Fulham School, Reddam House Berkshire
- Switzerland (Montreux), di St. George’s International School
- Belgium (Waterloo), di St. John’s International School
- Italy (Milan), di International School of Milan
- Spain (Madrid, Cadiz, Toledo), di antaranya di King’s College (Soto de Viñuelas), Sotogrande International School, International School San Patricio Toledo
- Portugal (Palmela), di St. Peter’s International School
- Afrika
- Kenya (Nairobi), di Brookhouse Karen, Brookhouse Runda
- South Africa (Johannesburg, Pretoria, Western Cape, Kwa-Zulu-Natal), di antaranya di Reddam House (Helderfontein, Waterfall, The Hills, Durbanville, Umhlanga)
- New Zealand & Asia
- New Zealand (Auckland & Tauranga), di antaranya di ACG Parnell College, ACG Sunderland, ACG Strathallan, ACG Tauranga
- Vietnam (Ho Chi Minh City), di antaranya di Australian International School
Selama masa pertukaran, siswa dapat memilih tinggal di asrama sekolah (boarding school) atau bersama Homestay family resmi. Pengalaman ini sangat berharga untuk mengasah kemandirian, adaptabilitas, serta ketangguhan mental mereka di panggung dunia.
Dengan menyelaraskan pola parenting yang suportif di rumah dan pemilihan ekosistem sekolah yang tepat, orang tua dapat mengantarkan anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan dunia masa depan.














