Jejak Madura di Tahta Keraton Surakarta: Kisah Pakubuwono VII
Hubungan historis antara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan bumi Madura, khususnya Pamekasan, ternyata menyimpan cerita yang mendalam. Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Koes Moertiyah Wandansari, yang akrab disapa Gusti Moeng, membeberkan silsilah tak terduga yang menghubungkan salah satu raja penting Keraton Solo, Kanjeng Susuhunan Pakubuwono VII, dengan tanah Madura.
Menurut Gusti Moeng, Pakubuwono VII, yang memiliki nama asli Raden Mas Malikis Solikin, adalah raja Keraton Solo yang ternyata memiliki darah keturunan dari Pamekasan, Madura. Silsilah ini bermula dari pernikahan antara Raja Pakubuwono IV dengan permaisurinya, Raden Ajeng Sukaptinah. Raden Ajeng Sukaptinah sendiri merupakan putri dari Adipati Tjakra Adiningrat I yang berkuasa di Pamekasan.
Kisah ini berawal pada abad ke-18. Saat itu, Pakubuwono IV masih berstatus sebagai putra mahkota dan sedang menempuh pendidikan di kawasan Bekonang. Di masa inilah, ia bertemu dan jatuh hati pada Raden Ajeng Handoyo, putri tertua Adipati Tjakra Adiningrat I. Raden Ajeng Handoyo diketahui telah dipingit sejak berusia delapan tahun. Setelah menyelesaikan masa belajarnya di pesantren, Pakubuwono IV akhirnya dinikahkan dengan Raden Ajeng Handoyo.
Pernikahan antara Pakubuwono IV dan Raden Ajeng Handoyo dikaruniai seorang putra bernama Gusti Sugandhi. Namun, takdir berkata lain. Ketika Gusti Sugandhi masih berusia satu setengah tahun, ibunya, Raden Ajeng Handoyo, meninggal dunia. Pasca kepergian permaisurinya, Pakubuwono IV naik takhta Keraton Surakarta tanpa memiliki permaisuri baru.
Meskipun demikian, Pakubuwono IV berkeinginan untuk tetap menjaga hubungan baik dan mempererat tali silaturahmi dengan keluarga Adipati Tjakra Adiningrat I di Pamekasan. Untuk mewujudkan hal tersebut, ia kemudian menikahi adik kandung dari almarhumah Raden Ajeng Handoyo, yaitu Raden Ajeng Sukaptinah.
“Untuk menyambung tali keluarga, Pakubuwono IV menikahi adik kandung Raden Ajeng Handoyo. Dia adalah Raden Ajeng Sukaptinah dan memiliki keturunan Raden Mas Malikis Solikin,” jelas Gusti Moeng.
Dari pernikahan Pakubuwono IV dengan Raden Ajeng Sukaptinah inilah lahir seorang putra bernama Raden Mas Malikis Solikin. Raden Mas Malikis Solikin inilah yang kelak akan meneruskan takhta dan dikenal sebagai Raja Pakubuwono VII.
Peran Pakubuwono VII dalam sejarah Keraton Surakarta menjadi sangat krusial, terutama mengingat situasi politik pada masa itu. Ia naik takhta menggantikan pamannya, Pakubuwono VII, yang merupakan putra dari Pakubuwono IV dan Raden Ajeng Sukaptinah dari Pamekasan. Penggantian takhta ini terjadi karena raja sebelumnya, Pakubuwono VI, diasingkan oleh VOC ke Maluku dan wafat di Ambon.
Pada saat Pakubuwono VI diasingkan, putranya masih dalam kandungan. Ketika putra Pakubuwono VI telah berusia sembilan tahun, ia belum dianggap mampu untuk meneruskan takhta. Oleh karena itu, pamannya, yaitu Pakubuwono VII, yang merupakan putra dari Pakubuwono IV dari Raden Ajeng Sukaptinah, didapuk untuk menduduki singgasana raja.
Gusti Moeng secara tegas menekankan bahwa kedua permaisuri Pakubuwono IV yang memiliki ikatan dengan Pamekasan, Madura, berasal dari garis keturunan yang sama. Satu permaisuri adalah Raden Ajeng Handoyo, yang dinikahi Pakubuwono IV sebelum ia naik takhta. Sementara itu, permaisuri lainnya adalah Raden Ajeng Sukaptinah, yang dinikahi setelah Pakubuwono IV resmi menjadi Raja Keraton Surakarta.
Perjalanan Sejarah dalam Bentuk Tarian dan Catatan
Untuk memperkuat bukti sejarah ini, Gusti Moeng telah menyerahkan sebuah buku hasil alih aksara dan alih bahasa. Buku tersebut memuat catatan sejarah mengenai perjalanan utusan Keraton Surakarta menuju Pamekasan, Madura. Kisah dalam buku itu mencakup perjalanan utusan keraton bersama Kiai Rojomolo ke Madura.
Deskripsi dalam catatan sejarah tersebut begitu kaya detail, bahkan menyebutkan adanya sebuah perahu megah dengan panjang 36 meter dan lebar 8 meter. Perjalanan tersebut tidak dilakukan dalam kesunyian, melainkan diiringi alunan bunyi gamelan yang mengalun sepanjang perjalanan. Rute perjalanan dimulai dari Bengawan Solo, melintasi Gresik, hingga akhirnya tiba di Pamekasan, Madura.
Kisah cinta Pakubuwono IV dengan Raden Ajeng Handoyo juga diabadikan dalam sebuah tarian khusus. Gusti Moeng mengungkapkan bahwa Sinuhun Pakubuwono IV sangat mengagumi Raden Ajeng Handoyo, bahkan sampai menciptakan sebuah tarian khusus untuk mengungkapkan keinginannya untuk mempersuntingnya sebagai istri.
Lebih lanjut, Gusti Moeng menambahkan bahwa anak kandung dari pernikahan Pakubuwono IV dengan Raden Ajeng Handoyo, yaitu Gusti Sugandhi, menciptakan sebuah tarian yang dikenal sebagai Serimpi Ludiro Maduro, disingkat Ludiromadu. Tarian ini memiliki makna simbolis yang mendalam.
- Makna Serimpi Ludiro Maduro:
- Tarian ini diciptakan sebagai ungkapan kebanggaan terhadap ibunya, Raden Ajeng Handoyo.
- Dalam tarian tersebut, digambarkan bahwa penari memiliki darah keturunan Madura, sebagai bentuk penghormatan terhadap asal-usul sang ibu.
- Serimpi ini juga menggambarkan betapa baiknya sosok ibu mereka, menyoroti kebaikan dan keutamaan Raden Ajeng Handoyo.
Keberadaan tarian ini menjadi bukti nyata dari ikatan budaya dan emosional yang terjalin antara Keraton Surakarta dan Madura. Sejak saat itu, warisan budaya ini terus dilestarikan secara turun-temurun. Gusti Moeng menyatakan bahwa tradisi ini terus berlanjut hingga generasi Pakubuwono XII, dan kini diteruskan oleh dirinya.
Sebagai informasi tambahan, Pakubuwono VII memerintah Keraton Surakarta selama periode yang cukup panjang, yaitu dari tahun 1830 hingga 1858. Masa pemerintahannya ini terjadi setelah Indonesia merdeka dari pengaruh VOC. Beliau wafat pada tanggal 10 Mei 1958.



















