Ketidakpuasan Pemain Spurs: Terlalu Sering Memuji Arsenal
Keputusan pemecatan Thomas Frank sebagai manajer Tottenham Hotspur baru-baru ini dilaporkan menimbulkan gejolak di kalangan pemain. Sumber internal mengungkapkan bahwa para pemain Spurs merasa frustrasi dengan kebiasaan Frank yang dinilai terlalu sering memuji penampilan rival sekota, Arsenal, sepanjang musim. Ketidakpuasan ini menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada situasi yang dihadapi klub.
Frank, yang ditunjuk pada Juni 2025, dipecat kurang dari 12 jam setelah timnya mengalami kekalahan kandang 1-2 dari Newcastle United. Hasil minor ini membuat Spurs hanya berjarak lima poin dari zona degradasi, sebuah posisi yang mengkhawatirkan mengingat sisa pertandingan yang ada. Performa tim di bawah asuhannya memang tidak konsisten, dengan hanya meraih dua kemenangan dari 17 pertandingan terakhir di Liga Inggris.
Pernyataan resmi klub mengenai pemecatan Frank menyatakan, “Thomas ditunjuk pada Juni 2025, dan kami bertekad untuk memberinya waktu dan dukungan yang dibutuhkan untuk membangun masa depan bersama. Namun, hasil dan performa telah membuat Dewan menyimpulkan bahwa perubahan pada titik ini di musim ini diperlukan.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa performa di lapangan menjadi alasan utama, namun laporan lain mengemukakan adanya faktor lain yang memicu ketidakpuasan.
Delapan Bulan Penuh Frustrasi: Pujian Arsenal yang Berlebihan
Menurut laporan dari The Telegraph, selama delapan bulan masa kepemimpinannya, Thomas Frank kerap membuat beberapa pemain di skuad Spurs merasa frustrasi. Hal ini disebabkan oleh upayanya yang terus-menerus menyoroti kekuatan Arsenal di bawah arahan Mikel Arteta. Tindakan ini, yang seharusnya memotivasi, justru berbalik menjadi sumber kekesalan bagi para pemain yang merasa fokus mereka terpecah.
Lebih jauh lagi, beberapa anggota skuad Spurs dilaporkan sampai membagikan meme yang menggambarkan Frank mengenakan atribut Arsenal. Insiden yang memicu hal ini terjadi ketika Frank secara tidak sadar minum dari cangkir yang memiliki logo “The Gunners” sebelum kekalahan 2-3 dari Bournemouth pada bulan Januari. Kejadian ini semakin memperkuat persepsi pemain bahwa manajer mereka memiliki bias terhadap rival abadi mereka.
“Dia terus-menerus membicarakan Arsenal kepada para pemain dan mereka dengan cepat merasa muak,” ungkap sebuah sumber anonim kepada The Telegraph. “Bahkan sebelum dan sesudah pertandingan di Emirates, dia memberi tahu mereka betapa bagusnya Arsenal.” Pernyataan ini menggambarkan betapa intensnya fokus Frank pada tim asuhan Arteta, hingga mengabaikan kebutuhan untuk membangun kepercayaan diri timnya sendiri.
“Perasaan di antara sebagian orang adalah ‘diam saja tentang Arsenal’,” tambah sumber tersebut, menggarisbawahi keinginan pemain untuk fokus pada performa Spurs tanpa perbandingan yang terus-menerus dengan rival.
Kesalahan Fatal: Pujian Arsenal di Momen yang Salah
Ketidakpekaan Frank terhadap sensitivitas rivalitas ini juga terlihat pada momen-momen lain. Saat konferensi pers pertamanya sebagai manajer Spurs pada Juli lalu, Frank secara tidak sengaja memuji rekor musim tak terkalahkan Arsenal di bawah asuhan Arsene Wenger. Meskipun niatnya mungkin untuk memberikan contoh sebuah pencapaian luar biasa, waktu dan konteksnya dianggap tidak tepat.
“Seperti yang saya katakan kepada staf pada hari pertama di sini, saya janjikan satu hal, satu hal yang pasti 100 persen, kita akan kalah dalam pertandingan sepak bola,” ujar Frank saat itu. Ia melanjutkan, “Saya belum pernah melihat tim yang tidak pernah kalah dalam pertandingan sepak bola. Ada Arsenal, yang tidak bisa kita sebutkan, jadi saya melakukan kesalahan pemula pertama saya di situ. Lalu ada Preston, dan hanya dua tim itu.” Pujian terselubung ini, meskipun diakui sebagai kesalahan pemula, meninggalkan kesan yang kurang baik.
Frank juga tidak ragu memuji Arsenal sebagai salah satu tim terbaik di dunia sebelum pertandingan persahabatan pramusim Spurs di Hong Kong musim panas lalu. “Ini adalah tantangan besar, selain menjadi rival terbesar kami dan derbi London Utara pertama di luar Inggris,” kata Frank. “Mereka juga saat ini merupakan salah satu tim terbaik di dunia, sayangnya, harus saya akui, kita juga perlu jujur.” Pengakuan ini, meskipun menunjukkan kejujuran, justru menimbulkan pertanyaan tentang loyalitas dan fokusnya terhadap klub yang ia pimpin.
Klarifikasi Cangkir Arsenal: Penyesalan atau Ketidaksengajaan?
Menanggapi insiden cangkir berlogo Arsenal, Thomas Frank memberikan klarifikasi. Ia bersikeras bahwa dirinya sama sekali tidak menyadari logo tersebut. “Saya sama sekali tidak menyadarinya. Akan sangat bodoh jika saya mengambilnya jika saya tahu,” ujarnya. Ia merasa bahwa situasi ini menjadi terlalu dibesar-besarkan dalam dunia sepak bola.
“Agak menyedihkan dalam dunia sepak bola bahwa saya harus ditanya tentang hal itu. Saya tidak akan pernah melakukan sesuatu yang sebodoh itu,” tegas Frank. Ia menambahkan, “Saya rasa kita pasti salah arah jika kita perlu khawatir tentang saya memiliki piala dengan logo klub lain. Tentu saja, saya tidak akan pernah melakukan itu. Itu sangat bodoh.”
Meskipun Frank mencoba meredakan kontroversi dengan penjelasannya, insiden tersebut, ditambah dengan kebiasaannya memuji Arsenal, tampaknya telah meninggalkan luka yang dalam di benak para pemain Spurs. Keputusan pemecatan ini menjadi titik akhir dari periode kepelatihan yang diwarnai oleh ketidakpuasan internal dan pertanyaan mengenai fokus manajerial.




