Ambisi Justin Gaethje: Menuju Sabuk Juara dan Strategi Mengalahkan Ilia Topuria
Justin Gaethje, mantan penantang gelar dan musuh terakhir Khabib Nurmagomedov sebelum pensiun dari UFC, kini tengah memburu sabuk juara kelas ringan. Dalam usia 37 tahun, Gaethje telah menetapkan ultimatum kepada UFC: ia hanya akan bertarung demi gelar. Permintaan ini dikabulkan, memberikannya kesempatan untuk memperebutkan sabuk interim kelas ringan melawan Paddy Pimblett. Pemenang pertarungan ini berpeluang besar untuk menghadapi juara kelas ringan sejati, Ilia Topuria.
Dengan kepercayaan diri yang membuncah, Gaethje optimistis dapat mengalahkan Pimblett dalam kartu utama UFC 324 yang akan digelar di T-Mobile Arena, Nevada, pada 24 Januari mendatang. Namun, pandangannya tidak hanya tertuju pada Pimblett. Ilia Topuria menjadi motivasi tersembunyi di balik duel ini. Gaethje menegaskan keyakinannya pada kemampuan diri untuk meraih tujuan utamanya, yang berarti mengalahkan Topuria.
“Ilia, saya percaya pada kemampuan saya untuk mencapai tujuan, itulah yang harus saya percayai,” ujar Gaethje, dikutip dari ESPN. Ia bertekad untuk merebut sabuk kelas ringan dan mengubur harapan para penggemar yang mungkin menginginkan pertarungan antara Paddy Pimblett dan Ilia Topuria.
Menghancurkan Ekspektasi Penggemar
Gaethje menyadari adanya potensi besar di balik pertarungan antara Pimblett dan Topuria, sebuah skenario yang mungkin menarik perhatian banyak penggemar, mirip dengan duel impian antara Tony Ferguson dan Khabib Nurmagomedov. Namun, ia menegaskan perannya untuk merusak rencana tersebut.
“Ada banyak hal yang bisa terjadi,” kata Gaethje. “Kita pernah melihat juara interim tiba-tiba dipromosikan menjadi juara, seperti Tom Aspinall. Mackenzie Dern akan bertarung memperebutkan gelar interim, lalu tiba-tiba, gelar juara ditetapkan setelah Zhang Weili mengosongkannya. Tetapi semua hal ini di luar kendali saya.”
“Aku harus menang, aku harus merusak semuanya,” tegasnya. “Aku tahu para penggemar mungkin menginginkan Paddy dan Ilia seperti mereka menginginkan Tony (Ferguson) dan Khabib (Nurmagomedov), dan aku akan mengacaukannya. Itu tugasku.”
Strategi Jitu Melawan Ilia Topuria
Lebih jauh lagi, Justin Gaethje mengaku telah menyusun strategi khusus untuk mengalahkan Ilia Topuria. Ia sangat mengandalkan insting dan kemampuannya dalam menilai jarak serta waktu serangan.
“Saya percaya pada intuisi saya. Saya percaya pada kemampuan saya untuk menilai jarak dan waktu dan hanya berada di sana,” jelasnya. “Olahraga ini sangat gila. Apa pun bisa terjadi. Ada alasan mengapa kita semua duduk di ujung kursi setiap pertarungan karena apa pun bisa terjadi kapan saja. Jadi sekali lagi, intinya adalah tidak membuat kesalahan melawan orang seperti itu.”
Gaethje menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap kekuatan pukulan mematikan Ilia Topuria, yang dijuluki “El Matador”. Ia sangat mewaspadai pukulan tangan kanan dan hook kiri yang dimiliki Topuria, yang dianggapnya sebagai salah satu kombinasi terbaik yang pernah ia saksikan dalam dunia olahraga tarung.
“Jangan sampai terkena pukulan tangan kanannya. Jangan sampai kena pukulan tangan kanannya,” Gaethje menekankan. “Pukulan hook kirinya, kombinasi 2-3-nya adalah salah satu kombinasi terbaik yang pernah saya lihat di olahraga ini. Jadi ini tantangan yang indah dan saya suka betapa takutnya saya nanti.”
Posisi Ilia Topuria dan Keputusan UFC
Sementara itu, Ilia Topuria saat ini sedang mengambil jeda dari pertarungan untuk fokus pada urusan keluarga. Diperkirakan “La Leyenda” baru akan kembali ke oktagon pada pertengahan tahun 2026.
“Saya tidak akan bertarung di kuartal pertama tahun depan. Saya sedang mengalami masa sulit dalam kehidupan pribadi saya,” ucap Topuria. “Saya ingin fokus pada anak-anak saya dan menyelesaikan situasi ini sesegera mungkin.”
Untuk menjaga agar divisi kelas ringan tetap bergerak, UFC memutuskan untuk menggelar pertarungan sabuk interim antara Justin Gaethje dan Paddy Pimblett. Topuria sendiri telah menyatakan kesiapannya untuk kembali memperebutkan sabuk tersebut begitu masalah pribadinya selesai.
“Saya tidak ingin menghambat divisi ini. UFC akan mengatur pertarungan yang dibutuhkan, dan segera setelah masalah ini terselesaikan, saya akan memberi tahu UFC bahwa saya siap untuk kembali,” tegas Topuria. Keputusan UFC ini membuka jalan bagi Gaethje untuk mewujudkan ambisinya menjadi juara interim, sekaligus membuka peluang untuk menghadapi Topuria di masa depan dalam duel yang sangat dinantikan.



















