Tragedi Berdarah: Cucu Seniman Betawi Legendaris Tewas Akibat Cemburu Buta
Sebuah peristiwa tragis mengguncang keluarga besar seniman Betawi legendaris, Mpok Nori. Cucu beliau, Dewhinta Anggary (37), ditemukan tewas mengenaskan di rumah kontrakannya di kawasan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, pada Sabtu dini hari (21/3/2026). Pelaku pembunuhan sadis ini diketahui adalah mantan suami siri korban, Rashad Fouad Tareq Jameel (49), seorang warga negara asing asal Irak yang akrab disapa Fuad. Motif di balik pembunuhan ini diduga kuat adalah dilatarbelakangi oleh rasa cemburu yang mendalam.
Kejadian ini bermula ketika pada Kamis (20/3/2026), Fuad melihat korban berjalan bersama seorang pria lain saat menghadiri acara bazar Ramadan. Kejadian ini memicu amarah dan kecurigaan Fuad. Ia sempat menghampiri keduanya dan mempertanyakan hubungan mereka. Namun, pria yang bersama korban memilih untuk segera pergi, meninggalkan Fuad dan Dewhinta dalam situasi yang tegang. Pertengkaran sempat terjadi di lokasi bazar sebelum keduanya berpisah.
Malam harinya, Fuad kembali mendatangi kos korban. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati korban berada di dalam kamar bersama pria yang sama yang ditemuinya di bazar. Hal ini kembali memicu cekcok mulut antara Fuad dan Dewhinta. Dalam pertengkaran tersebut, korban meminta Fuad untuk meninggalkan kontrakannya.
Fuad pun pulang ke indekosnya. Namun, dalam perenungan yang penuh emosi tak terkendali, ia memutuskan untuk kembali lagi ke kontrakan korban untuk kedua kalinya. Kali ini, ia datang dengan niat yang lebih gelap, membekali diri dengan sebilah pisau yang diambil dari indekosnya.
Sesampainya di lokasi, Fuad kembali masuk ke dalam kamar korban dan terlibat dalam pertengkaran yang semakin hebat. Dalam puncak kemarahannya, Fuad mulai melakukan kekerasan fisik, termasuk mencekik leher korban. Meskipun korban sempat melakukan perlawanan, Fuad dengan cepat mengambil pisau yang dibawanya dan melakukan penganiayaan brutal yang menyebabkan korban tewas seketika.
Jejak Kelakuan Janggal Pelaku yang Terungkap
Pasca kejadian, Fuad berusaha melarikan diri. Ia berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian di Tol Tangerang-Merak saat mencoba melanjutkan pelariannya menuju Pulau Sumatera, dengan tujuan akhir kembali ke negara asalnya. Kini, Fuad telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan ini.
Penyelidikan yang dilakukan polisi mulai mengungkap sejumlah kelakuan janggal dan kekerasan yang dilakukan oleh Fuad terhadap korban, bahkan sebelum peristiwa tragis ini terjadi.
1. Membawa Kabur Ponsel Korban dengan Klaim Bukti Perselingkuhan
Salah satu kelakuan aneh yang dilakukan Fuad sebelum mencoba melarikan diri adalah membawa serta ponsel milik korban. Ia mengklaim bahwa ponsel tersebut berisi bukti perselingkuhan Dewhinta dengan pria lain.
AKP Fechy J Ataupah, Panit 2 Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, menjelaskan bahwa Fuad membawa ponsel korban karena merasa ada bukti perselingkuhan di dalamnya.
“Jadi alasan pelaku membawa ponsel korban karena menurut dia di situ ada bukti perselingkuhan si korban,” jelas AKP Fechy J Ataupah.
Menurut keterangan pelaku, terdapat beberapa foto mesra antara korban dan pria lain di dalam ponsel tersebut. Namun, hingga kini klaim ini belum bisa dibuktikan karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kata sandi (password) ponsel korban.
“Jadi katanya selain melihat tertangkap basah berdua sama pria lain, ada juga foto mesra katanya seperti itu. Cuma HP korban sampai saat ini belum kami buka karena tidak ada yang tahu password-nya,” tambah Fechy.
2. Kekerasan Berulang yang Menyebabkan Korban Keguguran Tiga Kali
Fakta mengejutkan terungkap dari keluarga korban. Saudara korban, Dana Seftia, mengungkapkan bahwa Fuad memiliki riwayat kekerasan fisik yang sering ia lakukan terhadap Dewhinta. Kekerasan ini bahkan menyebabkan korban mengalami keguguran sebanyak tiga kali.
Dana Seftia menyampaikan hal ini usai menjalani pemeriksaan selama 12 jam di Mapolda Metro Jaya.
“Kalo keguguran iya, benar. Terus kalau misalkan selanjutnya nanti perkembangannya tinggal dilihat saja (penyidikannya),” ujar Dana.
Dana menambahkan bahwa pihak keluarga sebenarnya tidak terlalu mengenal Fuad secara dekat, terutama karena kendala bahasa. Namun, mereka mengetahui bahwa Fuad kerap berbicara dengan nada tinggi kepada Dewhinta. Atas kekejaman yang dilakukan Fuad, Dana berharap agar pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal.
“Yang penting tolong dibantu terus saja biar perkembangan ini berlanjut terus, biar pelaku juga dihukum seadil-adilnya,” pintanya.
Sementara itu, kakak korban, Aji, mengaku lelah setelah menjalani pemeriksaan yang panjang dan mendalam mengenai segala hal terkait korban.
“Capek banget ini. Pertanyaannya sudah banyak, tentang korban. Soalnya sudah 12 jam saya di dalam,” keluhnya.
3. Niat Bunuh Diri yang Sempat Muncul
Setelah melakukan pembunuhan sadis terhadap Dewhinta Anggary, Fuad sempat dikabarkan berniat mengakhiri hidupnya sendiri. AKP Fechy J Ataupah mengungkapkan bahwa pelaku berusaha menghilangkan jejak dengan berpindah-pindah tempat setelah kejadian.
Pelaku sempat melarikan diri ke beberapa wilayah di Jawa Barat, seperti Bogor dan Sukabumi.
“Dia (pelaku) sempat ke luar kota, ke Bogor dan Sukabumi, berpindah-pindah,” kata Fechy.
Niat untuk mengakhiri hidup muncul ketika Fuad berada di wilayah Sukabumi. Ia merasa panik dan dibayangi rasa bersalah atas perbuatannya. Namun, niat tersebut akhirnya ia urungkan dan ia memutuskan untuk melanjutkan pelariannya menuju Sumatera.
“Pada saat di Sukabumi, dia memang sempat mau bunuh diri, tapi diurungkan niatnya,” ujar Fechy.
Fechy menjelaskan bahwa Fuad berniat bersembunyi di Sumatera untuk menunggu situasi mereda sebelum akhirnya kembali ke Irak. Namun, upaya pelariannya tersebut gagal karena ia berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian sebelum sempat melanjutkan perjalanannya.
Kasus ini menjadi pengingat akan dampak destruktif dari kecemburuan dan kekerasan dalam rumah tangga, serta pentingnya penegakan hukum yang tegas untuk memberikan keadilan bagi para korban.




















