околоссылочный3 google 3 текст3

Tiyo UGM: Monyet Tak Korupsi, Jawaban Berkelas Atas Hinaan

Diposting pada

Bentrokan Wacana: Kritik Mahasiswa dan Respons “Emoji Monyet” dari Pejabat Gizi Nasional

Jagad media sosial kembali memanas dengan adanya perseteruan antara suara kritis mahasiswa dan respons emosional dari seorang pejabat publik. Kali ini, pusat perhatian tertuju pada Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), yang memilih jalur reflektif dalam menanggapi komentar pedas disertai simbol primata dari Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).

Polemik ini bermula dari sebuah unggahan video oleh Tiyo Ardianto, di mana ia secara terbuka menyampaikan kritik terhadap implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dijalankan oleh pemerintah melalui BGN. Tiyo berargumen bahwa kritik semacam ini adalah sebuah keniscayaan dalam konteks kontrol publik, terutama dari kalangan mahasiswa, terhadap kebijakan yang memiliki dampak luas terhadap kesejahteraan masyarakat.

Video kritik tersebut tak pelak menarik perhatian luas dan memicu berbagai macam tanggapan, termasuk dari pihak-pihak yang memiliki jabatan di pemerintahan.

Komentar Bernada Defensif dan Simbol Kontroversial

Di tengah ramainya respons terhadap video kritik tersebut, sebuah akun Instagram yang terverifikasi, yang diketahui milik Sony Sonjaya, Wakil Kepala BGN, memberikan komentar yang cukup keras. Dalam kolom komentar tersebut, akun itu menuliskan sebuah pernyataan yang terkesan defensif terhadap program MBG, menyoroti berbagai pencapaian program tersebut.

Pesan tersebut berbunyi, “BODO ??? Telah memberi makan kepada 60 juta Balita, Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan peserta didik, telah menyerap lebih dari 1 juta tenaga kerja, telah menyerap hasil tani, hasil kebun, hasil budidaya ikan, hasil ternak……lah… yg orasi telah menghasilkan apa ? ? …. jadine”.

Namun, yang paling mencuri perhatian dan memicu kontroversi adalah ketika akun yang sama kembali meninggalkan komentar singkat, namun sarat makna: sebuah emoji monyet. Simbol inilah yang kemudian menjadi titik sentral perdebatan dan refleksi lebih lanjut.

Tiyo Ardianto: Refleksi atas Martabat dan Kedewasaan Berkuasa

Menghadapi respons yang terkesan provokatif tersebut, Tiyo Ardianto memilih untuk tidak terpancing emosi. Alih-alih membalas dengan kemarahan, ia justru merilis sebuah pernyataan tertulis yang bernada reflektif dan mendalam. Dalam pembukaan pernyataannya yang berjudul “Emoji Monyet”, Tiyo menekankan bahwa yang dipertaruhkan bukanlah harga diri seorang pengkritik, melainkan sikap dan kedewasaan para pemegang kekuasaan dalam menghadapi perbedaan pendapat.

“Ketika kritik yang lahir karena cinta pada Bangsa dibalas dengan emoji monyet, yang sebenarnya dipertaruhkan bukan martabat pengkritik, tetapi kedewasaan penguasa dalam menerima pikiran yang berbeda tanpa pernah merasa terancam,” tulis Tiyo.

Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya bukanlah serangan pribadi, melainkan bentuk kepedulian dan dorongan agar kebijakan publik dapat berjalan lebih baik untuk kepentingan masyarakat luas.

Makna Simbolik Emoji Monyet: Sindiran Moral yang Tajam

Tiyo Ardianto kemudian mendalami makna simbolik dari emoji monyet yang digunakan. Ia mengaitkannya dengan refleksi moral yang lebih luas mengenai integritas dan perilaku.

“Manusia dan monyet itu sejatinya satu keluarga primata. Yang berbeda, monyet tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai makhluk paling mulia. Tapi, buktinya justru monyet tidak pernah korupsi, tidak menindas saudaranya, dan tidak menjilat demi dapat pangkat,” ungkap Tiyo dalam pernyataannya.

Sindiran ini secara halus diarahkan pada kemungkinan adanya praktik-praktik yang tidak etis atau koruptif di balik narasi kebijakan publik yang mulia, khususnya dalam pengelolaan isu gizi nasional. Ia melanjutkan, “Yang paling penting: monyet tidak menjadi bagian dari mereka yang bermulia-mulia menarasikan pentingnya gizi, tapi diam-diam menjadikan gizi kedok maling.”

Ucapan “Terima Kasih” yang Penuh Makna Tersirat

Menariknya, di bagian akhir pernyataannya, Tiyo Ardianto justru membalikkan konotasi negatif dari emoji monyet tersebut. Ia menyebutnya bukan sebagai bentuk penghinaan, melainkan sebagai sebuah pujian yang mengandung ironi yang sangat tajam.

“Maka, rasanya emoji monyet dari Wakil Kepala Badan Gizi Nasional RI itu lebih terasa sebagai pujian ketimbang hinaan. Terima kasih, Irjen Pol. Sony Sanjaya,” imbuh Tiyo.

Pernyataan ini semakin memperkuat posisinya yang memilih untuk membangun diskusi yang argumentatif dan berbasis nalar, daripada terjebak dalam adu emosi yang tidak produktif.

Profil Pejabat yang Terlibat dalam Polemik

Dalam unggahan pribadinya, Tiyo Ardianto juga turut menyertakan informasi publik mengenai sosok di balik akun Instagram yang memberikan komentar kontroversial tersebut. Berdasarkan keterangan profil yang ada, Irjen Pol. Sony Sonjaya memang menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional Pemenuhan Gizi.

Beliau lahir di Bandung pada tanggal 20 Oktober 1967 dan merupakan lulusan dari Akademi Kepolisian (AKABRI). Sepanjang perjalanan kariernya, Sony Sonjaya juga telah menempuh berbagai pendidikan lanjutan, termasuk di Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Sekolah Staf dan Pimpinan (SESPIM), serta Lemhannas RI. Akun Instagram miliknya yang mencantumkan keterangan resmi sebagai akun Wakil Kepala BGN, secara otomatis membuat setiap unggahan dan komentarnya menjadi sorotan publik yang intens.

Ruang Publik dan Etika Pejabat di Era Digital

Fenomena “emoji monyet” ini kembali membuka diskusi penting mengenai batas antara ruang personal dan jabatan publik, terutama di era media sosial yang serba terhubung. Kritik yang dilayangkan oleh mahasiswa, simbol-simbol digital yang digunakan dalam percakapan, serta respons dari para pejabat, kini tidak lagi sekadar interaksi di dunia maya. Sebaliknya, semua itu menjadi cerminan bagaimana kekuasaan memilih untuk merespons suara-suara perbedaan pandangan yang muncul dari masyarakat. Hal ini menuntut adanya kesadaran akan etika komunikasi publik yang lebih baik dari para pemegang amanah.

Gambar Gravatar
Rizki merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan