Tragis, PMI Asal Indramayu Meninggal di Arab Saudi Diduga Akibat Kekerasan
Kisah pilu kembali menyelimuti keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Nur Watirih, seorang perempuan berusia 49 tahun, dilaporkan meninggal dunia secara mengenaskan di Arab Saudi. Dugaan kuat mengarah pada tindak kekerasan di tempatnya bekerja sebagai penyebab kematiannya. Kabar duka ini baru diterima keluarga setelah bertahun-tahun kehilangan kontak dengan almarhumah.
Selama dua tahun terakhir, keluarga di kampung halaman tak henti-hentinya mencari informasi mengenai keberadaan Watirih. Ia diketahui telah bekerja di luar negeri sejak tahun 2022. Harapan untuk kembali berkomunikasi dengan anggota keluarga yang merantau akhirnya pupus seketika ketika kabar duka itu datang.
Nur Watirih merupakan warga Blok Bedug, Desa Segeran Kidul, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu. Ia memutuskan berangkat ke Arab Saudi pada tahun 2022 dengan niat bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Namun, keberangkatannya dilaporkan melalui jalur yang tidak resmi.
Awal Keberangkatan dan Hilangnya Kontak
Pada masa-masa awal kepindahannya ke Arab Saudi, Watirih masih sempat menjalin komunikasi dengan keluarganya di Indramayu. Ia bahkan beberapa kali mengirimkan uang untuk membantu kebutuhan orang tuanya dan anaknya yang saat itu masih berusia 11 tahun. Kiriman uang tersebut menjadi penopang hidup keluarga di tanah air, memberikan sedikit kelegaan di tengah kerinduan.
Namun, setelah beberapa waktu, komunikasi yang terjalin erat itu tiba-tiba terputus. Keluarga mengaku tidak lagi menerima kabar apa pun dari Watirih sejak sekitar dua tahun terakhir. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari informasi mengenai keberadaannya, namun semua usaha tersebut tidak membuahkan hasil yang berarti. Rasa cemas dan ketidakpastian terus menghantui keluarga.
Kepastian yang Menyakitkan
Kepastian mengenai nasib tragis Watirih akhirnya diterima oleh keluarganya pada tanggal 15 Februari 2026. Melalui pihak-pihak terkait di Arab Saudi, keluarga mendapatkan informasi bahwa Watirih telah meninggal dunia beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 9 Februari 2026. Kabar ini tentu saja datang bagai petir di siang bolong, menghancurkan segala harapan yang selama ini mereka genggam erat.
Yang membuat keluarga semakin terpukul dan berduka adalah kondisi jenazah korban saat ditemukan. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, tubuh Watirih ditemukan dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Ia ditemukan tergeletak di dekat tong sampah yang berlokasi di depan sebuah apartemen tempat ia bekerja. Lokasi penemuan jenazah tersebut diduga tidak jauh dari kediaman majikan yang mempekerjakannya.
Dugaan Kekerasan dan Luka Mengerikan
Informasi awal yang diterima oleh keluarga menyebutkan bahwa korban diduga kuat menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh majikan perempuannya. Dugaan ini semakin diperkuat oleh kondisi tubuh Watirih yang ditemukan mengalami sejumlah luka serius.
Menurut laporan yang diterima keluarga dari petugas di Arab Saudi, tubuh Watirih ditemukan dengan berbagai luka tusuk dan sayatan. Luka-luka tersebut diduga berasal dari benda tajam. Kondisi wajah korban dilaporkan mengalami kerusakan yang cukup parah, yang sangat mungkin disebabkan oleh tindakan kekerasan yang brutal.
Proses Hukum dan Harapan Keluarga
Kasus kematian tragis yang menimpa Nur Watirih ini kini tengah dalam penanganan pihak kepolisian Arab Saudi. Berdasarkan informasi yang diberikan kepada keluarga, otoritas setempat dilaporkan telah berhasil menangkap terduga pelaku yang diduga terlibat dalam kasus penganiayaan tersebut.
Keluarga korban di Indramayu menyampaikan harapan besar agar proses hukum terhadap pelaku dapat berjalan dengan adil dan transparan. Mereka menuntut agar pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan keji yang telah dilakukannya.
Adik korban, Maghfuroh, mengungkapkan bahwa keluarga sebenarnya telah berusaha untuk mengikhlaskan kepergian kakaknya. Namun, mereka tidak dapat menerima kenyataan bahwa kematian tersebut terjadi akibat tindakan kekerasan yang tidak berperikemanusiaan.
“Kami ikhlas kalau memang sudah takdir. Tapi kami tidak ikhlas kalau kakak kami meninggal karena dianiaya,” ujar Maghfuroh dengan nada pilu.
Pemakaman di Negeri Orang
Sementara itu, jenazah Nur Watirih diketahui telah dimakamkan di Arab Saudi pada tanggal 6 Maret 2026. Keputusan untuk memakamkan jenazah di luar negeri ini tentunya membuat keluarga di kampung halaman tidak dapat melihat almarhumah untuk terakhir kalinya. Momen perpisahan terakhir yang seharusnya dijalani dengan penuh haru justru harus terenggut oleh jarak dan keadaan.
Peristiwa tragis yang menimpa Nur Watirih ini kembali menjadi sebuah pengingat yang sangat menyakitkan mengenai risiko besar yang dihadapi oleh para pekerja migran, terutama mereka yang memilih berangkat ke luar negeri melalui jalur tidak resmi. Tanpa adanya perlindungan hukum yang jelas dan memadai, para pekerja migran menjadi sangat rentan terhadap berbagai bentuk eksploitasi, penipuan, dan bahkan kekerasan fisik maupun mental.
Kasus yang menimpa Nur Watirih ini menambah daftar panjang peristiwa kelam yang dialami oleh para Pekerja Migran Indonesia di luar negeri. Oleh karena itu, berbagai pihak terus mendorong agar masyarakat, khususnya calon PMI, untuk lebih berhati-hati dan selektif dalam memilih jalur keberangkatan ke luar negeri. Memastikan proses keberangkatan dilakukan melalui jalur resmi adalah langkah krusial untuk mendapatkan perlindungan hukum yang semestinya, sehingga tragedi serupa dapat dicegah di masa mendatang.



















