Eksplorasi Wisata Alam Purwakarta: Pengalaman Mendalam Melampaui Sate Maranggi
Purwakarta seringkali diasosiasikan dengan keindahan diorama, gemerlap air mancur, dan tentu saja, kelezatan sate maranggi yang legendaris. Pengalaman pertama penulis di kota ini pada tahun 2024, yang berfokus pada kuliner seperti sate maranggi, es ciming, dan kunjungan ke kafe kebon jati, ternyata hanya menyentuh permukaan dari apa yang ditawarkan Purwakarta. Sebuah kesempatan kedua yang tak terduga pada Sabtu, 17 Januari 2026, membawa penulis kembali ke Purwakarta, kali ini bersama sepuluh teman terpilih untuk sebuah petualangan wisata alam yang mendalam. Perjalanan ini menjadi pengalaman pertama penulis dalam menjelajahi keindahan alam Purwakarta, menambah referensi destinasi liburan, dan yang terpenting, menikmati setiap momennya dengan penuh.
Perjalanan Menuju Purwakarta dengan KA Walahar
Perjalanan dimulai sejak dini hari dari Stasiun Bogor, dilanjutkan dengan transit di Stasiun Manggarai. Sebuah insiden kecil terjadi ketika sandal gunung sebelah kanan penulis terlepas karena lama tidak terpakai, namun syukurlah, berkat bantuan dari rekan kompasianer, Mba Hida, yang membelikan lem, perjalanan dapat dilanjutkan hingga Stasiun Cikarang. Perjalanan menuju Cikarang terbilang lancar. Dari Stasiun Manggarai, penulis hanya perlu berpindah peron untuk naik KRL menuju Stasiun Cikarang. Tiba di Cikarang masih cukup pagi, cukup waktu untuk menunggu teman-teman lain berdatangan sebelum akhirnya kami bersama-sama menaiki Kereta Api (KA) Walahar. KA Walahar menawarkan tarif yang sangat terjangkau, hanya Rp4.000,00, namun mampu mengantarkan kami hingga ke Purwakarta.
Sepanjang perjalanan, pemandangan alam yang asri dan menyegarkan tersaji, menemani obrolan akrab dan penuh canda tawa antar sesama kompasianer. Berbagi bekal makanan menambah kehangatan dalam perjalanan. Setibanya di Stasiun Purwakarta, kami disambut dengan hangat dan dijemput menggunakan mobil Hiace yang nyaman. Perjalanan menuju lokasi pertama pun menyajikan pemandangan Purwakarta yang indah, meski cuaca mendung dan gerimis sesekali turun, keindahan alamnya tidak berkurang sedikit pun.
Sambutan Hangat dan Eksplorasi Alun-Alun Purwakarta
Sebuah momen istimewa terjadi ketika kami, para kompasianer, disambut langsung oleh Kepala Bidang Pariwisata, Bapak Dodi Samsul Bahri. Kami diajak berfoto bersama di area Alun-alun Purwakarta, sebuah sambutan yang ramah dan hangat. Bapak Dodi memberikan keleluasaan bagi kami untuk mengeksplorasi dan menikmati setiap momen wisata di hari itu. Kesan pertama yang penulis dapatkan tentang Purwakarta adalah keramahan dan kesahabatan penduduknya. Selain itu, banyaknya pilihan kuliner di sekitar area stasiun membuat pengunjung tidak perlu khawatir jika merasa lapar.
Menegangkan namun Menyenangkan: River Tubing Bersama Ngaprak River
Setelah sekian lama, penulis kembali merasakan sensasi menyusuri arus sungai menggunakan ban hitam besar. Rasa deg-degan sempat menghampiri karena sudah lama tidak merasakan adrenalin terpacu seperti ini. Namun, rasa percaya diri penulis meningkat berkat profesionalisme tim Ngaprak River. Kami diantar menuju lokasi menggunakan mobil bak terbuka.
Sepuluh peserta, termasuk penulis, diberikan perlengkapan keselamatan berupa rompi dan helm. Kami juga mendapatkan arahan detail mengenai cara duduk yang benar di atas ban, posisi yang aman, serta peletakan tangan. Setelah sesi arahan dan demonstrasi langsung, kami bergegas menuju titik awal susur sungai. Pemandangan sepanjang perjalanan menuju titik tersebut sungguh memukau, terhampar luas sawah berpadikan hijau, kebun cabai, dan aktivitas para petani mengolah tanah. Pemandangan premium ini, ditambah dengan suara gemericik air sungai yang menyejukkan, menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.
Tibalah saatnya kami memulai petualangan river tubing. Tim Ngaprak River sudah bersiap di setiap titik strategis. Satu per satu, kami menaiki ban hitam, siap untuk mengarungi sungai. River tubing, aktivitas mengapung di sungai menggunakan ban, memang sempat membuat penulis sedikit grogi. Namun, instruktur kami mengingatkan untuk tetap rileks, tidak takut, mengikuti arus, dan tidak tegang. Nasihat tersebut sangat membantu menenangkan diri.
Meluncur di atas permukaan air sungai dengan ban hitam besar ternyata sangat seru dan memacu adrenalin. Beberapa kali penulis berteriak saat menghadapi aliran air yang cukup deras dan undakan yang menyerupai air terjun mini. Untungnya, selama kurang lebih tiga puluh menit menyusuri sungai, penulis tidak terjatuh atau terlepas dari ban. Perjalanan berjalan lancar dan mulus, memberikan rasa senang yang luar biasa. Tidak ada cedera atau luka yang dialami. Di titik-titik yang dianggap rawan, tim Ngaprak River selalu sigap berjaga, bahkan tim dokumentasi pun siap mengabadikan momen. Penulis sendiri memilih untuk tidak membawa ponsel atau dompet, dan hanya membawa pakaian ganti. Momen river tubing ini benar-benar berkesan, bahkan beberapa teman kompasianer mengakuinya sebagai pengalaman yang “mantap” dan “seru banget”.
Kampung Wisata Parakanceuri: Inovasi dan Edukasi Lingkungan yang Memukau
Setelah kegiatan river tubing selesai, kami berganti pakaian dan melanjutkan perjalanan menuju Kampung Wisata Parakanceuri yang berlokasi di Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta. Perjalanan dari lokasi river tubing memakan waktu sekitar 40 menit menggunakan mobil, dengan kondisi jalan raya yang lancar. Gerimis yang sempat turun kini berubah menjadi hujan yang agak deras saat kami tiba di area kampung wisata. Namun, hal ini tidak sedikit pun menyurutkan semangat kami untuk menjelajah, karena kecintaan pada petualangan membuat kondisi cuaca bukan penghalang.
Sebelum melanjutkan kegiatan, kami disuguhi makan siang berupa nasi liwet yang lezat, lengkap dengan sambal, aneka lalapan segar, dan beberapa pilihan lauk. Kami makan beralaskan daun pisang, duduk berhadapan, ditemani teh hangat yang aromatik. Makan siang ini sungguh nikmat, terutama lalapan terong hijau dan mentimun, serta ikan asin yang menggugah selera.
Setelah kenyang dan beristirahat sejenak, kami berkesempatan bertemu dengan Bapak Agus, sosok inspiratif di balik inisiasi kampung wisata ini. Bapak Agus menceritakan asal-usul nama Parakanceuri. “Parakan” berasal dari kata “marak”, yaitu cara menangkap ikan di sungai dengan tangan kosong menggunakan tumpukan batu atau parit. Sementara “Ceuri” diambil dari nama pohon Ceuri, karena kegiatan penangkapan ikan tersebut dilakukan di bawah pohon tersebut.
Inisiatif masyarakat menjadi awal terbentuknya kampung wisata ini. Mereka mengadakan berbagai program kepedulian lingkungan, seperti lomba “Buruan Geulis” (halaman cantik) dan lomba hias gapura. Pada tanggal 23 Juli 2023, upaya ini mendapat perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang kemudian mengimplementasikan program nasional Ecovillage di berbagai daerah. Kampung ini ditetapkan dengan nama Ecovillage Jagat Resik dan ditunjuk sebagai kampung bersih.
Sejak saat itu, kegiatan bersama DLH terus berlanjut. Salah satu kegiatan yang menjadi ciri khas dan penanda keberlanjutan ecovillage adalah susur sungai dan trekking, yang juga dimanfaatkan sebagai media edukasi lingkungan bagi para pengunjung. Selain itu, wisatawan dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seperti:
- Tandur padi: Kegiatan menanam padi.
- Menapi padi: Proses menampi padi yang sudah dipanen.
- Menjemur dan menutu padi: Proses pengeringan dan penumbukan padi.
- Wisata literasi: Meliputi storytelling dan public speaking.
- Trekking: Menjelajahi alam sekitar.
Banyak wisatawan yang telah berkunjung memberikan testimoni positif dan bahkan merasa ketagihan untuk kembali. Mereka merasa lebih dekat dengan alam, memahami berbagai proses alam, dan bahkan belajar tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), termasuk proses pembuatan makanan dan minuman khas seperti “rambut nenek” dan “teh telang”.
Saat berkunjung ke Kampung Wisata Parakanceuri, jangan lupa untuk membeli oleh-oleh khas yang dibuat oleh para pelaku UMKM binaan, seperti rambut nenek, teh telang, dan berbagai camilan lainnya. Kampung wisata ini menawarkan paket yang lengkap, bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sarat dengan nilai edukasi dan literasi. Penulis merasa betah berada di sini, apalagi tersedia fasilitas homestay. Mayoritas pengunjungnya adalah pelajar, namun wisatawan mancanegara pun turut hadir.
Menikmati Kopi Pilihan di Kopi Poesaka
Setelah puas menikmati keindahan Kampung Wisata Parakanceuri, kami melanjutkan perjalanan menuju Kopi Poesaka. Bagi para pencinta kopi, tempat ini wajib dikunjungi. Kopi yang disajikan dibuat dari biji kopi pilihan yang mereka tanam sendiri dan telah meraih berbagai penghargaan. Kebetulan, kopi yang dicicipi oleh penulis dan rekan kompasianer adalah kopi arabika yang ditanam di ketinggian 900 MDPL. Rasanya sangat enak, khas arabika yang cenderung asam dan aromatik.
Di Kopi Poesaka, penulis berkesempatan melihat langsung biji kopi dari tahap belum diolah, setengah jadi, hingga siap roasting. Kami juga menyaksikan proses pembuatan kopi menggunakan teknik V60 dan mencicipi kopi hangat secara langsung.
Pengalaman pertama di Purwakarta ini sungguh berkesan. Penulis kini lebih mengenal Purwakarta dan menyadari adanya potensi wisata alam yang memukau. Ini bukan sekadar perjalanan wisata, tetapi sebuah kesempatan untuk lebih mengenal alam dan keramahan warganya. Jika ditanya apakah penulis ingin kembali melakukan river tubing, menjelajahi Kampung Wisata Parakanceuri, dan menikmati kopi di Kopi Poesaka, jawabannya tentu saja “iya banget!”.
Penulis mengajak pembaca untuk mengatur waktu dan merencanakan liburan ke Purwakarta. Jangan lupa membeli oleh-oleh khasnya. Dengan semakin meningkatnya kunjungan wisata dalam negeri, perekonomian daerah akan semakin membaik dan kesejahteraan masyarakat sekitar pun akan meningkat. Terima kasih telah membaca artikel perjalanan jelajah wisata alam Purwakarta ini. Nantikan artikel menarik lainnya!



















