Penerapan Sistem Pemantauan Berbasis GPS untuk Armada Truk Angkutan Sampah di Samarinda
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda mulai menerapkan sistem pemantauan berbasis GPS pada armada truk angkutan sampah. Langkah ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasional, khususnya dalam penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Dengan penerapan teknologi ini, DLH berharap dapat mengoptimalkan pengelolaan sampah sekaligus menekan biaya operasional.
Tujuan Penerapan Sistem GPS
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, menjelaskan bahwa selama ini setiap unit truk memiliki alokasi BBM yang berbeda-beda, tergantung jarak tempuh dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Sambutan. Ia menegaskan bahwa aplikasi ini diperlukan sebagai bentuk tanggung jawab DLH dalam melakukan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan kegiatan pengangkutan sampah.
“Kondisi fiskal pemerintah daerah saat ini memaksa DLH untuk melakukan pengangkutan sampah secara efektif dan efisien,” ujarnya.
Tantangan Pengawasan Manual
Dengan jumlah armada yang cukup besar, yaitu 73 unit truk dan 89 sopir, pengawasan manual tidak lagi efektif. Oleh karena itu, DLH memutuskan untuk mengadopsi sistem digital melalui pemasangan GPS Tracker. Hal ini bertujuan untuk mengubah pola kerja manual menjadi lebih modern dan akurat.
Kerja Sama dengan Pihak Terkait
Untuk mendukung pengembangan sistem tersebut, DLH telah melakukan koordinasi awal dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) bersama Tim Walikota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP), termasuk menyiapkan kebutuhan data sebagai dasar perancangan aplikasi. Sebagai langkah jangka pendek, DLH juga bekerja sama dengan pihak penyedia perangkat GPS Tracker.
Hingga akhir Maret 2026, pemasangan perangkat tersebut, termasuk sensor BBM, telah mencapai hampir 50 persen dari total armada yang dimiliki. “Sambil menunggu Diskominfo menyiapkan aplikasi tersebut, kami telah bekerjasama dengan vendor perangkat GPS Tracker,” jelasnya.
Target Efisiensi Penggunaan BBM
DLH menargetkan, setelah seluruh armada terpasang sistem GPS dan sensor BBM, efisiensi penggunaan bahan bakar dapat ditekan hingga minimal 10 persen. Namun, besaran penghematan secara nominal belum dapat dipastikan karena fluktuasi harga BBM jenis Dexlite.
“Jika sudah terinstalasi di seluruh unit DLH maka kami targetkan paling tidak 10 persen BBM bisa kita efisiensikan. Secara angka rupiah kami tidak bisa menyebutkan karena harga Dexlite mengalami perubahan setiap bulannya,” pungkasnya.
Perkembangan Teknologi dalam Pengelolaan Sampah
Penerapan sistem pemantauan berbasis GPS adalah salah satu inovasi yang dilakukan DLH untuk meningkatkan kualitas layanan pengelolaan sampah. Dengan adanya teknologi ini, DLH tidak hanya mampu memantau perjalanan truk secara real-time, tetapi juga dapat mengoptimalkan penggunaan BBM serta meminimalkan risiko pemborosan.
Selain itu, pemasangan sensor BBM akan membantu DLH dalam mengawasi penggunaan bahan bakar secara lebih akurat. Hal ini sangat penting dalam rangka mengurangi biaya operasional dan meningkatkan transparansi dalam pengelolaan anggaran.
Kesiapan Infrastruktur Digital
DLH juga sedang mempersiapkan infrastruktur digital untuk mendukung sistem pemantauan ini. Proses perancangan aplikasi masih dalam tahap pengembangan, namun kerja sama dengan vendor perangkat GPS Tracker telah memberikan gambaran mengenai kebutuhan teknis yang harus dipenuhi.
Dengan adanya sistem ini, DLH berharap dapat memberikan layanan pengangkutan sampah yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Selain itu, penerapan teknologi juga akan membantu DLH dalam memenuhi standar pengelolaan sampah yang sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat dan daerah.
Kesimpulan
Penerapan sistem pemantauan berbasis GPS oleh DLH Kota Samarinda adalah langkah penting dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sampah. Dengan adanya teknologi ini, DLH tidak hanya mampu memantau perjalanan truk secara real-time, tetapi juga dapat mengoptimalkan penggunaan BBM dan mengurangi risiko pemborosan. Proses pemasangan perangkat GPS Tracker dan sensor BBM telah mencapai 50 persen dari total armada, dengan target pemasangan lengkap dalam waktu dekat.




















