Perubahan Drastis pada Kalender BWF World Tour di India: Dampak bagi Pemain Lokal
Dunia bulu tangkis India tengah diliputi kekhawatiran menyusul perubahan signifikan pada alokasi dan tingkatan turnamen BWF World Tour yang akan diselenggarakan di negara tersebut. Sejak tahun 2027 hingga 2030, India akan mengalami pengurangan drastis dalam jumlah turnamen yang mereka selenggarakan, dengan beberapa di antaranya dihapuskan dan yang lainnya diturunkan levelnya. Situasi ini diprediksi akan memberikan dampak berantai yang merugikan para pebulu tangkis muda dan berjuang untuk meniti karier di India.
Evolusi Kalender Turnamen India
Secara historis, India telah menjadi tuan rumah bagi empat turnamen BWF yang secara konsisten diadakan setiap tahunnya. Keempat kompetisi tersebut adalah:
- India Open: Turnamen bergengsi dengan level Super 750.
- Syed Modi International: Turnamen dengan level Super 300.
- Guwahati Masters: Salah satu dari dua turnamen level Super 100.
- Odisha Masters: Turnamen level Super 100 lainnya.
Namun, mulai tahun 2027 hingga 2030, peta jalan turnamen BWF di India akan berubah drastis. India hanya akan menyelenggarakan dua turnamen utama: India Open dan Syed Modi International. Lebih lanjut, level Syed Modi International akan diturunkan dari Super 300 menjadi Super 100.
Akar Masalah: Pengalaman Buruk dan Fasilitas
Penurunan level turnamen ini tampaknya berkaitan erat dengan pengalaman yang kurang menyenangkan yang dialami oleh sejumlah pemain non-India saat bertanding di Syed Modi, Guwahati, dan Odisha. Beberapa isu yang sempat mencuat dan menjadi perhatian antara lain:
- Kehadiran Burung di Arena: Adanya burung yang berkeliaran di dalam gedung olahraga (GOR) hingga meninggalkan kotoran menjadi salah satu keluhan yang disorot.
- Kondisi Sanitasi: Masalah sanitasi yang buruk di beberapa venue juga menjadi faktor yang dipertimbangkan.
- Polusi Udara: Isu polusi udara di kota-kota penyelenggara juga disebut-sebut sebagai salah satu kendala.
Meskipun perwakilan dari federasi bulu tangkis India membantah bahwa isu kebersihan dan fasilitas menjadi alasan utama penolakan tawaran turnamen yang lebih tinggi, fakta penurunan level turnamen tetap menjadi kenyataan.
Efek Domino: Ancaman bagi Generasi Muda India
Dengan hanya menyisakan satu kompetisi level Super 100 dan hilangnya turnamen Super 300, India kini menghadapi situasi di mana para pemainnya sendiri harus berjuang lebih keras untuk mengumpulkan poin peringkat BWF. Ini berarti mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk melakukan perjalanan ke luar negeri demi mengikuti turnamen dengan level yang lebih tinggi.
Dampak ini sangat terasa bagi:
- Pemain Muda: Para pemain yang baru merintis karier membutuhkan poin peringkat untuk bisa masuk ke turnamen-turnamen bergengsi. Tanpa turnamen domestik yang memadai, kesempatan mereka untuk mendapatkan poin tersebut menjadi sangat terbatas.
- Pemain yang Berjuang: Atlet yang sedang berjuang untuk menembus peringkat atas juga akan menghadapi kendala finansial dan logistik yang lebih besar.
Suara Para Pemain dan Orang Tua
Kekhawatiran ini telah disuarakan oleh beberapa pihak di lingkungan bulu tangkis India. Chirag Shetty, pemain ganda putra yang pernah menduduki peringkat satu dunia, mengungkapkan kesedihannya atas minimnya kesempatan bagi para pemain muda.
“Akan ada jauh lebih sedikit turnamen untuk para pemain muda berbakat,” ujar Chirag Shetty. “Sebelumnya, di bulan Desember, mereka biasanya mengikuti hampir empat turnamen di India. Rentang waktu itu sebenarnya membantu mereka menghemat banyak uang. Sekarang tidak mungkin bagi mereka untuk bermain karena dua turnamen telah dihapuskan.”
Kekhawatiran serupa juga datang dari orang tua pemain. Ramakrishna, ayah dari tunggal putri muda Shreyanshi Valishetty, menyoroti kesulitan yang akan dihadapi para pemain untuk mendapatkan poin peringkat. “Dengan dihapuskannya dua turnamen tersebut, akan sangat sulit bagi para pemain untuk mendapatkan poin peringkat,” keluhnya. “Pemain yang sedang naik daun membutuhkan poin-poin ini untuk bisa masuk ke turnamen. Mereka hanya akan mendapatkan sponsor jika berhasil masuk ke babak utama. Jika tidak, akan sulit untuk berpartisipasi dalam turnamen internasional.”
Perspektif Federasi: Tawaran Ditolak dan Strategi Masa Depan
Namun, Sanjai Mishra, perwakilan dari pelatnas India, mencoba memberikan pandangan yang berbeda. Ia mengelak anggapan bahwa India tidak layak menggelar turnamen BWF karena masalah fasilitas.
“Kami ditawari Super-1000, tetapi karena turnamen itu akan berakhir dalam 11 hari dan menawarkan hadiah uang yang lebih besar, kami terpaksa menolaknya,” kata Mishra. Ia menjelaskan bahwa penolakan tersebut lebih didasarkan pada pertimbangan logistik dan jadwal.
Mishra juga menambahkan bahwa pengurangan jumlah turnamen adalah tren global. “Semua negara mendapatkan lebih sedikit turnamen. Bahkan China hanya mendapatkan tiga acara. Karena kita mendapatkan satu Super-100, kami pikir lebih baik menyelenggarakannya di Lucknow karena Syed Modi adalah salah satu acara tertua kami,” ujarnya.
Lebih lanjut, Mishra mengungkapkan ambisi India untuk menjadi tuan rumah ajang yang lebih besar di masa depan. “Kami menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia tahun ini dan akan memutuskan untuk mengajukan tawaran untuk Piala Sudirman tahun depan,” tegasnya.
Meski demikian, masa depan turnamen BWF di India dan dampaknya terhadap pengembangan pemain lokal masih menjadi topik yang hangat diperbincangkan dan patut untuk terus dicermati perkembangannya.



















