Umarulfaruq Abubakar: Dari Masjid ke Mimbar, Kisah Sang Cleaning Service Mesir

Diposting pada

Perjalanan Inspiratif Dr. Umarulfaruq Abubakar: Dari Petugas Kebersihan hingga Penceramah Ternama

Kisah perjalanan hidup Dr. Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.H.I., Ketua Majelis Syari’i PPTQ Ibnu Abbas Klaten dan Ketua Forum Ma’ahid dan Madrasah Al-Qur’an Indonesia (Formaqi), adalah bukti nyata bahwa ketekunan dan mimpi dapat mengantarkan seseorang melampaui segala keterbatasan. Perjalanannya menuju mimbar dakwah yang kini ia duduki tidaklah mulus. Jauh dari kata mudah, ia pernah merasakan pahit getirnya kehidupan di negeri orang, bahkan pernah menyapu lantai dan menjadi petugas kebersihan demi menyambung hidup dan menuntut ilmu.

Cahaya Harapan dari Kampung Halaman

Lahir di sebuah desa kecil di Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, masa kecil Dr. Umarulfaruq Abubakar diwarnai oleh suasana religius yang kental. Lingkungan tempat tinggalnya yang berdampingan dengan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta membuatnya akrab dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan nasihat para guru sejak usia dini. Ia menghabiskan masa pendidikan dasar hingga menengah atas di kampung halamannya, sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi ke Mesir.

Salah satu tradisi yang selalu ia kenang dari kampung halamannya adalah Tumbilotohe, sebuah tradisi yang dilaksanakan pada tiga malam terakhir bulan Ramadhan. Pada malam-malam tersebut, lampu-lampu minyak dinyalakan di sepanjang jalan, menciptakan pemandangan indah yang berkelip bagaikan bintang di bumi. Bagi Umar muda, cahaya lampu-lampu itu bukan sekadar simbol tradisi, melainkan penanda harapan dan mimpi yang mulai tumbuh dalam dirinya. Hingga kini, meski telah jauh dari kampung halaman, ia tetap menyalakan lampu pada malam ke-27 Ramadhan sebagai pengingat akan mimpi masa kecilnya.

Mimpi Menuju Negeri Para Ulama

Lingkungan pesantren tempatnya menimba ilmu mempertemukannya dengan berbagai sosok guru inspiratif, termasuk beberapa dari Mesir. Salah satunya adalah Syekh Abdussalam Fatkhi Harun. Suatu ketika, saat Umar baru berusia sekitar 12 tahun, sang Syekh menatapnya dan berkata, “Umar, nanti kalau sudah besar belajar ke Mesir. Saya yang jemput.”

Ucapan tersebut terpatri kuat dalam benak Umar. Apalagi, ayahnya sendiri pernah memiliki impian serupa untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, namun terhalang oleh keterbatasan biaya. Mimpi sang ayah kemudian bersemayam menjadi amanah yang harus ia wujudkan. Tujuh tahun berselang, pada tahun 2003, ia akhirnya menginjakkan kaki di Mesir, negeri para ulama. Pertemuannya kembali dengan Syekh Abdussalam menjadi momen haru sekaligus awal dari ujian kehidupan di perantauan. Pesan ayahnya sebelum berangkat selalu ia pegang teguh: agar tidak menangis agar tidak meninggalkan kesedihan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Tujuh Kali Lebaran Tanpa Pelukan Keluarga

Kehidupan di Mesir ternyata jauh dari bayangan kemudahan. Perjuangan tak terhindarkan. Selama tujuh kali Idulfitri berturut-turut, ia tidak bisa pulang untuk berkumpul bersama keluarga. Komunikasi jarak jauh kala itu masih sangat terbatas, seringkali hanya mengandalkan surat yang balasan dari kampung halaman bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya studi, Umarulfaruq harus bekerja keras sembari belajar. Ia tak segan menjadi petugas kebersihan, membantu berbagai pekerjaan di masjid, bahkan menjadi penerjemah buku. Semua dilakukannya demi bertahan hidup dan melanjutkan pendidikan yang menjadi amanah keluarga. “Pengalaman itu membentuk pikiran dan perasaan,” ujarnya.

Ujian terberat datang pada tahun 2005, dua tahun setelah ia tiba di Mesir. Ayahnya wafat. Ia masih teringat pesan terakhir yang diterimanya dari sang ayah, “Selamat belajar, Nak.” Keesokan harinya, kabar duka itu datang. Keinginan untuk pulang sangat kuat, namun terkendala oleh urusan visa dan biaya yang tidak sedikit. Sejak saat itu, bulan Ramadhan, kerinduan yang mendalam, dan kehilangan menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pendewasaannya.

Menjaga Sanad dan Menghafal Kalam Ilahi

Bagi Dr. Umarulfaruq Abubakar, menimba ilmu di Mesir bukan semata-mata untuk meraih gelar akademik. Ia memanfaatkan kesempatan emas tersebut untuk menuntaskan hafalan Al-Qur’an serta menempuh sanad qiraat. Mesir, di matanya, adalah salah satu pusat keilmuan Al-Qur’an dengan jaringan sanad yang sangat kuat dan terpercaya. Proses pembelajaran sanad ini kemudian ia lanjutkan di Indonesia bersama Syekh Abdul Hamid Isa Qurqur Al-Mishri.

Ia meyakini bahwa menghafal Al-Qur’an adalah jalan menuju kebahagiaan batin yang hakiki. Ilmu, baginya, bukan sekadar kumpulan pengetahuan, melainkan sarana untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Cinta yang Membawa Kepulangan

Pada tahun 2011, setelah menyelesaikan studinya, Dr. Umarulfaruq Abubakar akhirnya kembali ke tanah air. Namun, langkahnya tidak langsung menuju kampung halaman di Gorontalo. Ia terlebih dahulu bertolak ke Banjarmasin untuk melamar seorang perempuan yang kelak menjadi pendamping hidupnya. Pada tanggal 4 Syawal 2011, keduanya resmi mengikrarkan janji suci pernikahan.

Kini, di tengah kesibukan yang padat sebagai seorang pengajar dan pimpinan lembaga pendidikan, ia senantiasa berusaha menyisihkan waktu berkualitas untuk keluarga. Selepas salat Isya, ia memilih untuk berada di rumah, menyimpan telepon genggamnya, dan menikmati momen berharga bercengkerama dengan anak-anaknya.

Menulis Sebagai Warisan Abadi

Selain aktif berdakwah dan mengajar, Dr. Umarulfaruq Abubakar juga memiliki kepedulian yang besar terhadap literasi. Ia telah menerbitkan setidaknya 18 buku. Baginya, menulis adalah cara untuk merawat gagasan agar tetap hidup dan terus memberikan manfaat.

“Menulis itu bekerja untuk keabadian,” ungkapnya. Ia berharap ilmu yang ia tuangkan dalam tulisan dapat menjadi warisan kebaikan yang terus mengalir bahkan setelah ia tiada kelak.

Merawat Batin di Tengah Pusaran Distraksi Modern

Di era digital yang serba cepat dan penuh dengan berbagai macam distraksi, Dr. Umarulfaruq Abubakar mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan hati. Ia menekankan bahwa setiap individu perlu memiliki rasa takut yang sehat kepada Tuhan, yang justru akan melahirkan harapan dan mendorong perbaikan diri, bukan kecemasan yang justru melemahkan.

Ia juga berpesan kepada generasi muda agar tidak menjadikan materi sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan dalam hidup. Sebab, ketika sandaran hidup hanya tertuju pada uang dan kekayaan, kegelisahan akan mudah tumbuh dan merusak ketenangan jiwa.

Bagi Dr. Umarulfaruq Abubakar, bulan Ramadhan adalah momentum terbaik untuk kembali membersihkan jiwa, mengurangi berbagai distraksi yang mengalihkan perhatian, serta meneguhkan kembali tujuan hidup yang sesungguhnya. Perjalanannya yang luar biasa membuktikan bahwa mimbar dakwah tidak selalu dimulai dari panggung yang megah dan gemerlap. Terkadang, ia berawal dari lantai masjid yang disapu dengan sabar, dari kerja sunyi seorang perantau yang gigih memelihara mimpi dan menjaga cahaya harapan di dalam hatinya.

Gambar Gravatar
Hendra merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan