Universitas Nusa Nipa Maumere Luncurkan Pusat Studi Pancasila, Garda Terdepan Kedaulatan Epistemik di Era Digital
Maumere – Dalam momen bersejarah yang bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1 Juni 2026), Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere secara resmi meluncurkan Pusat Studi Pancasila. Inisiatif ini bukan sekadar penanda akademis semata, melainkan sebuah langkah strategis yang sarat makna, yaitu mengembalikan nilai-nilai luhur bangsa ke akar sejarahnya di Pulau Flores.
Secara struktural, Pusat Studi Pancasila akan berada di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Pengelolaan lembaga ini akan dipimpin langsung oleh Wakil Rektor I Unipa, Dr. Hendrikus Pedro, S.Fil., M.A. Pendirian pusat studi ini digadang-gadang akan menjadi benteng pertahanan kedaulatan epistemik, baik bagi sivitas akademika maupun masyarakat luas, terutama dalam menghadapi derasnya arus informasi digital yang semakin kompleks.
Rektor Unipa, Dr. Jonas K. G. D. Gobang, S.Fil., M.A., yang juga merupakan salah satu penggagas utama pendirian pusat studi ini, menekankan pentingnya latar belakang historis di balik pembentukannya. Beliau mengingatkan bahwa Pancasila lahir dari perenungan mendalam oleh Bapak Bangsa, Soekarno, saat menjalani masa pengasingan di Kota Ende, Pulau Flores. Oleh karena itu, peluncuran pusat studi ini adalah sebuah bentuk “pulang kampung” nilai-nilai fundamental bangsa ke tanah kelahirannya.
Acara peluncuran diawali dengan sesi talk show yang menghadirkan Rektor Unipa sebagai narasumber utama. Dengan tema “Siapa Menguasai Kesadaran Kita? Reaktualisasi Pancasila dan Kedaulatan Epistemik di Era Algoritma,” beliau mengupas tuntas ancaman nyata yang dihadapi masyarakat di era digital, yaitu potensi hilangnya otonomi berpikir.
“Manusia modern saat ini tengah dibentuk oleh sistem algoritmik yang sering kali tidak disadari. Apabila seluruh informasi yang kita konsumsi setiap hari telah diseleksi oleh algoritma, maka apakah cara berpikir kita masih sepenuhnya menjadi milik kita sendiri?” ujar Rektor yang akrab disapa Gery Gobang ini, menyiratkan kekhawatiran mendalam tentang independensi intelektual generasi kini.
Ancaman Kolonialisme Baru Melalui Penguasaan Kesadaran
Lebih lanjut, Gery Gobang menegaskan bahwa era digital bukan hanya sekadar revolusi teknologi, melainkan sebuah revolusi kesadaran yang lebih mendasar. Ia menyatakan keprihatinannya terhadap bentuk penjajahan di masa kini yang tidak lagi bersifat fisik berupa penguasaan wilayah, melainkan melalui penguasaan data, informasi, dan pada akhirnya, kesadaran manusia.
Ketika algoritma media sosial secara sistematis menentukan apa yang menjadi viral dan apa yang terabaikan, masyarakat berisiko kehilangan kedaulatan epistemik mereka. Kedaulatan epistemik ini merujuk pada kemampuan fundamental untuk berpikir secara mandiri, menganalisis informasi, dan memverifikasi realitas secara kritis.
“Sebuah bangsa dapat kehilangan kemerdekaannya bahkan tanpa menyadari bahwa mereka sedang dijajah. Oleh karena itu, kampus di masa depan haruslah menjadi garda terdepan penjaga kedaulatan kesadaran dan menjadi ruang perlawanan terhadap fenomena kedangkalan berpikir yang semakin merajalela,” tegasnya dengan penuh keyakinan.
Pancasila sebagai Kompas Moral di Ranah Digital
Menurut Rektor Gery Gobang, Pancasila memiliki relevansi yang sangat kuat dalam menghadapi krisis arah moral yang kerap muncul di era digital. Beliau memberikan contoh konkret Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, yang dapat berfungsi sebagai jangkar moral yang kokoh di tengah anonimitas dan ketidakpastian yang kerap mewarnai interaksi di dunia maya.
“Pusat Studi Pancasila ini tidak hanya berfokus pada kajian Pancasila sebagai ideologi negara semata. Kami juga berkomitmen untuk mengembangkannya sebagai sebuah paradigma yang mampu menjawab berbagai tantangan peradaban digital yang semakin kompleks,” tambahnya.
Unipa memiliki komitmen kuat untuk menjadikan kampusnya bukan hanya sebagai tempat yang melahirkan talenta digital (digital talents), tetapi juga sebagai pusat pengembangan warga digital (digital citizens) yang memiliki kesadaran etis yang tinggi, kemampuan reflektif yang tajam, serta kecakapan digital yang mumpuni.
Tiga Pilar Utama Pengembangan Pancasila di Unipa
Ke depannya, Pusat Studi Pancasila Unipa akan memfokuskan kegiatannya pada tiga jalur utama yang saling terkait dan komplementer:
- Penelitian Pancasila yang Kontekstual: Melakukan kajian mendalam terhadap Pancasila yang relevan dengan konteks zaman modern, khususnya tantangan dan peluang di era digital. Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan temuan-temuan baru yang bermanfaat bagi pemahaman dan implementasi Pancasila.
- Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Nilai Luhur: Mengembangkan program-program pengabdian masyarakat yang berakar pada nilai-nilai luhur Pancasila. Tujuannya adalah untuk menanamkan pemahaman dan praktik Pancasila dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, serta meningkatkan kualitas hidup mereka.
- Diseminasi Pemikiran Melalui Seminar dan Publikasi Ilmiah: Menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dan pemikiran mengenai Pancasila melalui berbagai forum ilmiah, seperti seminar, lokakarya, dan publikasi jurnal ilmiah. Langkah ini penting untuk memperkaya khazanah keilmuan Pancasila dan menjangkau audiens yang lebih luas.
Melalui langkah-langkah strategis ini, diharapkan Pusat Studi Pancasila Unipa dapat menjadi “oase” pengetahuan dan pencerahan di tengah derasnya arus disrupsi informasi yang sering kali mengaburkan batas antara kebenaran faktual dan rekayasa algoritmik. Lembaga ini diharapkan mampu membekali generasi muda dengan kemampuan berpikir kritis dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila, demi menjaga keutuhan bangsa dan negara di era digital yang penuh tantangan.


