Munculnya laporan mengenai varian baru virus flu burung yang menginfeksi hewan mamalia seperti sapi perah dan kucing di berbagai negara telah meningkatkan kewaspadaan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Strain virus ini, yang mulai terdeteksi pada awal 2024, menunjukkan kemampuannya untuk berpindah lintas spesies, menimbulkan potensi risiko penularan yang lebih luas.
Kementerian Kesehatan secara proaktif mengeluarkan surat edaran pada 8 Januari 2025 untuk mengingatkan dan menginstruksikan jajaran kesehatan di seluruh daerah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya kasus flu burung akibat varian baru ini ke Indonesia. Kewaspadaan ini sangat beralasan mengingat sejarah Indonesia yang pernah menghadapi wabah flu burung pada manusia sejak tahun 2003 hingga 2019, yang sayangnya telah menyebabkan sejumlah kasus kematian.
Flu Burung: Mutasi dan Potensi Penularan Antar Spesies
Flu burung, atau Avian Influenza (AI), dikenal sebagai penyakit kompleks yang terus mengalami mutasi dan evolusi. Prof. Dr. Suwarno, seorang pakar virologi dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (UNAIR), menjelaskan bahwa virus ini memiliki kemampuan untuk melakukan spillover, atau lompatan antarspesies. “Virus ini mengalami spillover atau lompatan antar spesies, dari burung liar ke mamalia, termasuk manusia dan unggas domestik,” ujar Prof. Suwarno.
Migrasi burung, khususnya burung air, memegang peranan krusial dalam penyebaran virus influenza A subtipe H5N1 ke berbagai wilayah. Pergerakan burung migran inilah yang secara signifikan berkontribusi dalam membawa virus ini melintasi batas negara. Keberadaan virus ini kini dilaporkan telah meluas ke berbagai benua, mencakup Amerika, Eropa, Afrika, Asia, dan Australia, sehingga meningkatkan urgensi kewaspadaan global.
Gejala Flu Burung pada Hewan dan Potensi Risiko bagi Manusia
Virus flu burung yang menyerang hewan mamalia dapat menunjukkan gejala yang bervariasi tergantung pada spesiesnya. Pada sapi perah, infeksi dapat menyebabkan penurunan drastis dalam produksi susu, bahkan hingga 100 persen, dan susu yang dihasilkan dapat terkontaminasi virus berbahaya jika tidak dipasteurisasi dengan benar. Susu mentah dari sapi yang terinfeksi juga berpotensi menularkan virus ke hewan lain, termasuk kucing, anjing, hingga satwa liar seperti harimau dan singa, serta unggas domestik.
Gejala flu burung pada sapi perah seringkali tidak spesifik, meliputi penurunan nafsu makan, keluarnya lendir dari hidung, lesu, dehidrasi, diare, serta perubahan karakteristik susu menjadi kental seperti kolostrum berwarna kuning.
Sementara itu, kucing dilaporkan memiliki risiko yang lebih tinggi terjangkit flu burung dibandingkan anjing, terutama karena kebiasaan mereka berburu burung yang merupakan reservoir alami virus ini. Gejala flu burung pada kucing dapat meliputi penurunan nafsu makan, lesu, demam, keluarnya lendir dari mata, bersin, batuk, kesulitan bernapas, gangguan koordinasi, tremor, kejang, hingga kebutaan. Paparan virus pada kucing juga dapat terjadi melalui konsumsi pakan seperti susu mentah atau daging unggas yang tidak dimasak sempurna.
Kewaspadaan Kemenkes dan Langkah Pencegahan
Menyikapi potensi penyebaran varian baru flu burung, Kemenkes RI telah mengambil langkah antisipatif dengan meningkatkan kewaspadaan di tingkat nasional. Pemberian edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, terutama yang berinteraksi erat dengan unggas atau hewan ternak, menjadi prioritas. Selain itu, penguatan surveilans epidemiologi dan laboratorium di seluruh daerah juga terus digalakkan untuk deteksi dini dan respons cepat jika terjadi kasus.
Bagi masyarakat, kewaspadaan dapat ditingkatkan dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan dasar. Menghindari kontak langsung dengan unggas yang sakit atau mati, serta lingkungannya yang terkontaminasi, merupakan langkah paling krusial. Kebersihan diri, seperti mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah berinteraksi dengan hewan, juga sangat penting.
Memasak daging unggas dan telur hingga matang sempurna (suhu internal minimal 74°C) menjadi cara efektif untuk membunuh virus yang mungkin ada. Bagi para pemilik hewan peliharaan, khususnya kucing, disarankan untuk tidak memberikan susu mentah atau daging setengah matang, serta menjaga agar hewan tetap berada di dalam rumah untuk meminimalkan kontak dengan burung liar atau unggas yang berpotensi terinfeksi. Segera konsultasikan dengan dokter hewan jika kucing menunjukkan gejala yang mencurigakan.
Meskipun penularan flu burung dari hewan ke manusia masih tergolong jarang, potensi ini tetap ada dan memerlukan kewaspadaan tinggi. Pengetahuan mengenai gejala, jalur penularan, serta tindakan pencegahan yang tepat dapat meminimalkan risiko dan melindungi kesehatan masyarakat Indonesia.
Penulis: Erwin












