Waspadai Kemarau, 29 Desa di Bangkalan Jadi Prioritas Bantuan Air Bersih

Diposting pada

Persiapan Pemkab Bangkalan Menghadapi Musim Kemarau 2026

Musim kemarau di Kabupaten Bangkalan diprediksi akan berlangsung pada bulan Mei hingga Oktober 2026, dengan puncaknya terjadi pada Juli dan Agustus. Pemerintah Daerah (Pemkab) Bangkalan telah mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau mulai terjadi sejak Mei atau akhir April, dan akan berakhir sekitar September hingga Oktober. Untuk menanggulangi dampaknya, BPBD Kabupaten Bangkalan melakukan pemetaan wilayah yang berpotensi terdampak. Dari hasil pemetaan tersebut, sebanyak 29 desa di enam kecamatan telah ditetapkan sebagai prioritas dalam pemberian bantuan air bersih.

Wilayah Prioritas Bantuan Air Bersih

Dalam penjelasannya, Kepala Pelaksana BPBD Bangkalan, Moh Zainul Qomar, menyebutkan bahwa 29 desa ini tersebar di enam kecamatan, yaitu Konang, Tanah Merah, Kokop, Geger, Arosbaya, dan Sepulu. Berikut rinciannya:

  • Kecamatan Konang meliputi lima desa: Galis Dajah, Kanagarah, Durin Barat, Batukaban, dan Durin Timur.
  • Kecamatan Tanah Merah terdiri dari tiga desa: Pangeleyan, Padurunga, dan Tanah Merah Dajah.
  • Kecamatan Arosbaya hanya memiliki satu desa prioritas, yaitu Desa Batonaong.
  • Kecamatan Geger meliputi enam desa: Komabangan, Lerpak, Banyeor Dajah, Banyeor Laok, Katol Barat, dan Desa Dabung.
  • Kecamatan Sepulu memiliki lima desa prioritas, yaitu Desa Klapayan, Gangseyan, Lergunong, Bangsereh, dan Desa Kelbung.

Qomar menjelaskan bahwa jumlah desa yang terdampak kekeringan bisa bertambah, tergantung permintaan dari masing-masing kecamatan. Oleh karena itu, pemetaan terus dilakukan agar semua wilayah yang berisiko bisa mendapatkan perhatian sesuai kebutuhan.

Pengaruh El Nino Terhadap Musim Kemarau

Perubahan iklim yang terjadi di wilayah Jawa Timur, termasuk Kabupaten Bangkalan, disebabkan oleh fenomena El Nino. Menurut Qomar, El Nino menjadi faktor utama dalam meningkatkan risiko kekeringan. Suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang lebih hangat menyebabkan kurangnya pembentukan awan hujan, sehingga memperpanjang durasi musim kemarau.

Fenomena ini juga dipengaruhi oleh berakhirnya La Nina Lemah pada Februari 2026, yang secara perlahan bergeser ke fase Netral dan berpotensi berubah menjadi El Nino pada pertengahan tahun. Hal ini membuat musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dan intensif.

Dinamika Iklim dan Perubahan Cuaca

Selain El Nino, dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MOJ) juga turut memengaruhi cuaca di wilayah Jawa Timur. MOJ diperkirakan aktif pada fase 6 hingga fase 7 dalam beberapa minggu ke depan. Namun, dampaknya terhadap pembentukan awan hujan tidak signifikan.

Cuaca ekstrem yang terjadi dalam tiga hari terakhir, seperti angin kencang dan hujan deras, menunjukkan bahwa periode musim penghujan mulai berakhir. Meskipun cuaca ekstrem sudah berlalu, kondisi saat ini masih labil dan menuju masa pancaroba yang berpotensi memicu kekeringan.

Tindakan Preventif dan Kesiapsiagaan

Untuk menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih panjang, Pemkab Bangkalan telah mengambil berbagai langkah preventif. Selain memberikan bantuan air bersih, pihak BPBD juga terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi wilayah. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan siap menghadapi perubahan iklim yang semakin tidak menentu.

Dengan persiapan yang matang, diharapkan masyarakat dapat mengurangi dampak negatif dari musim kemarau, terutama dalam hal akses air bersih dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Gambar Gravatar
Hendra merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan