Protes Besar-besaran Kelompok Yahudi AS di Depan Rumah Wali Kota New York, Zohran Mamdani
New York, AS – Suasana di depan kediaman Wali Kota New York, Zohran Mamdani, di Manhattan pada Selasa malam (26/5/2026) waktu setempat mendadak ramai. Ratusan anggota kelompok Yahudi Amerika Serikat menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran, menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap kepemimpinan Mamdani yang dinilai sangat anti-Yahudi.
Aksi demonstrasi ini diprakarsai oleh organisasi Yahudi AS bernama EndJewHatred. Dalam penyelenggaraannya, EndJewHatred mendapatkan dukungan dari beberapa organisasi lain yang memiliki visi serupa, termasuk Israeli American Council, Catholic League, dan Zionist Organization of America. Kolaborasi ini menunjukkan luasnya kekhawatiran dan kemarahan yang dirasakan oleh berbagai elemen masyarakat terhadap kebijakan dan pernyataan Wali Kota Mamdani.
Momen Unik: Demo Pertama Terhadap Mamdani
Kejadian ini menandai pertama kalinya kelompok Yahudi AS secara terorganisir menggelar aksi demonstrasi di depan kediaman pribadi Wali Kota Zohran Mamdani. Kemarahan yang memuncak ini dipicu oleh persepsi publik bahwa Mamdani menunjukkan sikap yang sangat tidak bersahabat terhadap komunitas Yahudi di Amerika Serikat. Hal ini dianggap semakin ironis mengingat Amerika Serikat menganut prinsip liberalisme, yang seharusnya menjamin kebebasan beragama bagi seluruh warganya, memungkinkan setiap individu untuk memeluk keyakinan agamanya masing-masing tanpa diskriminasi.
Dalam aksi tersebut, para demonstran secara tegas mendesak Mamdani untuk segera mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wali Kota New York. Mereka berargumen bahwa Mamdani telah gagal dalam menjalankan tugasnya, terutama dalam menangkal penyebaran paham radikal dan ujaran kebencian yang ditujukan kepada komunitas Yahudi di wilayah yang dipimpinnya. Lebih jauh lagi, para pengunjuk rasa menilai Mamdani telah gagal mewujudkan New York sebagai kota yang benar-benar menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi antarumat beragama.
Kekecewaan Mendalam Terhadap Kepemimpinan Mamdani
Para peserta aksi unjuk rasa membawa berbagai spanduk dan bendera yang secara gamblang menyuarakan kekecewaan mereka terhadap kepemimpinan Zohran Mamdani. Beberapa tulisan yang terlihat di antaranya adalah “Zohran Mamdani harus pergi,” “Dari sungai ke laut, Kota New York akan merdeka,” dan “Copot Mamdani.” Pesan-pesan ini mencerminkan tuntutan yang kuat dan harapan agar terjadi perubahan kepemimpinan di kota metropolitan tersebut.
Salah seorang tokoh publik dan influencer ternama di AS, Zach Sage Fox, turut memberikan orasi di hadapan para demonstran. Ia menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi yang terjadi.
“Nenek moyang kita mempertaruhkan segalanya agar kita dapat memastikan bahwa Amerika (Serikat) benar-benar menjadi tanah kebebasan beragama tempat orang Yahudi dapat berkembang dan Kota New York dibangun oleh orang Yahudi, Tuan Mamdani,” ujar Zach Sage Fox, menekankan pentingnya sejarah dan kontribusi komunitas Yahudi dalam pembangunan Amerika Serikat, khususnya New York.

Aksi Berlangsung Kondusif
Meskipun suasana dipenuhi dengan tuntutan dan kekecewaan, aksi demonstrasi yang digelar di depan rumah Wali Kota Mamdani dilaporkan berlangsung dengan tertib dan kondusif. Keberadaan barisan polisi yang sigap menjaga keamanan dan membentuk barikade berhasil mencegah para demonstran memasuki area pribadi kediaman wali kota. Situasi terkendali, dan aksi tersebut tidak berakhir dengan insiden anarkis maupun menimbulkan korban jiwa. Hal ini menunjukkan kedewasaan para demonstran dalam menyampaikan aspirasi mereka.

Sejak resmi dilantik sebagai Wali Kota New York pada Januari lalu, Zohran Mamdani memang telah menjadi sorotan dan menuai berbagai kecaman dari kelompok Yahudi di AS. Salah satu poin utama kritik adalah sikap Mamdani yang secara terbuka menyatakan tidak akan mengakui Israel sebagai negara Yahudi yang berdaulat. Selain itu, ia juga kerap melontarkan kritik tajam terhadap tindakan militer Israel di Gaza, menyebut serangan tersebut sebagai genosida yang melanggar hukum internasional. Pernyataan-pernyataan ini dinilai oleh sebagian kalangan sebagai tindakan yang provokatif dan tidak sensitif terhadap perasaan umat Yahudi.






