Ribuan Kios dan Los Pasar di Denpasar Kosong, Peluang Baru bagi Pedagang
Denpasar – Kondisi memprihatinkan melanda sejumlah pasar tradisional yang dikelola oleh Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Sewakadharma di Denpasar. Ribuan kios, los, dan bahkan area pelataran di 16 pasar dilaporkan tidak berpenghuni, menciptakan kekosongan yang signifikan. Menanggapi situasi ini, Perumda Pasar membuka pintu lebar-lebar bagi para pedagang yang berminat untuk menyewa dan mengisi ruang-ruang kosong tersebut.
Direktur Utama Perumda Pasar Sewakadharma, IB Kompyang Wiranata, yang akrab disapa Gus Kowi, mengungkapkan bahwa terdapat setidaknya 1.200 unit kios, los, dan pelataran yang kini kosong. Kekosongan ini tersebar di 13 pasar berbeda di bawah pengelolaan Perumda. Angka ini setara dengan 13,95 persen dari total keseluruhan tempat yang tersedia di seluruh pasar yang ada.
“Dari total 8.600 tempat yang meliputi kios, los, dan pelataran di seluruh pasar yang kami kelola, saat ini tercatat ada 1.200 tempat yang kosong,” jelas Gus Kowi pada Rabu, 4 Maret 2026.
Kekosongan tersebut tidak hanya terpusat di satu atau dua pasar, melainkan merata di berbagai lokasi. Beberapa pasar yang terdampak antara lain Pasar Badung, khususnya pada lantai III dan IV yang dikenal sepi pengunjung. Pasar-pasar lain yang juga mengalami kekosongan signifikan adalah Pasar Kumbasari, Pasar Sanglah, Pasar Pidada, Pasar Satria, Pasar Kreneng, Pasar Anyarsari, Pasar Asoka, Pasar Ketapian, Pasar Abiantimbul, Pasar Lokitasari, Pasar Cokroaminoto, hingga Pasar Gunung Agung.
Gus Kowi memaparkan beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap banyaknya kios dan los yang tak terisi. Salah satu alasan paling mendasar adalah sepinya jumlah pengunjung. Kondisi ini sangat terasa di area-area tertentu seperti lantai III dan IV Pasar Badung, yang jarang sekali dikunjungi oleh para pembeli.
Faktor lain yang turut memperparah adalah maraknya pasar modern yang kini menjamur di berbagai sudut kota. Keberadaan pusat perbelanjaan modern dengan fasilitas yang lebih lengkap dan kenyamanan yang ditawarkan, secara tidak langsung mengalihkan minat masyarakat dari pasar tradisional.
“Selain itu, keberadaan pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar juga menjadi penyebab. Masyarakat cenderung memilih untuk berbelanja di sana karena aksesnya yang lebih dekat dan mudah dijangkau,” tambah Gus Kowi.
Tak hanya itu, keberadaan pedagang liar yang beroperasi di area depan pasar-pasar tradisional yang dikelola Perumda juga memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap banyaknya kios dan los yang ditinggalkan oleh para penyewanya. Para pedagang liar ini seringkali menawarkan harga yang lebih murah atau lokasi yang lebih strategis bagi sebagian konsumen, sehingga membuat pedagang resmi di dalam pasar merasa tersaingi.
Peluang Baru Bagi Para Pedagang
Menyadari potensi yang masih ada dan keinginan untuk menghidupkan kembali geliat perekonomian di pasar-pasar tradisional, Perumda Pasar Sewakadharma secara proaktif membuka kesempatan bagi para pedagang baru. Inisiatif ini diharapkan dapat mengisi kekosongan yang ada dan memberikan alternatif tempat berjualan yang lebih terstruktur.
“Kami telah mengumumkan peluang ini secara luas melalui berbagai platform media sosial. Jadi, bagi siapa saja yang memiliki niat untuk berdagang dan ingin memanfaatkan ruang-ruang kosong yang ada di pasar kami, silakan untuk segera menghubungi kami,” ujar Gus Kowi.
Perumda Pasar berharap langkah ini dapat menarik minat para pelaku usaha, baik yang baru memulai maupun yang ingin mengembangkan usahanya. Dengan menyewa kios atau los yang tersedia, para pedagang dapat beroperasi di lokasi yang legal, mendapatkan dukungan pengelolaan dari Perumda, serta berkontribusi dalam menjaga kelestarian pasar tradisional sebagai denyut nadi perekonomian lokal.
Pihak Perumda Pasar juga berkomitmen untuk melakukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan guna meningkatkan daya tarik pasar tradisional. Hal ini mencakup upaya peningkatan kenyamanan, kebersihan, promosi, serta kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menarik lebih banyak pengunjung. Diharapkan, dengan adanya sinergi antara Perumda, pedagang, dan masyarakat, pasar-pasar tradisional di Denpasar dapat kembali ramai dan menjadi tujuan utama berbelanja.















