Semarak Ramadan di Palu: Festival Lari Tradisional Tanpa Alas Kaki Raih Perhatian
Kota Palu kembali diramaikan oleh gelaran unik yang memadukan tradisi dan semangat olahraga di bulan suci Ramadan. Sebuah kompetisi lari tradisional tanpa alas kaki sukses digelar di Jalan dr Wahidin, Kelurahan Besusu Barat, Kecamatan Palu Timur, menarik antusiasme ratusan peserta dan ribuan penonton. Acara yang memasuki tahun keempat pelaksanaannya ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan bagi masyarakat yang menanti waktu sahur, tetapi juga menjadi ajang strategis untuk menjaring bakat-bakat atlet lari potensial dari Kota Palu dan seluruh Provinsi Sulawesi Tengah.
Keunikan Lomba: Lari Kaki Telanjang di Lintasan 75 Meter
Hal yang paling mencolok dari festival lari yang diberi nama “Wahidin Ramadan Pangova 4” ini adalah aturan mainnya. Seluruh peserta diwajibkan berlari tanpa menggunakan alas kaki di lintasan sepanjang 75 meter yang telah disiapkan di Jalan dr Wahidin. Konsep “kaki telanjang” ini memberikan sentuhan tradisional yang kental, membedakan lomba ini dari kompetisi lari pada umumnya.
M Opank, selaku Ketua Panitia, menjelaskan bahwa kegiatan ini telah menjadi agenda tahunan yang dinanti-nantikan. “Wahidin Ramadan Pangova ini berbeda dengan lomba lari pada umumnya, karena para peserta berlari tanpa alas kaki atau kaki telanjang di lintasan sepanjang 75 meter di Jalan Wahidin, Kota Palu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keunikan inilah yang menjadi daya tarik utama, baik bagi peserta maupun penonton.
Peserta dari Berbagai Penjuru Sulawesi Tengah
Antusiasme terhadap lomba ini terbukti dari jumlah peserta yang mencapai 64 orang. Peserta tidak hanya berasal dari Kota Palu, tetapi juga datang dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah, menunjukkan jangkauan dan daya tarik acara ini. Wilayah yang turut berpartisipasi meliputi Kabupaten Sigi, Donggala, Parigi Moutong, hingga Kabupaten Poso. Keberagaman asal peserta ini semakin memperkaya nuansa kebersamaan dan persaingan sehat dalam festival tersebut.
Tiga Kategori Kompetisi dan Sistem Gugur
Untuk memberikan kesempatan yang lebih luas bagi berbagai kalangan, kompetisi ini dibagi menjadi tiga kategori utama:
- Kategori Utama: Diperuntukkan bagi peserta yang memiliki kemampuan dan pengalaman lebih.
- Kategori Bebas: Kategori ini memberikan fleksibilitas bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi, tanpa batasan usia atau pengalaman tertentu.
- Kategori Perempuan: Kategori khusus ini didedikasikan untuk para pelari wanita, mendorong partisipasi gender dalam olahraga.
Sistem perlombaan yang diterapkan adalah sistem gugur. Artinya, peserta yang kalah dalam setiap babak akan tersingkir, sementara pemenang akan melanjutkan ke babak berikutnya. Sistem ini menambah ketegangan dan keseruan setiap pertandingan, memastikan bahwa hanya pelari terbaik yang akan melaju hingga babak final. Lomba ini sendiri digelar selama tiga hari berturut-turut, dimulai dari tanggal 12 hingga 14 Maret 2026, memberikan waktu yang cukup bagi para peserta untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
Dukungan Penuh dari Pemerintah Daerah
Keberhasilan dan kelancaran acara ini tidak lepas dari dukungan penuh Pemerintah Kota Palu. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Palu, Bachtiar, secara resmi menyatakan dukungannya terhadap kegiatan “Wahidin Ramadan Pangova 4”. Ia melihat kegiatan ini sebagai aset berharga dalam pengembangan olahraga di tingkat daerah.
“Untuk para peserta diharapkan selalu melakukan pemanasan atau peregangan otot sebelum bertanding, apalagi olahraga ini tanpa menggunakan alas kaki, jadi akan sedikit lebih berbahaya,” imbau Bachtiar. Ia menekankan pentingnya persiapan fisik yang matang, mengingat tantangan berlari tanpa alas kaki yang membutuhkan adaptasi dan kehati-hatian ekstra.
Lebih lanjut, Bachtiar juga menyoroti aspek penting lainnya, yaitu sportivitas. Ia berpesan kepada seluruh peserta untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas selama berlangsungnya perlombaan. “Menang dan kalah merupakan hal yang biasa dalam setiap kompetisi. Yang terpenting adalah bagaimana kita bertanding dengan fair dan menghargai lawan,” tuturnya.
Dukungan dari dinas terkait ini diharapkan dapat memotivasi penyelenggara dan peserta, serta membuka jalan bagi gelaran serupa di masa mendatang. Harapan besar disematkan agar festival lari tradisional ini dapat terus melahirkan bibit-bibit atlet muda yang berprestasi, yang kelak mampu mengharumkan nama Kota Palu maupun Provinsi Sulawesi Tengah di kancah olahraga nasional, bahkan internasional.
Festival “Wahidin Ramadan Pangova 4” ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi dan olahraga dapat berjalan beriringan, menciptakan momen kebersamaan yang berharga sekaligus menjadi sarana pengembangan potensi generasi muda.











