Dampak Banjir Jepara: Swasembada Pangan 2026 Tetap Optimis Tercapai
Banjir yang melanda Kabupaten Jepara awal tahun 2026 lalu membawa dampak signifikan bagi sektor pertanian, khususnya tanaman padi. Meskipun demikian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara tetap optimis bahwa target swasembada pangan pada Masa Tanam (MT) 1 tahun 2026 akan tetap tercapai.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara, Mudhofir, menjelaskan bahwa banjir telah merendam 3.861 hektare lahan sawah. Dari total tersebut, 2.807 hektare dinyatakan puso (gagal panen), sementara 1.054 hektare masih dapat diselamatkan.
Dampak dan Upaya Penanganan
- Lahan Puso: Lahan sawah yang puso harus segera dilakukan penanaman ulang untuk meminimalkan kerugian dan menjaga produktivitas padi. Kabar baiknya, sebagian besar lahan yang puso merupakan tanaman padi yang baru saja ditanam. Hal ini memungkinkan petani untuk melakukan penambalan sulam dengan penanaman ulang.
- Bantuan Bibit dan Pupuk: Pemerintah telah mengusulkan bantuan bibit padi dan pupuk kepada pemerintah provinsi dan pusat bagi petani yang terdampak banjir. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban petani dan mempercepat proses penanaman ulang.
- Keterlambatan Panen: Bencana banjir menyebabkan keterlambatan panen padi yang semula diproyeksikan pada bulan April, kini mundur menjadi pertengahan hingga akhir Mei.
Target dan Realisasi Masa Tanam 1 2026
Pada MT 1 2026, Kabupaten Jepara menargetkan luas tanam sebesar 10.957 hektare. Realisasinya hingga saat ini mencapai 10.589 hektare. Meskipun belum mencapai target yang ditetapkan, realisasi luas tanam MT 1 2026 ini lebih tinggi dibandingkan realisasi MT 1 2025 yang hanya mencapai 9.861 hektare. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan upaya dan kesadaran petani dalam menjaga produktivitas pertanian.
Tantangan dan Harapan Petani
Ahmad Faris, seorang petani di Mlonggo, Jepara, mengungkapkan bahwa tantangan utama yang dihadapi petani saat banjir adalah tanaman yang membusuk karena terendam air terlalu lama. Petani terpaksa harus memulai ulang masa tanam agar tetap bisa panen.
“Petani terpaksa harus gali lobang tutup lobang atau mengajukan pinjaman untuk memulai masa tanam kembali setelah terdampak banjir,” ujarnya.
Bantuan benih dan pupuk sangat dibutuhkan agar petani tetap dapat bertahan dan menjaga produktivitas padi di tingkat daerah. Faris menambahkan bahwa jika lahan yang terdampak banjir tidak terlalu luas dan tanaman masih baru ditanam, kerugian petani tidak terlalu besar. Dalam kondisi seperti ini, petani seringkali saling membantu, misalnya dengan berbagi bibit yang berlebih kepada petani yang membutuhkan. Namun, jika sawah yang terdampak luas, petani harus melakukan tebar bibit kembali untuk memulai masa tanam.
Optimisme Ketahanan Pangan
Meskipun menghadapi tantangan akibat banjir, Pemkab Jepara tetap optimis bahwa ketahanan pangan tetap terjaga. Langkah-langkah penanganan yang cepat dan tepat, serta dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat, diharapkan dapat meminimalkan dampak negatif banjir dan memastikan swasembada pangan pada tahun 2026 tetap tercapai.



















