Aktivitas Gempa di Sumatera Barat dalam Sepekan: Catatan BMKG
Wilayah Sumatera Barat kembali menunjukkan aktivitas seismik yang cukup tinggi dalam sepekan terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Padang Panjang melaporkan telah mendeteksi sebanyak 27 kejadian gempa bumi yang mengguncang provinsi ini. Periode pencatatan yang dimaksud adalah dari tanggal 6 hingga 12 Februari 2026. Analisis lebih lanjut dari data yang dihimpun menunjukkan bahwa mayoritas dari gempa-gempa ini memiliki kekuatan yang relatif kecil, namun tetap menjadi pengingat akan dinamika geologis yang terus bergerak di bawah permukaan.
Analisis Kekuatan dan Kedalaman Gempa
Dari total 27 gempa yang tercatat, Kepala BMKG Padang Panjang, Suaidi Ahadi, merinci bahwa sebagian besar di antaranya memiliki magnitudo di bawah 3. “Sebanyak 19 gempa berkekuatan atau magnitudo kurang dari 3,” jelasnya dalam keterangan tertulis pada Jumat, 13 Februari 2026. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar getaran yang dirasakan mungkin tidak terlalu kuat atau bahkan tidak terasa sama sekali oleh banyak orang.
Namun, ada pula gempa dengan kekuatan yang lebih signifikan. BMKG Padang Panjang mencatat delapan kejadian gempa bumi dengan magnitudo di bawah 5. Gempa terbesar yang berhasil dideteksi selama periode tersebut mencapai magnitudo 4,3, sementara gempa terkecil tercatat pada magnitudo 1,6. Perbedaan magnitudo ini menunjukkan variasi energi yang dilepaskan saat terjadinya gempa.
Selain kekuatan, kedalaman gempa juga menjadi faktor penting dalam analisis. Data BMKG menunjukkan bahwa 24 dari 27 gempa terjadi pada kedalaman dangkal, yaitu di bawah 60 kilometer. Hanya tiga kejadian gempa bumi yang tercatat memiliki kedalaman antara 60 hingga 300 kilometer. Kedalaman maksimal gempa yang terjadi adalah 125 kilometer, sedangkan kedalaman minimalnya adalah 4 kilometer. Gempa dangkal cenderung lebih mudah dirasakan permukaannya dibandingkan gempa yang terjadi lebih dalam, meskipun kekuatannya mungkin sama.
Penyebab Aktivitas Gempa
Aktivitas seismik yang intens di Sumatera Barat ini, menurut BMKG, dipicu oleh dua faktor utama: pergerakan lempeng tektonik dan aktivitas sesar Sumatera. Wilayah Sumatera memang terletak di zona pertemuan beberapa lempeng tektonik besar, menjadikannya salah satu daerah paling rawan gempa di Indonesia. Sesar Sumatera, yang merupakan patahan aktif memanjang ribuan kilometer di sepanjang pulau Sumatera, juga menjadi sumber utama dari banyak gempa yang terjadi. Pergerakan terus-menerus dan akumulasi energi di sepanjang sesar ini secara periodik dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.
Memahami Skala MMI: Mengukur Dampak Gempa
Dalam setiap kejadian gempa, seringkali disebutkan skala MMI (Modified Mercalli Intensity). Skala ini berbeda dengan magnitudo yang mengukur kekuatan gempa di sumbernya. MMI mengukur intensitas getaran gempa di permukaan bumi dan dampaknya terhadap manusia, bangunan, serta lingkungan. Skala ini terbagi menjadi 12 tingkatan, dari I (tidak terasa) hingga XII (hancur total).
Berikut adalah penjelasan singkat mengenai tingkatan skala MMI:
- MMI I: Getaran gempa tidak dapat dirasakan kecuali dalam keadaan luarbiasa oleh beberapa orang.
- MMI II: Getaran atau goncangan gempa dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung seperti lampu gantung bergoyang.
- MMI III: Getaran gempa dirasakan nyata dalam rumah. Getaran terasa seakan-akan ada naik di dalam truk yang berjalan.
- MMI IV: Pada saat siang hari dapat dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah, di luar rumah oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu bergoyang hingga berderik dan dinding berbunyi.
- MMI V: Getaran gempa bumi dapat dirasakan oleh hampir semua orang, orang-orang berlarian, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan benda besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.
- MMI VI: Getaran gempa bumi dirasakan oleh semua orang. Kebanyakan orang terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap di pabrik rusak, kerusakan ringan.
- MMI VII: Semua orang di rumah keluar. Kerusakan ringan pada rumah dengan bangunan dan konstruksi yang baik. Sedangkan pada bangunan dengan konstruksi kurang baik terjadi retakan bahkan hancur, cerobong asap pecah. Dan getaran dapat dirasakan oleh orang yang sedang naik kendaraan.
- MMI VIII: Kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi kuat. Keretakan pada bangunan dengan konstruksi kurang baik, dinding terlepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen roboh, air berubah keruh.
- MMI IX: Kerusakan pada bangunan dengan konstruksi kuat, rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak terjadi keretakan. Rumah tampak bergeser dari pondasi awal. Pipa-pipa dalam rumah putus.
- MMI X: Bangunan dari kayu yang kuat rusak, rangka rumah lepas dari pondamennya, tanah terbelah rel melengkung, tanah longsor di tiap-tiap sungai dan di tanah-tanah yang curam.
- MMI XI: Bangunan-bangunan yang sedikit yang masih berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah. Pipa dalam tanah tidak dapat terpakai sama sekali, tanah terbelah, rel sangat melengkung.
- MMI XII: Hancur total, gelombang tampak pada permukaan tanah. Pemandangan berubah gelap, benda-benda terlempar ke udara.
Pemahaman mengenai skala MMI ini penting untuk dapat mengukur dan mengantisipasi tingkat kerusakan yang mungkin timbul akibat gempa, yang tentunya dipengaruhi oleh kekuatan gempa itu sendiri (magnitudo), kedalaman gempa, jarak dari pusat gempa, serta kondisi geologi dan konstruksi bangunan di wilayah terdampak. BMKG terus memantau aktivitas seismik ini untuk memberikan informasi terkini kepada masyarakat.



















