Opa Bura: Semangat Kemandirian di Usia Senja Melalui Gulali Tradisional
Di tengah hiruk pikuk jajanan modern yang kian menjamur, Ibrahim Pakaya, seorang pria berusia 71 tahun yang akrab disapa Opa Bura, tetap teguh menjaga tradisi. Sejak tahun 2012, ia memilih untuk menekuni profesi sebagai pembuat dan penjual gulali tradisional. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Opa Bura, yang tinggal di Kelurahan Molosifat U, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, menolak untuk sekadar berdiam diri atau menjadi beban bagi kedua anaknya yang sudah berkeluarga dan mapan. Prinsip hidupnya sederhana: selama fisik masih mampu bergerak, ia ingin terus berkarya dan menjaga kemandiriannya.
“Saya memilih tetap berjualan jika masih bisa duduk dan bekerja seperti ini. Saya tidak mau hanya diam di rumah dan berharap (bantuan) dari anak-anak,” ujar Ibrahim dengan senyum tulus saat ditemui di kawasan Kalimadu, Kota Tengah, Gorontalo.
Setiap sore, ketika matahari mulai condong ke barat, gerobak hijau Opa Bura akan terlihat di kawasan Kalimadu. Dengan tenang, ia duduk di balik gerobaknya, tangannya cekatan menarik adonan gula merah muda yang perlahan mengeras. Gulali, jajanan tradisional khas Indonesia yang terbuat dari lelehan gula hingga mengental dan elastis, memang memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi anak-anak. Bentuknya yang unik dan warnanya yang mencolok selalu berhasil menarik perhatian.
Perjalanan dari Pedagang Beras Menjadi Pengrajin Gulali
Perjalanan Opa Bura di dunia jajanan tradisional ini tidaklah instan. Jauh sebelum menekuni gulali, ia adalah seorang pedagang beras yang cukup lama berjualan di Pasar Sentral Gorontalo. Ia bahkan menjadi saksi hidup saat pasar tersebut masih sangat tradisional dan harga beras hanya berkisar Rp1 per liter. Namun, seiring berjalannya waktu, kenaikan harga komoditas yang signifikan dan faktor usia memaksanya untuk mencari alternatif pekerjaan yang lebih ringan.
Pilihan jatuh pada gulali. Ibrahim mempelajari teknik pembuatannya secara otodidak. Prosesnya tidak selalu mulus, ia mengaku berkali-kali mengalami kegagalan, terutama dengan gula yang gosong. Namun, semangatnya tak pernah padam. Ia tak segan bertukar pikiran dengan sesama penjual lama untuk terus mengasah kemampuannya. Kini, tangannya sudah sangat lihai dalam membentuk cairan gula menjadi camilan manis yang disukai banyak orang.
Dulu, semangat juang Opa Bura membawanya berkeliling hingga ke luar daerah. Ia sering menggunakan sepeda motor untuk menjajakan dagangannya di berbagai pameran besar di Palu, Sulawesi Tengah, bahkan hingga Manado, Sulawesi Utara. Namun, seiring bertambahnya usia dan perubahan moda transportasi operasionalnya menjadi becak motor (bentor), ia kini lebih memilih untuk fokus berjualan di dalam kota. Lokasi utamanya adalah di kawasan Kalimantan–Madura (Kalimadu), tak jauh dari Perempatan Kompi Liluwo, di sisi kanan jalan yang ramai dilalui warga.
Menghadapi Ketidakpastian dengan Senyuman
Penghasilan dari berjualan gulali memang tidak selalu pasti. Terlebih lagi di bulan Ramadan, ketika aktivitas masyarakat cenderung menurun dan pembeli pun berkurang. Namun, Opa Bura tidak pernah mengeluh. Ia menjual gulalinya dengan harga yang sangat terjangkau, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000, tergantung ukuran.
“Kadang saya pulang membawa Rp50 ribu. Uang itu biasanya langsung habis untuk membeli beras dan kebutuhan dapur,” jelasnya.
Bagi Opa Bura, nilai dari gulali yang ia jual bukan sekadar keuntungan materi. Setiap helai gula yang ia tarik dengan sabar adalah bentuk perjuangan untuk menjaga harga diri dan kemandiriannya. Ia melayani anak-anak dengan senyuman dan kesabaran yang tulus, merasakan kebahagiaan melihat mereka menikmati hasil karyanya.
Meskipun fisik tak lagi sekuat masa muda, Ibrahim Pakaya, atau Opa Bura, telah membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Semangatnya untuk terus berkarya, menjaga kemandirian, dan menyebarkan kebahagiaan melalui jajanan tradisional adalah inspirasi bagi banyak orang. Ia adalah contoh nyata bahwa semangat dan dedikasi bisa mengatasi segala keterbatasan.
















