Sektor Perumahan: Mesin Pertumbuhan Ekonomi Nasional dengan Potensi Menggiurkan
Pembangunan kawasan perumahan di Indonesia diyakini memiliki kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, diperkirakan mencapai 1,5% hingga 2%. Angka ini bukanlah sekadar estimasi belaka, melainkan didasarkan pada analisis mendalam mengenai potensi efek berganda (multiplier effect) yang dimiliki oleh industri properti.
Hashim Djojohadikusumo, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perumahan, menjelaskan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan dalam sektor properti mampu memberikan dampak ekonomi yang berlipat ganda bagi negara. Tingginya efek pengganda ini, yang berkisar antara 1,5 hingga 5 kali lipat, disebabkan oleh keterkaitan erat antara industri perumahan dengan 185 subsektor ekonomi lainnya. Rantai pasok bisnis properti, konstruksi, dan perumahan melibatkan berbagai industri mulai dari material bangunan, jasa keuangan, tenaga kerja, hingga industri pendukung lainnya.
“Saya amat yakin bahwa kita akan mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, karena dari perumahan saja kami hitung sudah 1,5% sampai 2%,” ungkap Hashim dalam acara groundbreaking Rumah Susun (Rusun) Subsidi Meikarta di Cikarang Selatan pada Minggu, 8 Maret 2026.
Hashim, yang juga merupakan adik dari Presiden Prabowo, menekankan bahwa proyek perumahan menjadi tumpuan utama dalam upaya mengejar target pertumbuhan ekonomi minimal 8%. Cita-cita besar pemerintah adalah membangun 3 juta unit rumah dan apartemen setiap tahunnya.
“Sebetulnya cita-cita kita 3 juta apartemen rumah tiap tahun. Kenapa? Karena waktu saya ditugaskan untuk ikut menyusun program pemerintah 2 tahun lalu adalah agar bagaimana kita bisa mendorong ekonomi kita? Bagaimana kita bisa mencapai 8% pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Urgensi Penyediaan Hunian dan Kesenjangan Perumahan
Kebutuhan akan hunian layak di Indonesia masih sangat tinggi, menunjukkan adanya kesenjangan perumahan yang belum terselesaikan. Berdasarkan data dari Satgas Perumahan, saat ini terdapat sekitar 9 juta hingga 15 juta keluarga yang masuk dalam daftar tunggu untuk mendapatkan rumah layak huni. Angka ini mengindikasikan betapa mendesaknya program penyediaan hunian yang memadai.
Lebih lanjut, Hashim merinci bahwa masih ada sekitar 27 juta keluarga Indonesia yang saat ini masih menempati Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Kondisi ini semakin mempertegas potensi ekonomi yang besar dari sektor perumahan. Dengan mengatasi masalah RTLH dan memenuhi kebutuhan hunian baru, sektor ini ideal menjadi motor penggerak untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang ambisius, bahkan hingga menembus angka 8%.
Fokus Pembangunan Hunian Vertikal Subsidi untuk MBR
Menanggapi urgensi tersebut, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait (Ara), mengungkapkan arah strategis pembangunan program 3 juta rumah sepanjang tahun 2026. Prioritas utama adalah pengembangan hunian vertikal atau rumah susun (rusun) bersubsidi. Langkah ini diambil untuk mempercepat suplai perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
“Tahun ini prioritas kami adalah membangun rumah susun subsidi,” kata Ara.
Tahap awal dari program pembangunan rusun subsidi ini akan dilaksanakan bersama dengan Lippo Group. Proyek ini berlokasi di Meikarta, Cikarang, dan secara resmi dimulai pembangunannya pada Minggu, 8 Maret 2026.
Dalam laporan yang disampaikan, rusun subsidi Meikarta akan dibangun di atas lahan seluas 30 hektare (Ha). Proyek ini ditargetkan mampu menyediakan hingga 140.000 unit rusun subsidi yang diperuntukkan bagi MBR. Pembangunan hunian vertikal ini dinilai lebih efisien dalam penggunaan lahan dan dapat mengakomodasi lebih banyak keluarga dalam satu area, sekaligus menekan biaya konstruksi sehingga harga terjangkau bagi MBR.
Manfaat Ganda Pembangunan Perumahan
Pembangunan sektor perumahan tidak hanya memberikan manfaat langsung berupa penyediaan hunian, tetapi juga memiliki dampak positif yang luas bagi perekonomian.
- Penciptaan Lapangan Kerja: Industri konstruksi perumahan membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar, mulai dari pekerja kasar, tukang ahli, hingga tenaga profesional seperti arsitek, insinyur, dan manajer proyek.
- Pertumbuhan Industri Pendukung: Pembangunan rumah mendorong permintaan produk-produk dari berbagai industri pendukung, seperti produsen semen, baja, keramik, cat, furnitur, peralatan listrik, dan lain sebagainya.
- Peningkatan Pendapatan Daerah: Proyek-proyek perumahan seringkali memberikan kontribusi pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi.
- Stimulus Ekonomi Makro: Investasi dalam sektor perumahan dapat meningkatkan aktivitas ekonomi secara keseluruhan, mendorong konsumsi, dan menarik investasi asing.
Dengan berbagai potensi dan manfaat yang ditawarkan, fokus pemerintah pada pembangunan sektor perumahan, khususnya hunian bersubsidi, merupakan langkah strategis yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



















