Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Tewas dalam Serangan Udara, Israel-AS Diklaim Terlibat
Teheran berduka atas kehilangan salah satu tokoh kuncinya. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, yang berusia 67 tahun, dilaporkan tewas dalam sebuah serangan udara yang diklaim melibatkan pihak Israel dan Amerika Serikat. Kabar duka ini menyebar luas setelah berbagai sumber terpercaya di dalam negeri mengonfirmasi bahwa Larijani gugur bersama putranya, Morteza, pada Selasa dini hari, 17 Maret 2026.
Menurut laporan dari Kantor Berita Fars, serangan dahsyat tersebut tidak hanya merenggut nyawa Larijani dan putranya, tetapi juga seorang ajudan serta beberapa pengikutnya yang kebetulan berada di lokasi kejadian. Insiden tragis ini dilaporkan menargetkan sebuah rumah yang merupakan milik putri Ali Larijani, berlokasi di kawasan Pardis, yang terletak di sebelah timur laut Teheran.
Pada saat serangan terjadi, Larijani dilaporkan sedang dalam kunjungan untuk menemui putrinya. Hingga kini, belum ada informasi resmi yang dirilis mengenai kondisi sang putri pasca serangan tersebut. Kawasan Pardis sendiri diguncang oleh serangkaian ledakan hebat sekitar pukul 03.00 waktu setempat. Serangan ini merupakan bagian dari rangkaian operasi udara yang dilancarkan terhadap ibu kota Iran dan beberapa wilayah lainnya.
Beberapa jam setelah insiden mengerikan tersebut, spekulasi dan kabar beredar di kalangan masyarakat serta sumber-sumber lokal mengenai kemungkinan adanya tokoh-tokoh penting yang berada di lokasi serangan. Di antara nama-nama yang disebut-sebut adalah Ali Larijani sendiri dan beberapa komandan pasukan keamanan internal Iran.
Keterlibatan pihak asing dalam serangan ini semakin kuat setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, secara terbuka mengonfirmasi bahwa Ali Larijani memang tewas dalam serangan udara tersebut.
Jejak Karier dan Pengaruh Ali Larijani
Kepergian Ali Larijani merupakan pukulan telak bagi lanskap politik dan keamanan nasional Iran. Sosoknya dikenal sebagai salah satu pilar penting dalam struktur kekuasaan Iran, berasal dari keluarga ulama terkemuka yang telah memiliki pengaruh signifikan sejak Revolusi Iran tahun 1979.
Keluarga Larijani memiliki jaringan yang luas dalam pemerintahan, dengan beberapa anggota keluarganya menduduki posisi-posisi strategis. Hal ini menjadikan Ali Larijani sebagai figur yang dikenal pragmatis dan memiliki daya ungkit besar dalam merumuskan kebijakan keamanan Iran.
Lebih dari sekadar seorang politisi, Larijani juga memiliki latar belakang akademis yang mumpuni. Ia mendalami filsafat Barat dan bahkan pernah menulis tesis mengenai pemikiran Immanuel Kant. Dedikasinya pada intelektualisme ini juga tercermin dalam perannya sebagai negosiator dalam diplomasi Iran, termasuk dukungannya terhadap kesepakatan nuklir dengan negara-negara Barat pada tahun 2015.
Perjalanan Karier Politik dan Keamanan
Perjalanan karier Ali Larijani di pemerintahan Iran terbilang panjang dan penuh warna. Ia pernah mengabdikan diri dalam Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sebuah unit militer elit Iran. Pengalamannya tidak berhenti di situ, ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan memimpin lembaga penyiaran negara, IRIB.
Puncak karier politiknya dicapai saat ia terpilih sebagai Ketua Parlemen Iran. Ia memegang jabatan prestisius ini selama tiga periode berturut-turut, dari tahun 2008 hingga 2020. Periode ini menandai pengaruhnya yang kuat dalam pembuatan undang-undang dan arah kebijakan legislatif Iran.
Pada tahun 2025, Larijani kembali menduduki posisi yang sangat strategis dengan diangkat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Dalam kapasitasnya ini, ia menjadi salah satu arsitek utama dalam merancang dan mengimplementasikan strategi keamanan Iran. Perannya menjadi semakin krusial di tengah meningkatnya tekanan militer dan geopolitik dari Amerika Serikat dan Israel.
Ia juga memainkan peran vital dalam mengoordinasikan respons militer Iran, termasuk dalam menghadapi ancaman dan peluncuran rudal balasan. Selain itu, Larijani juga berkontribusi dalam menjaga stabilitas domestik di tengah berbagai tantangan yang dihadapi negara.
Dampak Kematian Larijani bagi Iran
Kematian Ali Larijani dinilai sebagai kerugian besar bagi Iran, tidak hanya dari perspektif politik semata, tetapi juga dari sisi keamanan nasional. Banyak analis keamanan memprediksi bahwa kehilangan sosok sentral seperti Larijani dapat mengganggu koordinasi yang selama ini terjalin erat antara lembaga-lembaga militer, keamanan, dan politik di Iran.
Selama ini, Larijani dianggap sebagai jembatan penghubung kunci yang mampu menyeimbangkan kepentingan dan menjaga harmoni di antara berbagai institusi vital negara. Kepergiannya berpotensi menciptakan kekosongan dan tantangan baru dalam menjaga kesatuan dan efektivitas respons negara terhadap ancaman eksternal maupun internal.
Beberapa hari sebelum insiden tragis ini, Larijani masih terlihat aktif di ruang publik. Ia turut serta dalam aksi unjuk rasa “Hari Quds” yang diselenggarakan di Teheran. Melalui akun media sosial X, ia sempat menyampaikan pesan bahwa para pemimpin Iran tidak akan gentar menghadapi tekanan, sekaligus membantah pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, yang menuding para pemimpin Iran bersembunyi. Pernyataan ini kini menjadi sorotan di tengah kabar kematiannya.



















