Arus Balik Lebaran 2026: Truk Bali Tertahan 12 Jam di Ketapang

Diposting pada

Kemacetan Parah di Pelabuhan Ketapang: Truk Logistik Terjebak Antrean Belasan Jam

BANYUWANGI – Situasi di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, dilaporkan mengalami kemacetan parah pada Minggu pagi, 29 Maret 2026. Ratusan truk logistik yang hendak menyeberang menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali, terpaksa tertahan dalam antrean yang mengular hingga belasan jam. Kondisi ini menimbulkan keluhan dari para sopir truk yang merasa kesulitan untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Berdasarkan pantauan yang dilakukan pada Minggu (29/3/2026) pukul 05.15 WIB, antrean kendaraan terpantau memanjang di sepanjang jalan arteri. Kemacetan ini membentang mulai dari Terminal Sri Tanjung hingga pintu masuk pelabuhan. Penyebab utama kemacetan ini adalah penuhnya kantong parkir atau buffer zone yang tersedia di area Bulusan.

Salah seorang sopir truk bernama Subito menceritakan pengalamannya yang harus mengantre sejak Sabtu sore. “Saya sudah mengantre sejak pukul 17.00 WIB dan diarahkan ke Terminal Sri Tanjung. Namun, sampai pagi ini saya belum bisa menyeberang,” ungkap Subito dengan nada prihatin saat ditemui di depan pintu masuk pelabuhan pada Minggu pagi.

Subito berharap agar petugas lapangan di Pelabuhan Ketapang dapat melakukan pengaturan yang lebih baik terhadap kendaraan logistik. Tujuannya adalah agar mereka tidak perlu menghabiskan waktu terlalu lama untuk mengantre. Meskipun ia memahami bahwa truk logistik non-prioritas selama arus balik Lebaran di lintasan Ketapang-Gilimanuk, lamanya waktu tunggu tetap menjadi kendala.

“Saya sudah 12 jam mengantre. Katanya, jika antrean lebih dari enam jam, kami akan mendapatkan makan dan minum dari pihak pelabuhan, tetapi kenyataannya kami tidak mendapatkan fasilitas tersebut,” keluh Subito. Situasi ini tentu saja menambah beban dan ketidaknyamanan bagi para sopir yang sedang menjalankan tugas pengiriman barang.

Prioritas Penyeberangan dan Pengaturan Kendaraan Logistik

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang sebelumnya telah menyatakan bahwa prioritas penyeberangan lintas Ketapang–Gilimanuk akan diberikan kepada mobil pribadi dan bus. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menjaga kelancaran arus balik Lebaran 2026.

General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko, menjelaskan lebih lanjut mengenai kebijakan tersebut. Ia menegaskan bahwa truk logistik memang tidak menjadi prioritas utama selama masa mudik dan balik Lebaran di Selat Bali.

“Tidak ada pembatasan dalam arti melarang, tetapi sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Arief Eko. “Jika arus penyeberangan sedang padat, truk logistik akan diarahkan ke buffer zone yang telah disiapkan. Buffer zone ini meliputi Dermaga Bulusan, Terminal Sri Tanjung, atau Pusri.”

Arief Eko menambahkan bahwa apabila kondisi lalu lintas penyeberangan sedang landai, maka truk logistik dapat langsung diangkut untuk menyeberang. Pengaturan ini diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan fasilitas pelabuhan dan meminimalkan antrean yang berlebihan, meskipun dalam praktiknya pada Minggu pagi, hal tersebut belum sepenuhnya tercapai.

Dampak dan Harapan Para Sopir

Lamanya waktu antrean tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga berpotensi mengganggu jadwal pengiriman barang. Hal ini dapat berdampak pada rantai pasok dan ketersediaan barang di Pulau Bali. Para sopir truk berharap agar manajemen pelabuhan dapat mengevaluasi kembali sistem antrean dan alokasi kapal, terutama untuk mengakomodir kendaraan logistik secara lebih efisien.

Beberapa usulan yang mungkin dapat dipertimbangkan antara lain:

  • Penambahan Kapasitas Kapal: Menambah jumlah kapal yang beroperasi di lintasan Ketapang-Gilimanuk, khususnya pada jam-jam puncak arus balik.
  • Sistem Pemesanan Tiket Online: Menerapkan sistem pemesanan tiket yang lebih baik untuk kendaraan logistik agar dapat mengatur jadwal keberangkatan dan mengurangi penumpukan di pelabuhan.
  • Fasilitas Pendukung: Memastikan ketersediaan fasilitas pendukung bagi sopir yang harus menunggu lama, seperti tempat istirahat yang layak, serta penyediaan makanan dan minuman sesuai janji.
  • Koordinasi Antar Pihak: Meningkatkan koordinasi antara pihak pelabuhan, operator kapal, dan kepolisian untuk mengatur arus kendaraan secara lebih terpadu.

Situasi di Pelabuhan Ketapang ini menjadi pengingat pentingnya perencanaan logistik yang matang, terutama selama periode libur panjang seperti Lebaran. Pengoptimalan operasional pelabuhan dan penyesuaian kebijakan prioritas perlu terus dilakukan untuk memastikan kelancaran distribusi barang dan kenyamanan para pelaku logistik.

Gambar Gravatar
Hendra merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan