Kecelakaan Kereta Api di Stasiun Bekasi Timur
JAKARTA – Kecelakaan antara Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line dan Kereta Argo Bromo Anggrek terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat. Peristiwa ini melibatkan dua jenis kereta api, yaitu KRL dan KA Argo Bromo Anggrek yang beroperasi pada rute Gambir–Surabaya Pasar Turi. Insiden ini terjadi pada Senin (27/4/2026), sekitar pukul 20.50 WIB.
Kronologi Kecelakaan
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta menjelaskan bahwa kecelakaan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui rangkaian kejadian yang saling berkaitan. Insiden awal terjadi ketika sebuah taksi berhenti di tengah lintasan kereta di perlintasan JPL 85. Tak lama kemudian, kendaraan tersebut tertemper oleh KRL yang sedang melintas.
Akibat kejadian tersebut, KRL berhenti di sekitar lokasi dan menyebabkan gangguan pada jalur. Di waktu yang hampir bersamaan, terdapat KRL lain yang juga terhenti di area Stasiun Bekasi Timur akibat dampak dari insiden tersebut. Kondisi ini menciptakan situasi tidak normal pada operasional perjalanan kereta api di lintas tersebut.
Dalam kondisi jalur yang terganggu itu, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah Gambir menuju Surabaya Pasar Turi kemudian menabrak rangkaian KRL yang berada di lintasan. Tabrakan terjadi dengan sangat keras hingga menyebabkan kerusakan parah, terutama pada bagian belakang KRL.
“Yang ditabrak gerbong paling belakang, gerbong khusus wanita itu yang paling belakang,” ujar Andi (42), di Stasiun Bekasi Timur, dikutip Antara, Senin (27/4).
Benturan keras tersebut membuat gerbong khusus wanita di bagian paling belakang mengalami kerusakan paling parah. Setelah kejadian, penumpang yang berada di dalam kereta berupaya menyelamatkan diri dengan berbagai cara, termasuk memecahkan kaca jendela untuk keluar dari dalam gerbong.
Dugaan Penyebab Kecelakaan
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa berdasarkan identifikasi sementara, kecelakaan ini diduga kuat dipicu oleh gangguan yang berasal dari insiden awal di perlintasan.
“Perlu saya sampaikan juga kejadian ini di jam kurang jam 21.00 WIB kurang, dimulai dengan adanya temperan taksi hijau ya, itu di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini agak terganggu. Sementara itu kronologinya,” ungkap Bobby.
Gangguan pada sistem operasional di emplasemen Stasiun Bekasi Timur tersebut diduga menjadi faktor yang membuat situasi tidak terkendali hingga akhirnya terjadi tabrakan antara KRL dan KA jarak jauh. Meski demikian, pihak KAI menegaskan bahwa penyebab pasti kecelakaan ini masih menunggu hasil investigasi mendalam dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Tentunya kami menyerahkan kepada KNKT untuk lebih detail mencari tahu penyebab dari kecelakaan kereta pada malam hari ini,” tuturnya.
Data Korban dan Dampak Kecelakaan
Dalam pernyataannya, Direktur Utama KAI menyampaikan data korban yang cukup signifikan akibat kecelakaan tersebut. Hingga laporan terakhir, jumlah korban meninggal dunia mencapai tujuh orang. Selain itu, puluhan penumpang mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Tidak hanya itu, terdapat pula korban yang sempat terperangkap di dalam kereta akibat kerusakan parah pada rangkaian.
“Meninggal dunia itu 7 orang, luka-luka dan dirawat itu sebanyak 81 orang, dan yang ada masih terperangkap itu ada sekitar 3 orang yang terperangkap di dalam kereta,” kata Bobby dalam keterangannya dikutip melalui tayangan video yang diunggah akun Instagram Sekretariat Kabinet di Jakarta, Selasa pagi.
Sementara itu, PT KAI juga mengonfirmasi bahwa sebanyak 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek berhasil selamat dan telah dievakuasi dari lokasi kejadian. Di sisi lain, terdapat total 38 penumpang KRL Commuter Line yang telah dievakuasi dan mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Proses Evakuasi Korban
Proses evakuasi korban dan rangkaian kereta berlangsung cukup lama karena kondisi kerusakan yang parah serta perlunya kehati-hatian tinggi dalam penanganan korban. Tim gabungan harus memastikan keselamatan setiap korban, terutama yang masih terperangkap di dalam gerbong.
“Evakuasi ini cukup lama selama 8 jam dan kita laksanakan hati-hati sekali,” ujarnya.
Selain mengevakuasi korban, petugas juga melakukan pemindahan rangkaian kereta yang terlibat dalam kecelakaan. Seluruh rangkaian KA Argo Bromo Anggrek yang terdiri dari 12 gerbong berhasil dievakuasi dan dipindahkan ke Stasiun Bekasi.
“Evakuasi dari kereta Bromo Anggrek itu telah kami lakukan, jadi semua rangkaian sebanyak 12 gerbong itu telah kami lakukan evakuasi ke Stasiun Bekasi,” katanya.
Pernyataan KAI
PT Kereta Api Indonesia menegaskan komitmennya untuk bertanggung jawab penuh terhadap para korban kecelakaan. Hal ini mencakup penanganan medis, asuransi, hingga kebutuhan lainnya bagi korban dan keluarga.
“Semuanya pasti akan kami siapkan. KAI pasti akan bertanggung jawab dari sisi baik penyembuhan, asuransi, dan yang lainnya. Kami berkomitmen untuk bertanggung jawab untuk itu,” katanya dalam konferensi pers di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Selasa dini hari.
KAI juga memastikan bahwa seluruh biaya pengobatan bagi korban luka serta biaya pemakaman bagi korban meninggal dunia akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak asuransi dan perusahaan. Penanganan korban dilakukan di beberapa fasilitas kesehatan dengan koordinasi berbagai pihak terkait.
Pernyataan Green SM
Melalui keterangan resmi yang disampaikan melalui @id.greensm pada Selasa, Green SM telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang terkait insiden tersebut.
“Kami telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami. Kami berkomitmen untuk menjaga standar keselamatan yang tinggi melalui sistem operasional, pengawasan, serta peningkatan layanan secara berkelanjutan,” ucap perusahaan.
Meski indikasi awal sudah mengarah pada faktor gangguan eksternal yang berdampak pada sistem perkeretaapian, penyebab pasti kecelakaan ini masih menunggu hasil investigasi resmi dari KNKT. Hasil investigasi tersebut nantinya akan menjadi dasar penting untuk mengungkap secara utuh penyebab kecelakaan sekaligus mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.



















