Proyek Kilang Bensin Pertamina di Cilacap dan Dumai
PT Pertamina (Persero) sedang memulai pembangunan proyek kilang bensin di dua lokasi yaitu Cilacap, Jawa Tengah, dan Dumai, Riau. Proyek ini diperkirakan mampu menekan nilai impor BBM hingga sebesar US$1,25 miliar per tahun atau sekitar Rp21,65 triliun (kurs jisdor Rp17.324 per dolar AS). Pembangunan kilang ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Menurut Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, proyek hilirisasi dua kilang tersebut bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM. “Dalam rangka memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan impor BBM, dari pembangunan kilang Cilacap dan Dumai ini, akan mengurangi impor BBM kurang lebih US$1,25 miliar dolar per tahunnya,” ujarnya saat berada di Cilacap, Jawa Tengah.
Fasilitas kilang di Dumai dan Cilacap ditargetkan memiliki kapasitas total 62.000 barel per hari. Proyek ini diperkirakan mampu menggantikan impor BBM hingga 2 juta kiloliter per tahun sekaligus menyerap sekitar 2.000 tenaga kerja.
Investasi Besar untuk Dua Kilang Bensin
Direktur Infrastruktur, Proyek, dan Asset Integrity PT Pertamina Patra Niaga, Setyo Pitoyo menjelaskan bahwa total investasi dua proyek kilang bensin tersebut diperkirakan mencapai US$1,2 miliar atau sekitar Rp20,4 triliun. “Masing-masing kilang itu investasinya sekitar US$600 juta sehingga totalnya akan sekitar US$1,2 miliar. Kurang lebih ya, itu belum termasuk misalkan kami harus melakukan upgrade fasilitas dan lain-lainnya,” ujar Setyo.
Selain proyek kilang di Cilacap dan Dumai oleh Pertamina, sejumlah proyek lain juga memulai pembangunan pada hari yang sama. Salah satunya adalah fasilitas pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatra Selatan oleh MIND ID bersama Pertamina.
Pertamina juga memulai pembangunan tiga tangki penyimpanan BBM di Palaran, Kalimantan Timur, lalu di Biak, Papua, dan Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penambahan kapasitas tangki operasional mencapai 153.000 kiloliter untuk memperkuat pasokan BBM di kawasan Indonesia Timur.
Ketergantungan Impor BBM Indonesia
Berdasarkan catatan Bisnis, Indonesia masih bergantung pada impor bahan bakar mineral dari sejumlah negara di Timur Tengah, khususnya kawasan Teluk Persia. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menjadi dua pemasok utama dari wilayah tersebut.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan selama periode 2021–2025, total impor BBM dengan kode harmonized system (HS) dua digit 27 dari Arab Saudi mencapai 26,87 juta ton atau senilai US$16,9 miliar. Selain Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), sejumlah negara di kawasan Teluk juga tercatat mengekspor bahan bakar mineral ke Indonesia. Negara-negara tersebut antara lain Qatar dengan volume 4,91 juta ton senilai US$3,2 miliar, Bahrain sebanyak 1,06 juta ton atau US$666 juta, Kuwait sebesar 1,84 juta ton senilai US$1,02 miliar, serta Oman mencapai 1,64 juta ton sebesar US$1,2 miliar.
Namun demikian, sumber impor BBM terbesar Indonesia justru berasal dari negara tetangga. Selama lima tahun terakhir, impor dari Singapura mencapai 65,24 juta ton atau setara US$49,22 miliar, sementara dari Malaysia tercatat 34,1 juta ton atau sekitar US$25,42 miliar.



















