JAKARTA – Harga minyak dunia mengalami kenaikan yang signifikan, didorong oleh ketegangan dan perhatian investor terhadap perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Ketidakpastian mengenai kemungkinan meredanya konflik ini membuat para pelaku pasar tetap waspada terhadap fluktuasi harga.
Berdasarkan data dari CNBC International pada Selasa (28/4/2026), harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) meningkat sebesar 0,66% menjadi US$97,03 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent juga naik 0,44% ke level US$108,67 per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bersama tim keamanan nasionalnya membahas proposal dari Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Proposal tersebut disertai dengan syarat bahwa Washington harus mencabut blokade dan mengakhiri permusuhan. Informasi ini disampaikan oleh Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt. Namun, hingga saat ini belum jelas apakah Trump bersedia mempertimbangkan usulan tersebut sebagai langkah deeskalasi konflik yang telah berlangsung selama dua bulan.
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa keringanan sanksi hanya akan diberikan jika kesepakatan telah sepenuhnya selesai. “Saya dapat mengonfirmasi presiden telah bertemu dengan tim keamanan nasionalnya pagi ini,” ujar Leavitt dalam konferensi pers pada Senin (27/4/2026) sore waktu setempat saat menanggapi laporan tersebut.
Arus pasokan energi melalui Selat Hormuz masih terganggu. Jalur ini menampung sekitar seperlima distribusi minyak dunia dan gas alam cair (LNG). Menurut Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow, sekitar 20 juta barel per hari minyak mentah, bahan bakar, dan petrokimia terdampak oleh gangguan ini.
Lipow menilai meskipun konflik berakhir secara mendadak, pemulihan kondisi pasar ke level normal tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan. Hal ini karena adanya beberapa faktor seperti pembersihan ranjau, penguraian kemacetan kapal tanker, serta pemulihan bertahap produksi dan kegiatan kilang.
Dengan mempertimbangkan hambatan pengiriman dan distribusi, dia memperkirakan pasar minyak baru akan stabil dalam waktu sedikitnya 4 hingga 6 bulan. Selama periode tersebut, harga minyak diperkirakan tetap tinggi seiring persediaan mendekati level kritis.
“Semakin lama konflik berlangsung, semakin tinggi harga minyak, terutama ketika persediaan turun ke tingkat operasional kritis. Jika konflik berakhir besok, harga minyak mentah diperkirakan turun US$10 per barel,” katanya.
Dia menambahkan, tanpa adanya negosiasi baru, harga WTI berpotensi kembali naik menuju US$100 per barel, sementara Brent berpeluang menembus US$110 per barel.


















