Tingkat Pengangguran Terbuka di Jawa Tengah Menurun
Semarang – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2026. Angka ini turun sedikit menjadi 4,24 persen dari sebelumnya 4,33 persen pada Februari 2025. Hal ini menunjukkan bahwa dari 100 orang angkatan kerja, sekitar empat orang masih belum memiliki pekerjaan.
Kepala BPS Jateng, Ali Said, menyampaikan data tersebut pada Selasa (5/5). Ia menjelaskan bahwa meskipun tingkat pengangguran menurun, jumlah angkatan kerja justru meningkat. Pada Februari 2026, total angkatan kerja mencapai 22,33 juta orang, naik sekitar 450 ribu orang dibanding tahun lalu. Ini menandakan semakin banyak warga yang masuk ke pasar kerja, meski tidak semua langsung terserap.
Perbedaan Tingkat Pengangguran di Wilayah Perkotaan dan Perdesaan
Tingkat pengangguran di wilayah perkotaan lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan. Di perkotaan, angkanya mencapai 4,77 persen, sementara di perdesaan hanya 3,48 persen. Kota-kota tetap menjadi magnet bagi pencari kerja, namun juga menjadi tempat yang paling kompetitif dalam mencari pekerjaan.
Lulusan SMK Masih Jadi Penyumbang Pengangguran Terbesar
Salah satu kelompok yang masih menjadi penyumbang pengangguran terbesar adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Angka pengangguran mereka mencapai 6,75 persen, menunjukkan adanya kesenjangan antara pendidikan yang diperoleh dengan kebutuhan pasar kerja.
Sektor Pertanian Masih Menyerap Tenaga Kerja Terbanyak
Sementara itu, jumlah penduduk yang sudah bekerja di Jawa Tengah mencapai 21,38 juta orang. Sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja tetap tidak berubah, yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan. Totalnya mencapai 4,85 juta orang atau sekitar 27,37 persen dari keseluruhan pekerja.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengangguran
Penurunan tingkat pengangguran dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, peningkatan jumlah angkatan kerja menunjukkan bahwa semakin banyak orang memasuki pasar kerja, baik karena lulusan sekolah maupun kembali bekerja setelah masa pensiun atau cuti. Kedua, peningkatan ini juga bisa disebabkan oleh adanya program pemerintah atau inisiatif swasta dalam menciptakan lapangan kerja.
Namun, meskipun angka pengangguran turun, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Misalnya, ketidakseimbangan antara jumlah tenaga kerja yang tersedia dan jumlah pekerjaan yang tersedia. Hal ini terutama terlihat pada lulusan SMK yang masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang keahlian mereka.
Strategi untuk Mengurangi Pengangguran
Untuk mengurangi tingkat pengangguran, diperlukan strategi yang lebih efektif. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan agar sesuai dengan kebutuhan industri.
- Penguatan hubungan antara lembaga pendidikan dan dunia usaha untuk memastikan bahwa lulusan memiliki keterampilan yang relevan.
- Peningkatan investasi di sektor-sektor yang memiliki potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja, seperti teknologi, pariwisata, dan manufaktur.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan tingkat pengangguran di Jawa Tengah dapat terus menurun dan masyarakat dapat lebih sejahtera secara ekonomi.



















