Krisis Kemanusiaan di Teluk Persia
Selama beberapa minggu terakhir, sekitar 20.000 pelaut terjebak di Teluk Persia akibat penutupan Selat Hormuz yang berlangsung karena konflik antara Iran dan AS-Israel. Mereka menghadapi situasi yang sangat memprihatinkan, dengan ancaman kekurangan makanan, udara segar, serta risiko serangan drone dan ranjau laut. PBB menyebut situasi ini sebagai krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pelaut Terdampar di Kapal Selama Berhari-hari
Situasi ini menimpa puluhan ribu pelaut yang tidak bisa melewati Selat Hormuz, jalur penting untuk transportasi minyak dunia. Menurut laporan PBB, sekitar 20.000 pelaut terjebak di atas kapal selama berhari-hari sejak selat tersebut ditutup oleh Iran pada awal-awal perang dengan AS-Israel. Banyak dari mereka berasal dari negara-negara miskin dan berkembang, sehingga situasi ini semakin memperparah kondisi mereka.
Selain ancaman kekurangan bahan makanan, para pelaut juga berada di jalur perang antara Iran dan AS-Israel. Drone dan ranjau laut menjadi ancaman nyata bagi mereka. Damien Chevallier, Direktur Divisi Keselamatan Maritim di Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO), menyampaikan bahwa situasi ini adalah krisis kemanusiaan yang belum pernah dihadapi sebelumnya.
Peraturan Navigasi Baru dan Blokade Angkatan Laut
Sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, Iran berusaha memberlakukan aturan navigasi baru di Teluk Persia. Aturan ini memungkinkan kapal-kapal dari negara-negara yang disebut “sahabat” untuk melewati Selat Hormuz dengan imbalan biaya. Sebagai respons, pemerintahan Trump mengambil langkah untuk memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan kapal-kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.
Menurut Chevallier, sekitar 800 hingga 1.000 kapal ingin berlayar melalui Selat Hormuz untuk keluar dari daerah tersebut. Namun, situasi ini membuat banyak kapal terjebak dan tidak bisa bergerak.
Kasus Auroura: Situasi yang Memburuk
Salah satu contoh kasus yang mewakili situasi ini adalah kapal tanker minyak Auroura yang terdampar di Teluk Persia. Para awak kapal mengatakan kepada CNN dalam sebuah wawancara bulan lalu bahwa mereka telah terdampar di atas kapal selama berminggu-minggu setelah perang pecah. Mereka ditekan oleh pemilik kapal untuk berlayar ke Iran meskipun risikonya semakin meningkat.
Para awak kapal, yang semuanya warga negara India, menggambarkan kondisi yang memburuk di atas kapal, termasuk kekurangan makanan dan air bersih. Manoj Yadav, seorang koordinator serikat pekerja di Forward Seamen’s Union of India, mengatakan situasinya sangat buruk.
“Para awak kapal menghadapi kekurangan pasokan kebutuhan dasar,” katanya kepada CNN saat itu. “Mereka ingin pulang. Situasi di kapal ini tidak baik.”
Penelantaran dan Intimidasi
Kasus Auroura bukanlah kasus terisolasi. Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF), sebuah serikat pekerja global yang mewakili pelaut di seluruh dunia, mengatakan bahwa situasi ini bukan hanya tentang repatriasi, tetapi juga penelantaran. Mohamed Arrachedi, koordinator jaringan bendera kemudahan ITF untuk dunia Arab dan Iran, menyampaikan bahwa beberapa pelaut belum dibayar selama delapan atau bahkan 11 bulan.
Arrachedi menggambarkan laporan-laporan luas tentang intimidasi dan tekanan dari para pemilik kapal. “Ada banyak kasus intimidasi. Beberapa pemilik kapal menjadi sangat marah,” katanya. “Saya memiliki kasus di mana para pelaut diancam secara verbal.”
Para awak kapal Auroura mengklaim bahwa mereka diancam akan ditahan upahnya dan diperingatkan akan “konsekuensi serius” jika mereka menolak berlayar ke Iran dan memuat minyak. Mereka berulang kali meminta untuk turun dari kapal dan dipulangkan, tetapi perusahaan menolak untuk mengatur pelepasan tugas atau pemulangan mereka.
Ancaman Serangan dan Kematian Pelaut
Kekhawatiran tersebut semakin menjadi kenyataan. Setidaknya 10 pelaut telah tewas dalam serangan terhadap kapal sejak perang dengan Iran dimulai, menurut IMO. Situasi ini menunjukkan betapa berbahayanya situasi yang dihadapi para pelaut di Teluk Persia. Mereka tidak hanya terjebak di atas kapal, tetapi juga menghadapi ancaman langsung terhadap keselamatan mereka.



















