Tumpukan Sampah di Pasar Induk Wonomulyo Mengkhawatirkan: Pedagang dan Warga Desak Penambahan Bak Penampung
Polewali Mandar, Sulawesi Barat – Kompleks Pasar Induk Wonomulyo, yang berlokasi di Jalan Soepraman, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, kembali dihadapkan pada persoalan klasik yang mengganggu aktivitas sehari-hari: penumpukan sampah. Situasi ini tidak hanya merusak estetika lingkungan, tetapi juga menimbulkan aroma tidak sedap yang mengganggu kenyamanan pedagang dan masyarakat sekitar.
Kondisi memprihatinkan ini terlihat jelas pada Sabtu, 30 Maret 2026, ketika satu unit bak penampung sampah yang tersedia di lokasi tersebut tampak telah penuh terisi. Limbah sisa makanan dari aktivitas pasar yang tak henti-hentinya dibuang, membuat bak penampung cepat meluap. Akibatnya, sampah mulai berserakan mengelilingi bak, menciptakan pemandangan yang kumuh dan tidak sehat.
Keluhan Pedagang dan Permohonan Warga
Para pedagang yang setiap harinya beraktivitas di pasar induk ini menjadi pihak yang paling merasakan dampak langsung dari penumpukan sampah tersebut. Mereka mengeluhkan bahwa bak penampung yang ada saat ini tidak lagi memadai untuk menampung volume sampah yang dihasilkan.
Salah seorang pedagang, yang akrab disapa Adrian, menyampaikan keresahannya kepada awak media. “Kalau bisa, bak penampungan itu harusnya cukup dua unit, supaya sampah tidak berserakan seperti ini,” ujarnya dengan nada prihatin. Ia menjelaskan bahwa bak penampung yang hanya satu unit seringkali cepat penuh.
Ketika bak penampung sudah meluap, sampah yang berserakan tersebut menimbulkan berbagai masalah. Air lindi dari sampah merembes ke pelataran pasar, meninggalkan bekas yang kotor dan bau yang tidak sedap. Kondisi ini tentu saja menurunkan daya tarik pasar dan kenyamanan bagi para pembeli.
Adrian menambahkan bahwa penumpukan sampah bukan hanya terjadi sesekali, melainkan sudah menjadi masalah rutin. “Kalau tidak diangkut satu hari saja, sampahnya sudah menumpuk, seperti beberapa hari lalu,” ungkapnya. Ia juga menyoroti kejadian saat momen Idulfitri kemarin, di mana sampah sempat menumpuk dan berserakan parah. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya petugas kebersihan yang datang mengangkut sampah selama tiga hari berturut-turut karena libur lebaran.
Menyikapi kondisi ini, Adrian dan pedagang lainnya berharap agar pemerintah kecamatan segera mengambil tindakan nyata dengan menambah jumlah bak penampung sampah. Dengan demikian, diharapkan sampah dapat tertampung dengan baik dan tidak lagi berserakan, menciptakan lingkungan pasar yang lebih bersih dan sehat.
Respons Pemerintah Kecamatan Wonomulyo
Menanggapi keluhan masyarakat, Camat Wonomulyo, Samiaji, mengakui adanya penumpukan sampah di kompleks pasar induk tersebut. Ia menjelaskan bahwa saat momen Idulfitri kemarin, memang terjadi penundaan pengangkutan sampah.
“Karena kemarin lebaran, teman-teman petugas kebersihan ada yang cuti. Ada empat mobil kita angkut saat menumpuk,” kata Samiaji. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kecamatan Wonomulyo sebenarnya telah berupaya melakukan pengangkutan sampah secara rutin.
Menurut Samiaji, petugas kebersihan dijadwalkan untuk mengangkut sampah di bak penampungan tersebut setiap malam hari. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya penumpukan sampah yang berlebihan, meskipun ia mengakui bahwa bak penampung yang ada seringkali cepat penuh.
Pernyataan Camat Samiaji mengindikasikan adanya kesadaran dari pihak pemerintah mengenai masalah ini. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa solusi yang ada saat ini belum sepenuhnya efektif dalam mengatasi volume sampah yang terus meningkat.
Solusi Jangka Panjang dan Peran Serta Masyarakat
Masalah penumpukan sampah di Pasar Induk Wonomulyo membutuhkan penanganan yang komprehensif, tidak hanya sekadar penambahan bak penampung. Beberapa langkah strategis dapat dipertimbangkan untuk menciptakan solusi jangka panjang:
- Penambahan Bak Penampung yang Memadai: Sesuai dengan permintaan pedagang dan warga, penambahan unit bak penampung sampah menjadi prioritas utama. Perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengenai jumlah ideal bak penampung berdasarkan volume sampah harian yang dihasilkan pasar.
- Peningkatan Frekuensi Pengangkutan Sampah: Meskipun sudah ada jadwal pengangkutan rutin, frekuensi pengangkutan mungkin perlu ditingkatkan, terutama pada hari-hari pasar ramai atau saat volume sampah meningkat drastis.
- Edukasi dan Sosialisasi Pengelolaan Sampah: Perlu dilakukan program edukasi kepada para pedagang dan pengunjung pasar mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang baik. Sosialisasi mengenai pemilahan sampah dan pengurangan limbah dapat membantu mengurangi beban bak penampung.
- Pemanfaatan Teknologi Pengolahan Sampah: Pemerintah daerah dapat menjajaki kemungkinan penerapan teknologi pengolahan sampah yang lebih modern, seperti kompos atau daur ulang, untuk mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
- Peran Serta Masyarakat dan Pedagang: Keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat, termasuk pedagang, sangat krusial. Dengan kesadaran dan partisipasi aktif dalam menjaga kebersihan, masalah sampah dapat diatasi secara bersama-sama.
Meskipun Pemerintah Kecamatan Wonomulyo telah berkomitmen untuk melakukan pengangkutan sampah secara rutin, tampaknya upaya tersebut perlu diimbangi dengan penyediaan infrastruktur yang memadai dan strategi pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi. Dengan kolaborasi antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat, diharapkan Kompleks Pasar Induk Wonomulyo dapat kembali menjadi tempat yang bersih, sehat, dan nyaman bagi semua pihak.





















