Kelurahan Bumi: Jantung Sejarah dan Budaya di Laweyan, Solo
Kelurahan Bumi, yang terletak di Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, bukan sekadar sebuah unit administratif biasa. Wilayah ini merupakan saksi bisu perkembangan peradaban masyarakat yang erat kaitannya dengan denyut nadi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dengan kode pos 57148, Kelurahan Bumi pada tahun 2020 dihuni oleh sekitar 6.320 jiwa. Lebih dari sekadar jumlah penduduk, nilai historis dan kultural yang terkandung di dalamnya menjadikannya salah satu permata Kota Solo.
Jejak Sejarah Kelurahan Bumi
Akar sejarah Kelurahan Bumi dapat ditelusuri kembali ke masa lampau, ketika wilayah ini berada di bawah kekuasaan Keraton Kasunanan Surakarta. Konon, kawasan ini dulunya merupakan tempat tinggal seorang abdi dalem yang memegang peran penting, yaitu Nayoko Bumi. Pada era tersebut, Kampung Bumi masih merupakan bagian integral dari Desa Sondakan. Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan permukiman, wilayah ini mulai terbagi menjadi dua bagian yang lebih spesifik: Kampung Bumi Lor dan Kampung Bumi Kidul.
Titik balik signifikan terjadi pada tahun 1940, ketika Kampung Bumi Kidul memutuskan untuk berpisah dari Desa Sondakan dan mendirikan diri sebagai desa mandiri dengan nama Bumi Kidul. Lurah pertama yang dipercaya memimpin desa ini adalah R.Ng. Atmodimedjo, seorang tokoh yang ditunjuk langsung dari lingkungan Keraton Surakarta. Peristiwa ini menandai awal dari pembentukan identitas administratif yang lebih mandiri bagi kawasan yang kini kita kenal sebagai Kelurahan Bumi.
Ragam Kampung dengan Kisah Unik
Kelurahan Bumi saat ini terdiri dari beberapa kampung yang masing-masing menyimpan cerita dan identitasnya sendiri. Kampung-kampung tersebut antara lain:
- Baron Cilik
- Batikan
- Jagalan
- Kabangan
- Potrokelasan
- Tegalayu
- Tegalsari
Setiap kampung ini memiliki narasi sejarah dan sosial yang berbeda, mencerminkan keragaman kehidupan masyarakat yang pernah menghuninya, terutama dalam konteks lingkungan keraton.
Makna di Balik Nama Kampung
Keunikan Kelurahan Bumi juga tercermin dari asal-usul nama kampung-kampung di dalamnya. Banyak nama yang merujuk pada profesi masyarakat, tokoh penting, atau kondisi sosial yang pernah berkembang di wilayah tersebut.
- Kampung Tegalsari: Nama ini berasal dari gabungan kata “tegal” yang berarti area pertanian, dan “sari” yang bisa merujuk pada keindahan atau inti. Hal ini mengindikasikan bahwa dulunya wilayah ini merupakan area pertanian yang subur dan juga berkembang pesat aktivitas membatik.
- Kampung Kabangan: Berasal dari kata “abang” yang berarti merah. Nama ini diduga kuat berkaitan dengan kelompok buruh kasar yang berprofesi sebagai pembatik, yang dikenal dengan sebutan “wong abangan”.
- Kampung Jagalan: Nama ini sangat erat kaitannya dengan profesi mayoritas penduduknya di masa lalu, yaitu sebagai abdi dalem yang bertugas sebagai penjagal atau pemotong hewan.
- Kampung Potrokelasan: Nama kampung ini merujuk pada keberadaan seorang tokoh ulama keraton yang sangat dihormati bernama Kyai Potrokloso. Makam beliau yang berada di kawasan ini menjadi penanda historis penting.
- Kampung Baron: Dahulu, wilayah ini merupakan area yang cukup luas dan dipercaya pernah menjadi tempat tinggal seorang perwira Belanda bernama Baron Sekeber. Sejarah juga mencatat bahwa kawasan ini pernah menjadi lapangan luas dan kandang kuda pada masa kolonial.
Dinamika Pemerintahan Kelurahan Bumi
Sejak awal berdiri hingga kini, Kelurahan Bumi telah menyaksikan pergantian tampuk kepemimpinan sebanyak 19 kali. Perjalanan kepemimpinan ini dapat dibagi ke dalam beberapa periode sejarah yang mencerminkan perubahan zaman:
Masa Sebelum Kemerdekaan
- Atmodimedjo (diangkat dari Keraton Surakarta Hadiningrat)
- Hardjo Setoto (1943–1956)
Masa Orde Lama
- Djarwo Panitro (1957–1965)
- Djajeng Hagnyono (1965–1972)
Masa Orde Baru
- Wagiyo Djojosutirto (1973–1978)
- Sukarmin (1978–1980)
- Supono (1980–1981)
- Suwarno (1981–1988)
- Sulasno (1988–1995)
Masa Reformasi hingga Sekarang
- Purwadi (1995–2000)
- Kinkin Sultanul Hakim (2000–2004)
- Edi Purnomo (2004–2005)
- Hanif Purwanto (2005–2008)
- Winanto Joko Wibowo (2008–2009)
- Sukariyono (2009–2014)
- Herwin Tri Nuggroho Adi (2014–2017)
- Evi Mahanani Avianto (2017–2018)
- Nurul Umam Supraptono (2018–2022)
- Joko Susilo (2022–sekarang)
Setiap pergantian kepemimpinan mencatat babak baru dalam dinamika sosial, budaya, dan administratif Kelurahan Bumi.
Pesona Wisata di Sekitar Kelurahan Bumi
Berada di kawasan Laweyan yang kaya akan sejarah, Kelurahan Bumi menawarkan akses mudah ke berbagai destinasi wisata budaya dan sejarah yang memesona di Kota Solo. Pengunjung dapat merasakan atmosfer kota yang kental akan warisan leluhur melalui beberapa tempat berikut:
- Taman Sriwedari: Sebuah ruang terbuka hijau ikonik di Jalan Slamet Riyadi, menjadi tempat favorit untuk bersantai. Keasrian taman ini dilengkapi dengan kehadiran rusa yang bebas berkeliaran, menambah pesona alamnya.
- Tumurun Private Museum: Museum seni kontemporer ini menampilkan koleksi karya seni modern dan instalasi menarik, termasuk “Floating Eyes”. Museum ini telah menjadi pusat apresiasi seni terkemuka di Solo.
- House of Danar Hadi: Sebagai museum batik terbesar, tempat ini menyimpan ribuan koleksi kain batik dari berbagai daerah dan era di Indonesia. Selain sebagai museum, ia juga berfungsi sebagai pusat edukasi penting mengenai batik.
- Masjid Laweyan: Dibangun pada tahun 1546, masjid bersejarah ini menampilkan arsitektur yang unik dan merupakan salah satu pusat wisata religi tertua di Kota Solo.
- Museum Samanhoedi: Museum ini didedikasikan untuk mengenang KH Samanhudi, seorang tokoh nasional yang juga pendiri Sarekat Dagang Islam dan pelopor batik cap di Laweyan.
- Museum Keris Nusantara: Museum modern yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo ini memamerkan ratusan koleksi keris dari seluruh Nusantara. Setiap keris menyimpan filosofi dan nilai budaya yang mendalam.
Warisan Budaya di Tengah Kemajuan Modern
Kelurahan Bumi adalah contoh nyata bagaimana sebuah wilayah di Kota Surakarta mampu berkembang pesat tanpa melupakan akar sejarahnya yang kaya. Dari kampung-kampung yang berawal dari profesi tradisional hingga kini dikelilingi oleh pusat budaya dan museum modern, kawasan ini merefleksikan perjalanan panjang Kota Solo sebagai penjaga tradisi dan budaya Jawa. Hingga kini, Kelurahan Bumi terus menjadi bagian tak terpisahkan dari mozaik sejarah Laweyan dan Kota Surakarta, menyatukan warisan keraton, kehidupan masyarakatnya, serta denyut nadi kota modern dalam harmoni yang saling melengkapi.











