Jesus Casas Tegaskan Bukan Penyebab Kegagalan Irak Lolos Otomatis ke Piala Dunia 2026
Masa depan Tim Nasional Irak di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia sempat menemui jalan terjal. Tim berjuluk Singa Mesopotamia ini gagal mengamankan tiket otomatis ke putaran final, sebuah pencapaian yang sangat dinantikan para penggemar sepak bola Irak. Posisi ketiga di klasemen akhir Grup B putaran ketiga kualifikasi menjadi penentu nasib mereka, terpaut satu poin tipis dari Yordania yang berhasil mengunci satu tiket otomatis tersisa.
Situasi ini memicu sorotan tajam terhadap mantan pelatih timnas, Jesus Casas. Banyak pihak menudingnya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan Irak meraih tiket otomatis. Tudingan ini muncul terutama setelah serangkaian hasil yang kurang memuaskan di dua laga terakhir Casas sebelum ia diberhentikan. Irak hanya mampu meraih hasil imbang 2-2 di kandang sendiri melawan Kuwait, diikuti dengan kekalahan dramatis 1-2 dari Palestina. Dua hasil minor ini membuat Irak tergelincir dari posisi dua teratas klasemen, menyisakan dua pertandingan krusial yang akhirnya harus dijalani di bawah kepemimpinan pelatih baru.
Graham Arnold kemudian dipercaya untuk mengambil alih kemudi timnas Irak dengan misi berat: memenangkan dua laga sisa demi menggeser Yordania dari posisi kedua. Namun, upaya ini tidak sepenuhnya membuahkan hasil. Setelah menelan kekalahan 0-2 dari Korea Selatan, Irak hanya mampu meraih satu kemenangan atas Yordania. Akhirnya, Irak harus berjuang lebih keras melalui putaran keempat dan kelima kualifikasi, sebelum akhirnya berhasil mengamankan tiket ke babak play-off antarbenua.
Casas Bantah Tuduhan dan Ungkap Alasannya
Menanggapi berbagai tudingan yang mengarah padanya, Jesus Casas baru-baru ini angkat bicara. Ia dengan tegas menolak anggapan bahwa dirinya adalah biang keladi di balik kegagalan Irak lolos secara otomatis ke Piala Dunia 2026. Casas bersikeras bahwa pada saat ia meninggalkan jabatannya sebagai pelatih, timnas Irak masih memiliki peluang nyata untuk meraih tiket otomatis.
“Ketika saya meninggalkan posisi pelatih Irak, situasinya memungkinkan mereka untuk langsung lolos ke Piala Dunia,” ujar Casas. Ia menambahkan bahwa peluang tersebut masih terbuka lebar jika saja timnya tidak mengalami kekalahan dari Korea Selatan di kandang sendiri. “Itu mungkin terjadi jika tim tidak kalah di Basra melawan Korea Selatan, tetapi itu tidak terjadi,” jelasnya, merujuk pada pertandingan yang menjadi titik balik dalam perjalanannya bersama Irak.
Casas juga mengungkapkan keyakinannya bahwa, bahkan jika Irak harus berlaga di putaran keempat kualifikasi, ia optimis dapat membawa tim meraih tiket otomatis. Ia memprediksi bahwa Irak bisa kembali meraih hasil positif, termasuk mengalahkan Timnas Indonesia yang juga akan mereka hadapi di fase tersebut.
“Bahkan di putaran keempat, dimungkinkan untuk meraih hasil bagus melawan Indonesia dan kemudian bermain imbang dengan Arab Saudi,” ungkap Casas. Ia mengingatkan kembali rekam jejaknya bersama timnas Irak, termasuk dua kemenangan meyakinkan atas Timnas Indonesia dengan skor 5-1 dan 3-1. “Jika saya tetap bertahan, saya juga akan menang melawan mereka di putaran keempat,” tegasnya. Dengan demikian, ia kembali menegaskan penolakannya untuk disalahkan atas kegagalan Irak lolos otomatis, terutama terkait kekalahan dari Palestina.
Kekecewaan Casas Terhadap Federasi Sepak Bola Irak
Lebih lanjut, Jesus Casas menyampaikan rasa kecewa mendalam atas keputusan Federasi Sepak Bola Irak yang dinilainya tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan misi yang telah diemban. Ia mengungkapkan adanya masalah internal dan kurangnya transparansi yang memengaruhinya.
“Sayangnya, selama periode terakhir saya, hubungan antara staf teknis dan Federasi Irak menyaksikan aspek tersembunyi yang tidak saya ketahui,” tuturnya. Casas merasa kepercayaan dirinya terhadap independensi keputusan teknis mulai goyah setelah mengetahui adanya berbagai tindakan di balik layar yang memicu kontroversi.
Ia menambahkan bahwa timnya datang ke Irak dengan niat tulus untuk mengembangkan sepak bola negara tersebut, baik dari sisi administratif maupun teknis. “Sejujurnya, kami berani menerima tawaran untuk melatih Irak, dan kami datang untuk mengembangkan sepak bola Irak baik di tingkat administratif maupun teknis, dan saya pikir hasilnya membuktikan itu,” jelasnya. Ia menyoroti pencapaian penting seperti kemenangan atas Jepang dan Oman sebagai bukti kontribusinya.
“Kami mengalahkan Jepang, dan kami menang atas Oman di Muscat, tetapi sayangnya Federasi Sepak Bola Irak tidak mengizinkan kami untuk menyelesaikan misi kami,” pungkas Casas dengan nada penyesalan. Keputusan federasi untuk mengakhiri masa baktinya sebelum misinya tuntas menjadi poin penting yang ia soroti dalam penjelasannya.


















