Pancasila: Perekat Bangsa dan Fondasi Perdamaian Dunia, Dirayakan di Ende
Ende – Lapangan Perse di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, menjadi saksi bisu khidmatnya upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, memimpin ribuan peserta dalam merayakan momen bersejarah ini. Tema yang diusung, “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia,” menegaskan peran fundamental Pancasila dalam menjaga keutuhan bangsa.
Peserta upacara yang memadati lapangan berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Jajaran aparatur sipil negara (ASN), personel TNI, anggota Polri, perwakilan organisasi kepemudaan, hingga pelajar se-Kabupaten Ende, semuanya bersatu padu dalam satu barisan untuk menghormati ideologi bangsa.
Dalam amanatnya, Gus Ipul membacakan pidato dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi. Pidato tersebut menekankan pentingnya Pancasila sebagai kompas moral dan panduan strategis dalam menghadapi berbagai tantangan, baik di tingkat nasional maupun global.
Mengenang Jejak Sejarah di Kota Pengasingan Bung Karno
Usai rangkaian upacara yang khidmat, Gus Ipul menyatakan apresiasinya yang mendalam terhadap antusiasme masyarakat Ende yang turut serta dalam seluruh rangkaian peringatan Hari Lahir Pancasila.
“Saya berterima kasih diberi kesempatan untuk ikut dalam peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026. Suasananya khidmat, masyarakat juga antusias untuk mengikuti kegiatan ini,” ujarnya, menyoroti semangat patriotisme yang terpancar dari warga Ende.
Sebagai kota yang pernah menjadi tempat pengasingan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pada periode 1934–1938, Ende memegang posisi yang sangat istimewa dalam narasi lahirnya Pancasila. Di kota inilah, Bung Karno menghabiskan waktu dalam perenungan mendalam, yang kemudian melahirkan gagasan-gagasan fundamental tentang kebangsaan Indonesia.
Untuk mengenang momen bersejarah tersebut, Gus Ipul didampingi oleh pejabat daerah lainnya melakukan kunjungan ke Pohon Sukun di kawasan Taman Renungan Bung Karno. Pohon ini diyakini sebagai saksi bisu perenungan Bung Karno.
Simbol Persatuan Melalui Seni dan Kolaborasi
Rangkaian peringatan Hari Lahir Pancasila di Ende ditutup dengan sebuah momen kebersamaan yang tak terlupakan. Gus Ipul turut serta dalam tarian tradisional Gawi secara massal bersama sekitar 3.000 pelajar dan masyarakat Kabupaten Ende. Tarian ini merupakan sebuah simbol kuat dari persatuan dan kebersamaan.
Lebih lanjut, Gus Ipul menyerukan agar Pancasila tidak hanya menjadi sebuah jargon, melainkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pedoman hidup. “Dengan Pancasila kita bisa sekarang menjadi sebuah bangsa yang kuat. Maka itu mari kita laksanakan sila-sila Pancasila itu dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Gus Ipul juga mengungkapkan kekagumannya terhadap semangat kolaborasi yang ditunjukkan oleh para kepala daerah di Ende dan Provinsi NTT secara keseluruhan. Semangat ini menjadi modal berharga dalam mendukung berbagai program strategis, termasuk penyaluran bantuan sosial yang tepat sasaran.
















